Di ruangan Humas.
Zahra dan Justin baru saja tiba di lantai 20. Selama di dalam lift Justin tidak berbicara apapun ataupun menyaut sepatah katapun. Dia hanya diam membisu seribu alasan. Justin yang sudah mencoba berbicara pun tidak di hiraukan nya."zahra, hey. Are you ok...?" Justin memegang bahu Zahra lembut.
"Ahhh... Ya, kamu ngomong apa tadi?" Zahra langsung tersadar dari lamunannya.
"Kamu sakit?" memerhatikan wajah Zahra sudah berkeringat.
"Enggak, enggak kok. Aku baik-baik saja."
"Kalau kamu baik-baik saja lalu kenapa dahimu berkeringat hem." Justin tersenyum kecil, tanpa membicarakan apa-apa lagi dia langsung mengeluarkan sapu tangannya dari dalam saku celana. Mengelap dahi Zahra dengan sangat lembut.
Justin dengan penuh hati-hati dan kelembutan menghapus air keringat itu. Sesekali sorot matanya memperhatikan wajah Zahra dengan sangat lekat. Dug... Jantungnya berdetak kencang secara tiba-tiba.
Zahra tidak berbicara apa-apa, dia mematung menerima perlakuan lembut yang di berikan Justin. Sesekali juga wanita itu memperlihatkan wajah pria yang berdiri tepat di depannya. hingga pada beberapa saat pandangan mereka saling bertemu.
"Zahra ...." suara panggilan Intan dari arah samping sontak saja menyadarkan dua sepasang manusia yang sedang saling bertukar pandangan.
"Agr..." Zahra langsung saja mendorong kecil tubuh Justin, agar menjauh darinya.
Begitupun juga dengan Arya, yang langsung menyimpan kembali sapu tangannya.
"Zahra, ya Tuhan. kamu hampir saja membuat aku mati berdiri." oceh Intan sembari menghampiri Zahra. Memeluk kecil sahabatnya itu.
"Memangnya apa yang telah aku lakukan."
"Kemu tidak melakukan apa-apa. Tapi Bu Dira, dia begitu menyeramkan saat menyuruh kami keluar dari ruang rapat tadi. Dia sudah seperti Mak lampir saja." ketus Intan.
"Hahaha.... Kamu takut sama dia?"
"Zahra jujur sama aku, kamu enggak di apa-apain kan sama Mak lampir itu. Hah, kamu enggak di sakitin kan." Intan memperhatikan setiap sudut tubuh Zahra dengan penuh teliti.
"Heeeyyy, Aku tidak apa-apa."
"Zahra jangan membuat aku khawatir, katakan saja dia mana dia menyakitimu. Biar nanti aku akan membalasnya saat pulang nanti. Akan aku pitak-pitak tu kepala Mak lampir itu. Huuuuu geramnya."
"Hahaha .... Emang kamu berani...??"
"Hehehe enggak sih."
"Dia enggak akan berani nyakitin aku, sebelum dia nyakitin aku. Aku yang lebih dulu memukulnya hak... hak... hak..." Zahra praktek gaya kungfu alay nya.
Justin hanya bisa tersenyum melihat dua sahabat lucu ni. Ia begitu gemas saat melihat kungfu alay Zahra.
*
Di ruangan Varrel.
Laki-laki itu terlihat sibuk dengan laptop di depannya, matanya hanya terfokus pada layar monitor laptop tapi, pikirannya tergiang-giang entah kemana-mana. Sesekali ia berdecak kesal karena tidak fokus bekerja. Hingga ketukan pintu merubah pikirannya.
"Masuk ..." Menyahut dengan nada malas.
Pintu ruangan pun terbuka, terlihat seorang laki-laki tampan berdiri mengembangkan senyumnya penuh di sana.
"Hey brother." Rama dengan langkah panjang menghampiri Varrel.
"Kamu." Varrel menaikkan alisnya, teryata tamu tak di undang datang.
"Kenapa terkejut lihat gue datang. Gak suka loe lihat gue datang heh." cerocos Rama langsung merebahkan tubuhnya di sofa.
"Udah tau nanyak. Gue lagi males, lihat muka loe bertambah males."
"Awas nanti lama-lama ntar jatuh cinta lagi sama gua, sebenarya gua juga malas ke sini, keyek enggak ada kerjaan aja."
"Kalau lu mau cari cewek jangan disini mending di tempat lain aja. Ini kantor bukan tempat biro jodoh?" Ketus Varrel.
"Ye, enak banget lu ngomong sama sahabat lu sendiri. Bukanya di doain!"
"Gak akan." ketus Varrel.
"Ye elah, punya kawan gitu amat."
*
Di ruangan Humas.
Zahra sedang sangat sangat sibuk memperbaiki laporan yang di tolak Varrel tadi pagi. Ia dengan penuh hati-hati mengerjakannya. Justin tersenyum puas saat memeriksa hasil kerja Zahra sudah tertuntaskan dengan sempurna.
"Selesai." guma Zahra sembari bernafas lega.
"Aku kagum laporan yang kamu buat benar-benar sangat rapi." puji Justin sembari tersenyum kecil.
"Justin makasih ya, udah mau bantuin aku dan juga kamu tadi udah nolongin aku di ruangan rapat tadi." ucap Zahra.
"Sama-sama. Bukankah sudah kewajiban, aku sebagai senior membantu junior."
"Hehehe ... Iya, harus bantu, kalau gitu aku ke ruang Presdir dulu ya. Mau menyerahkan berkas ini. Kalau enggak dia bakal merepet lagi nantinya, kayek bebek enggak di kasih makan."
"Emmm. Enggak makan dulu, ini udah waktunya makan siang Lo."
"Nanti aja, aku kasi berkas ini dulu setelah itu baru nyusul. Kalian duluan aja." sembari berlalu meninggalkan Justin yang masih menatap dirinya hingga hilang dari pandangan.
"Sepertinya aku menyukaimu Zahra, kamu adalah wanita yang berbeda. Aku harap kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku." Batin Justin.
Di lantai lima puluh Dira baru saja masuk ke dalam ruangan Varrel, setelah sesaat ia memerintah Sinta untuk membersihkan ruangannya sudah seperti kapal pecah dan juga melarang siapapun masuk kedalam ruangan Presdir. Wanita itu mengernyit saat mendapati Rama sedang bersantai di sofa.
"Loh, Ram, kamu disini?"
"Yoi." sahut Rama dengan santai.
"Kalau gitu kebetulan, yok kita makan siang bareng." ajak Dira.
"Kalian aja, aku lagi males." Varrel menatap sekilas Dira.
"Kamu habis nangis Dir, kok mata kamu bengkak kayek gitu." Rama antusias, langsung berdiri menghampiri Dira. Teryata laki-laki itu sudah dari tadi memperhatikan wajah Dira, yang nampak bengkak.
Varrel yang kala itu mendengar pun juga ikut melirik ke arah Dira. "Benar kamu nangis...??" kini pertanyaan itu di lontarkan oleh Varrel, tanpa bergeming dari tempatnya.
"Eehhhh .... Enggak kok. Ini cuma kelilipan aja tadi." Dira berusaha menutup-nutupi, ia tidak mau orang lain sampai tau kesedihannya apalagi Varrel.
"Makannya hati-hati, kebiasaan kamu." cetus Rama kembali duduk di atas sofa.
"Bagaimana kalau kita makan di sini saja. Aku akan memesan makanan di luar." tawar Dira memecah keheningan yang terjadi sesaat.
"Ide bagus, pesen aja. Gue juga lagi males makan di resto. Mending pesan aja kita makan sama-sama di sini."
"Eeeehhhh... Emang ruangan ku ini restoran apa." sahut Varrel cepat, ia tidak mau konsentrasinya hilang gara-gara dua sepasang manusia di depannya ini.
"Ya elah Rel, ini pertama kalinya gue, nginjak kaki di ruangan Lo. Masak Lo segitunya sama gue." celoteh Rama.
"Kalau gitu aku keluar sebentar." ucap Dira.
"Udah pesan aja Dir, enggak usah dengerin omongan Varrel. lagian gue cuma sebentar di sini. Habis itu minggat."
"Ok."
Zahra baru saja keluar dari lift, wanita itu dengan perasaan campur aduk berjalan ke arah ruangan Presdir. Ya, entah kesal atau takut bertemu Varrel nantinya. Kalau di tanya tentu saja dia masih kesal dengan sikap Varrel semalam. Mabuk bersama wanita lain. Tapi ini di kantor, dia dan Varrel hanyalah sebagai atasan dan bawahan.
Dengan gaya malas Zahra mendekati ruangan Presdir, ia hendak melayangkan ketukan pintu tapi Sinta sudah lebih dulu menghentikannya.
"Nona Zahra" ucap Sinta.
"Mau ketemu pak Varrel." sahut Zahra malas.
"Tidak boleh. Pak Varrel sedang sibuk sekarang, dia tidak boleh di ganggu." cetus Sinta santai.
"yang enggak boleh masuk itu orang lain, aku ini Istrinya, istri sahnya." Zahra sedikit menekankan kata-katannya.
"Tapi tetap saja, disini itu kamu hanya anggota humas biasa jadi jangan pede gitu. Ini sudah peraturan kantor." Sahut Sinta
"Tolong menyingkir saya ingin bertemu pak Varrel sekarang juga." pinta Zahra memaksa menerobos masuk.
"Tidak bisa. Ada lebih baiknya anda kembali keruang humas atau? Bukannya ini sudah jam makan siang" Sinta berusaha sekuat tenaga menghadang Zahra.
"Kalian..." Dira mengernyit sesaat setelah ia membukakan pintu dan mendapati Zahra sedang menerobos masuk.
"Bu Dira" kata Sinta.
"Maaf Bu, saya sudah berusaha melarang wanita itu masuk. Tapi dia tetap bersikeras ingin masuk kedalam." cetus Sinta, tersenyum licik.
Habis kau w*************a, tamatlah riwayat mu sekarang.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Dira dengan nada angkuhnya.
"Ck... Mau saya di sini di sana itu bukan urusan anda." ketus zahra.
"Apa, kau katakan." Sinta menatap tajam ke arah zahra. Namun tidak membuat Zahra gentar sama sekali.
"Pergi, Varrel lagi tidak bisa di ganggu." ucap Sinta
"Kalau saya tidak mau, anda mau apa...??"
"Wanita rendahan, kamu tidak dengar perintahku hah." Dira menatap buas.
"Tidak, karena perintah anda sama sekali enggak berlaku buat saya." kembali berjalan menerobos masuk.
Hingga terjadilah adegan dorong mendorong. Di dalam ruangan Varrel dan Viki menaikkan kedua alis mereka saat mendengar suara keributan. Langsung saja kedua laki-laki itu bangkit dari tempatnya bergegas memeriksa.
Pintu pun terbuka, Dira yang menyadari pintu terbuka langsung saja berpura-pura terjatuh di lantai. "Aaaaaa...." drama di mulai.
"Aaaaaa....." Dira memekik keras sembari memegang perutnya.
"Dira." suara Varrel bersamaan dengan Rama.kedua laki-laki itu langsung berlari menghampiri Dira yang sudah pingsan.
"Ayo Varrel gendong aku, perlihatkan pada istrimu kalau aku adalah wanita yang paling kamu pedulikan. Hahaha kamu memang boleh memiliki raga Varrel tapi aku yang akan memiliki hatinya. Sebentar lagi kamu pasti akan di depak keluar oleh suamimu sendiri hahaha." batin Dira tersenyum puas
**
"Dira bangun." Varrel dan dan Rama secara bersamaan memukul pelan bahun Dira, mencoba menyadarkan wanita itu.
"Bu Dira" Sinta juga antusias.
Sementara Zahra hanya berdiri mematung di tempat tanpa merasa bersalah sedikitpun. Melipatkan kedua tangannya di belahan d**a lalu menyanyikan drama palsu yang di buat stok.
Varrel melirik sekilas Zahra lalu pandangannya langsung kembali teralih pada Dira yang masih berusaha di bangunan kan.
"Ram tolong bawa air minum ke delam." tutur Varrel.
"Baiklah." Kata Rama dengan sigap mengendong tubuh Dira dan membawanya masuk ke dalam ruangan Varrel. Juga di ikuti oleh di belakangnya.
Varrel merasa tak habis pikir apa yang sebenarnya terjadi, kini dia dengan tajam menatap ke arah istrinya. Sembari melangkah secara perlahan-lahan.
"Apa yang kamu lakukan hah?" Varrel menatap buas ke arah ke arah Zahra.
"Siapa yang menyuruhmu datang ke sini hah. Apa aku memanggilmu. Beraninya kamu membuat keributan di ruangan ku. "Varrel berbicara dengan suara meningi tatapan tajam masih di layangan olehnya. Bahkan kali ini lebih menusuk dan menajam.
"Mas." Zahra menggeleng-gelengkan kepalanya, ia merasa seperti mimpi buruk mendengar perkataan Varrel barusan. Semua perkataan itu benar-benar menyakitkan menusuk kedalam lubuk hatinya. Perkataan macam apa ini, pantaskah seorang suami berbicara seperti itu dengan istrinya. Mata Zahra mulai berkaca-kaca.
"Jangan coba-coba memanfaatkan air matamu itu untuk meluluhkan hatiku."
"Kalau sampai Dira kenapa-kenapa aku tidak akan segan-segan menghukum dirimu. Perbuatanmu ini tidak bisa aku maafkan." sambung Varrel lagi. Setelah itu berlalu pergi ke ruangannya.
Sementara Zahra masih berdiri mematung. Bendungan air mata pun langsung terjatuh, membasahi pipi mulusnya itu.
"Kamu menyakitiku hanya karena wanita itu." Zahraberguma. Dadanya terasa sesaat saat mengingat kembali perkataan apa yang di ucapkan Varrel tadi. Sekarang Zahra sadar kalau dirinya kini telah benar-benar jatuh cinta pada Varrel. Dengan nafas berat dan air mata yang bercucuran, Zahra berjalan gontai ke arah lift.
"Kalau emang itu yang kamu inginkan, aku tidak akan pernah ke lantai ini lagi mas." suara Zahra terdengar sangat parau, sebelum sesaat pintu lift tertutup sepenuhnya.
"Maafkan aku sayang, kamu harus kuat. Aku harus membuat kamu kuat agar kamu bisa menghadapi mereka!" Batin Varrel.
*
"Bagaimana? apa Dira sudah sadar?" tanya Varrel.
"Belum. Aku takut penyakit lambungnya kambuh." Rama semakin khawatir, dia masih saja mengoyakkan pelan tubuh Dira. Namun belum juga ada tanda-tanda kalau Dira akan terbangun.
Dira yang mendengar kalimat dokter pun sontak saja membukakan cepat matanya, di benar-benar sangat takut mendengar kata dokter apalagi suntikan. Dira bukanlah wanita pemberani seperti perannya di novel ini. Melainkan dia wanita yang sangat ketakutan jika mendengar sesuatu yang menyangkut rumah sakit.
"Bu Dira." Sinta bernafas lega. Wanita itu dengan cepat berlari mengambil gelas berisi air putih, yang terletak di atas meja kerja Varrel. Lalu menyodorkan gelas itu pada Dira.
"Dira, kamu hampir saja membuat aku takut setengah mati." oceh Rama kesal, sekaligus senang karena karena sahabatnya sudah sadar.
"Biarkan Dira minum dulu." pinta Varrel, juga ikut bernafas lega. .
"Bagaimana? Apa masih sakit?" tanya Varrel.
"Sudah baikan. Rel, aku takut." Dira tiba-tiba saja beranjak bangkit memeluk Varrel sangat erat.
"Dia ingin mengusirku dari kantor ini. Dia bilang aku adalah w*************a hik... hik... Aku sangat takut Rel kalau dia akan menyakiti ku lagi."
Varrel hanya dia tidak menyahut apa-apa. Laki-laki hanya membalas pelukan Dira.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Rama pada Sinta.
"T-Tadi ada ---"
"Dira hanya kepleset." suara Varrel memotong pembicaraan Sinta, yang hendak menyebutkan kalau Zahra anggota humas telah berani mendorong Bu Dira, orang kedua kedudukan tertinggi di perusahaan ini.
"Bagaimana lu tau??"
"Sudah jangan bahas ini lagi, lagi pula tidak terjadi hal yang serius." Tegas Varrel sembari merenggangkan pelukannya.
"Sial, Varrel masih saja membela wanita itu." Batin Dira
"Cepat Kembali ke tugas kalian masing-masing."
*
"Di mana Zahra, kenapa belum sampai juga. Waktu makan siang hampir habis." keluh Intan sudah mulai bosan duduk diam tanpa melakukan apapun, apalagi perutnya sudah keroncongan sadari tadi.
"Boleh aku minta nomor ponselnya." pinta justin mulai khawatir takut telah terjadi sesuatu.
"Emmm. Sebentar." Intan mengambil ponselnya berada dalam tas. Lalu mencari nama zahra, setelah itu baru menyerahkan pada Justin"Ini."
Justin dengan tidak sabar memasukkan nomor ponsel zahra ke dalam ponselnya. Setelah selesai barulah ia menghubungi zahra.
Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, mohon untuk menghubungi beberapa saat lagi.
"Tidak aktif." Zahra berdecak kesal.
"Apa? tidak aktif. Tidak mungkin, setau aku zahra bukan orang yang suka mematikan ponselnya. Biasanya dia hanya menghidupkan mode diam kalau emang tidak mau di ganggu. Tidak sampai harus mematikan ponsel segala." Intanjuga mulai khawatir.
"Itu tandanya dia dalam bahaya." Justin dengan tergesa-gesa bangkit dari kursi dan berlari keluar.
Intan yang merasa di tinggal pun juga ikut menyusul Justin. "Justin tunggu."
*
Zahra baru saja memasuki pakarangan rumah, setelah sesaat Bi Ani membukakan gerbang masuk. Dengan mata bengkak dan Isak ingus. Zahra berjalan gontai masuk kedalam rumah. Ya, karena setelah turun dari lift zahra memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia ingin menenangkan dirinya di rumah saja.
Bu Zahra yang melihat situasi Zahra seperti itu pun panik tak tertentu. Wanita tua itu langsung saja menghampiri majikannya. "Non. Apa Non baik-baik saja...??"
"Bi ..." suara zahra parau, tangisanya kembali pecah, ia tidak bisa menahan dirinya saat melihat mode. Justin memeluk Bu Ani dengan sangat erat. "Hik... Hik..."
"Non." Bi Ani melihat majikannya menangis pun terbawa suasana, wanita tua itu menggosok-gosokkan punggung zahra dengan sangat lembut.
"Aku tau, aku yang salah. Aku yang tidak ingin pernikahan ini di ketahui bayak orang. Hik... hanya belum siap menikah muda Bi... Tapi kenapa dia menyudutkan ku Bi huaaaa..."
"Non yang sabar. Setiap rumah tangga pasti ada aja masalah. Non harus siap dengan itu, Non harus bisa menghadapinya. Jangan biarkan orang lain berhasil masuk ke dalam rumah tangga Non." Bi Ani ikut menagis.