Dinner tengah malam

1023 Kata
POV Zahra. Aku terbangun saat kusadari suasana sudah gelap, aku menggeliat beberapa kali diatas tempat tidur. Samar-samar aku melihat kearah dingin ternyata sudah jam delapa malam, beruntung diluar ada lampu otomatis jadi ada sedikit cahaya yang masuk dari sela-sela jendela. Aku merasa ada sesuatu yang berat dibutuh ku. Teryata tangan Varrel memelukku bahkan nafasnya pun sangat jelas terdengar didaun telingaku menghembus pelan mengenai rambutku. Dia sepertinya tidur pulas, apalagi semalam dia pulang terlambat dan melakukan adegan panas selepas itu ke kantor apa enggak lelah, kalau aku pasti sudah teler. Pelan-pelan aku menurunkan tangan Varrel dari perutku, aku tidak mau membuatnya bangun. Tiba tiba saja aku kembali teringat akan perkataan Varrel beberapa jam lalu, dia mengatakan kalau aku miliknya dan akan selamanya menjadikan miliknya. Entah kenapa perkataan itu membuat detak jantungku berdetak kencang berdebar. Aku tersenyum senang. Serasa ada hal bahagia yang dilakukannya padahal dia hanya mengatakan hal sepele kalau dibilang. Sebelum turun aku memperhatikan baik-baik wajah suamiku. Kelopak matanya sangat Indah, alisnya tebal dan tajam bibirnya yang seksi serta hidungnya yang mancung. Dia begitu tampan, bahkan lebih tanpa saat dia tertidur. Puas memandangi wajahnya Varrel aku mencium pelan pipinya. Astaga apa yang telah aku lakukan. Aku menyentuh bibirku pelan. Beraninya aku melakukan itu, tapi ah sudahlah lagian dia tertidur tidak akan tau juga. Pelan-pelan aku turun dari ranjang berjalan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Menghidupkan lampu kamar supaya terang lalu menghidupkan lampu di setiap ruangan. Ini pertama kalinya Varrel pulang awal Kerumah sejak kami menikah dan ini juga pertama kalinya aku akan makan makan malam dengannya setelah tadi makan siang. Aku berharap dia akan selalu pulang awal dan menyisihkan waktunya untuk dirumah. Aku kedapur, selesai menghidupkan semua lampu. Aku berniat membuat rendang dan sup daging sapi. Karena kebetulan aku berbelanja, membeli sekilo daging sapi. Memang rencanya awal aku ingin membuat rendang. entah Varrel nantinya bakal suka atau tidak tapi sekarang jujur aku sangat ingin membuat rendang. Semoga saja dia menyukainya. Kuambil kan daging sapi yang sudah aku potong-potong dalam lemari es lalu merendamnya dengan air. Supaya tidak beku lagi. Sambil menunggu aku menyiapkan semua bumbunya. Sebenarnya memasak adalah hal yang sangat mudah bagiku. Karena sejak SMP Mama selalu mengajariku memasak. "Ayolah sayang, bantu Mamak masak. Sekalian kamu belajar, supaya nanti saat kamu sudah menikah kamu tidak akan membuat suamimu lapar" begitulah kata Mama yang selalu membujukku untuk menemaninya masak. Aku terus berkutik di dapur hampir satu jam lamanya, siap menuangkan bumbu dan daging, sembari menunggu matang aku menyiapkan sup daging sapi siapa tau kalau Varrel tidak suka rendang buatan ku dia bisa memakan sup nantinya. Tanpa sadar kini waktu semakin berlarut, dan aku-pun tidak menyadari keberadaan Varrel yang sudah berada dibelakang ku entah sejak kapan. Tapi yang aku tau sesuatu tangan memelukku pelan dari dari belakang. Menyandarkan kepalanya di leherku, seiklas ia mengecupnya pelan. "Kamu sudah bangun?" tanyaku pada Varrel. Ya sudah pasti itu tangan Varrel mana mungkin juga kan orang lain masuk kedalam rumah ini. "Hm, aku tidak bisa tidur tanpa ada kamu di sampingku!" Jawabnya untuk kesekian kalinya lagi dia mencium leherku. "Jangan begitu, aku geli?" Kataku beberapa kali. "Tapi aku suka, tubuhmu wangi sayang!" Ujarnya hanya dalam hitungan detik jantungku sudah bergetar hebat. Selengkapnya dia suka sekali melihat aku tersiksa seperti ini. "Varrel hentikan, sungguh aku geli!" Kataku lagi namun hasilnya juga tetap sama Varrel sama sekali tidak melepaskan ku. Malah sebaliknya dia malah semakin memelukku erat. "Kamu masak apa?" Tanyanya masih dengan posisi yang sama. "Rendang, kamu suka? Kalau kamu tidak suka kamu bisa makan sup ini nantinya. Aku segaja membuatnya agar kamu bisa memilih. "Hm suka, aku menyukai semua makanan yang kamu buat. Termasuk dirimu, aku sangat menyukainya?" Bisik Varrel mengigit daun telingaku pelan. "Varrel hentikan, biarkan aku menyelesaikan pekerjaan ku dulu. Kamu cepat sana mandi dulu. Aku akan menyiapkan kamu makan malam. Setelah itu kita makan sama-sama." Tawarku, kulihat Varrel mengangguk pelan sebagai jawaban. "Baiklah kalau begitu aku mandi dulu. Atau kamu mau menemaniku mandi." Hahhhh Benar-benar tidak malu. "Oh ayolah sayang. Kita mandi bersama, kita selama ini belum pernah mandi bersama kan. Jadi ayo jangan menolakku!" Lagi-lagi, berkata Fina yang tidak bisa diubah. "Tapi aku malu Varrel!" Ucapku ragu-ragu. Varrel terkekeh kecil mendergarnya. "Malu? Untuk apalagi malu, aku sudah melihat semuanya dan juga mencicipinya." "Tapi, ---" belum selepas Luna berbicara di pria memotongnya Dia membalik wajahku agar berhadapan lalu baru setelah berkata. "Tidak ada kata malu dalam hubungan suami istri zahra. Jadi jangan pernah malu lagi ok." Setelah semua makanan matang teryata Varrel benar-benar membawaku ke dalam kamar mandi dia menurunkan aku diatas bak mandi. Dia pun tanpa ragu-ragu melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya.ya kini Varrel sudah bertelanjang bulan bahkan aku dengan sangat mudah melihat sesuatu yang besar dan panjang bergantung bukan main disana. Spontan aku menundukkan kepalaku, Varrel benar-benar ingin membuat aku mati muda. Jantungku, please jangan copot ayolah dia hanya menguji kamu saja. "Sayang jangan menunduk seperti itu, Kamu malu Hem, malu melihat tubuhku yang polos ini. Bukankah semalam kamu juga sudah melihatnya!" Katanya rasanya aku ingin berteriak memakinya sekeras mungkin. Aku merasakan Varrel sudah diatas ku. Dan kalian tau apa yang terjadi selanjutnya, tentu saja kejadian seperti semalam terulang lagi. Dia benar-benar sudah gila, tidak puas dikamar mandi dia membawaku kedalam kamar melanjutkan apa yang dia mau. Hahhhhhh ..... Dengan nafas yang sangat berat dan tubuh sangat lelah aku berusaha turun dari ranjang. Namun karena sesuatu yang sangat nyeri aku rasakan diarea sensitif ku. Aaagggrrr .... "Varrel ...." Persetan dengannya mengabiskan waktu yang tiga jam lamanya. Dia benar-benar membuat seluruh badanku rumuk tak tersisa. "Sayang jangan bangun, tetaplah disitu. Aku akan membawaku kamu makanan. Tunggu sebentar!" Katanya dari balik pintu dan benar saja tak lama kemudian dia datang dengan nampak berisi nasi, rendang, dan sup. "Hehehe, sayang maafkan aku, rendang dan sup nya sudah dingin!" Varrel menampakan gigi putihnya yang berjejer rapi. "Kenapa tidak dipanaskan lagi. Kan bisa?" Tanyaku. "Aku lupa sayang!" dengan santainya dia menjawab seperti ini. Hahhhhh Aku hanya bisa memanyunkan bibiku kesal kepadanya tapi apa boleh buat. Jujur aku juga menikmati sensasi panas yang kami lakukan tadi, namun aku tidak berani menampakannya. "Sayang kenapa kamu melamun? Ayo makan!" Kata Varrel membuyarkan lamunanku. Dia benar-benar mengesalkan bukan. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN