mulai bekerja

1023 Kata
Satu hari berlalu setelah Zahra mendaftar diri bekerja di perusahaan global grup. Tidak disangka Zahra secepat itu diterima dengan mudah. Intan, yang mendengar kabar Luna diterima terkesiap bukan main. Bagaimana tidak, dia saja dulu hampir dua Minggu baru mendapat email dan besoknya baru bisa bekerja, sedangkan Luna. Hanya dalam satu hari berselang sudah berhasil mendapatkan email. "Tan, kamu main pelet ya?" "Main pelet, maksudnya?" "Ya, Lo bisa keterima secepat itu. Apalagi coba kalau bukan main pelet. Jujur samaku!" "Main pelet gigimu suek. Mana ada aku main begitu-begituan, kalau pun aku awal keterima itu berarti rezekiku. Dan lagi katamu mereka lagi membutuhkan karyawan baru kan, jadi wajarlah kalau aku diterima cepat!" "Iya, sih kamu benar, tapi---" "Tapi, tapi, tapi apaan. Ingat, besok, bantuan aku keruangan HRD. Aku enggak tau dan seumur hidupku ini baru pertama kalinya aku dayang ke kantor. Jadi, kamu harus membantuku besok ok!" "Hmm, siap buk bos. Besok aku akan menemanimu!" Begitulah kira-kira perdebatan kecil antara Zahra dan Intan tadi malam. Pukul setengah sembilan pagi Zahra sudah tiba di perusahaan global grup. Salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, dan juga perusahaan yang sangat berpengaruh sekaligus paling di takutin. Banyak orang yang menginginkan bekerja disana, bukan hanya dari gajinya yang begitu besar melainkan juga fasilitas yang diberikan sangatlah mengiyurkan. Mulai dari mobil, tempat tinggal dan uang Tunjungan perbulan. Tidak heran sekali, lowongan kerja di perusahaan itu begitu sempit dan sangat susah sekali. Zahra menarik nafasnya dalam-dalam, ia baru saja tersadar lupa mengabari Varrel kalau sekarang ia akan bekerja. Padahal niatnya semalam sangat ingin memberitahu suaminya itu. Tiba dimeja resepsionis Zahra, langsung di arahkan keruang HRD sesuai instruksi yang di Intan. Ya, wanita itu sendiri yang menjemput sahabatnya dengan suka cita. "Ra, itu ruangan HRD-nya. Kamu masuk sendiri aja, ya. Soalnya aku enggak bisa menemani kami. Ada proyek luar negeri yang harus aku isikan, kalau tidak Bu Dira pasti akan memarahiku nantinya!" ucap Intan setelah mereka tiba tepat di ruangan yang jelas tertulis HRD. "Oh, baiklah. Gak apa-apa, aku bisa Kok. Thx udah menemaniku." sahut Zahra. "Yoi bro, jangan lupa nanti gajian pertama traktir aku makan. Ok!" "Siap aman, semoga saja aku lulus dan besok bisa bekerja!" "Aamiin, dan sana masuk. Nanti Bu Imelda kelamaan nungguin kamu disini," ucap Intan lagi. "Hm, sekali lagi thx!" Setelah Intan benar-benar pergi dari sana. Zahra, menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menghirup udara dengan rakusnya. Jujur, ini dalam pertama kalinya Zahra, melamar kerja, rasa takut dan gugup tentu saja meliputi dirinya sekarang. Entah kenapa Zahra merasa tidak yakin dengan dirinya sendiri. Semoga saja aku bisa' pikir Zahra sebelum sesaat ia akan mengutuk pintu berlapis kaca putih yang sudah blur itu berada dihadapannya. Tok Tok Tok "Masuk!" Suara sahutan izin dari dalam. Zahra, memejamkan kedua bola matanya sesaat lalu dengan percaya dirinya yang kuat kalau ia pasti bisa. Memegang handle pintu dan langsung membukanya. "Permisi, saya Zahra. Yang menerima lamaran kerja email semalaman!" kata Zahra. Spontan seorang wanita yang umurnya kisaran tiga puluh dua tahun menoleh kearahnya. Lalu senyuman kecil terukir disudut bibirnya yang merah tua. "Oh, silahkan duduk!" tintah Imelda. Ya, namanya Imelda sesuai nama apa yang diucapkan oleh Intan tadi dan lagi sebuah papa nama bertuliskan Imelda di atas meja membenarkan apa yang dikatakan Intan. "Iya, terimakasih!" ucap Luna pelan lalu menutup pintu kaca itu kembali. Setelah itu menarik salah satu kursi kosong didepan wanita itu. "Hm, baik, boleh saya lihat berkas lamaran kerja kamu?" tanya Imelda dengan sopan santun. "Iya," tidak membiarkan Imelda menunggu Zahra segera memberikan berkas lamarannya. Dengan teliti Imelda membaca saksama apa yang tertulis disana didalam hati. Setelah melihat, dan teryata isinya begitu memuaskan apalagi Zahra merupakan wanita yang memiliki prestasi dalam universitas yang ia tuntut dulu di Pakistan. "Ok, baik. Nona Fatia Azahra, saya panggil apa ini?" tanya Imelda. "Zahra saja Bu!" Jawab Zahra cepat. "Baik, Nona Zahra. Boleh saya interview sekarang ya" pertanyaan itu mendapat anggukan cepat dari Zahra. *** Tiga puluh menit berlangsung diruang HRD, akhirnya Zahra bisa bernafas lega juga. Setelah melewati masa-masa yang sangat ia takutin tadi. Sempat berpikir ia akan ditolak. Tapi nyatanya tidak sama sekali, Zahra keterima sebagai anggota humas di bagian B. Seakan tidak sabar, Zahra segera mengabari sahabatnya itu secepat mungkin. "Halo, Ra. Bagiamana? Kamu diterima kan? Kamu enggk ditolak kan?" Suara pertanyaan terdengar buru-buru dilontarkan oleh sahabatnya diseberang sana. "Iya, Tan. Aku diterima!" Balas Zahra. "Yes! Yes yes!" Suara gembira terdengar disana. "Makasih ya, mungkin ini berkat doa kamu akhirnya aku diterima!" "Berkat kamu juga yang sudah berusaha. Hmm tapi btw, kamu kapan masuk kerjanya?" "Hari ini langsung. Ni, aku sebentar lagi kau di antara oleh Bu Imelda ke ruangan humas!" "Wau, kamu hebat Ra. Langsung bisa bekerja disini. Aku akui kamu benar-benar hebat. "Ok, kalau begitu aku tutup dulu ya. Soalnya Bu Imelda ni sudah siap dan mau antar gue langsung!" "Oh ok. Baik, see you!" "Bu Zahra, mari saya antar ke ruangan humas!" Ucap Bu Imelda yang datang menghampiri Zahra. "Eh, iya Bu." *** "Permisi, hadirin sekalian. Perkenalan ini Bu Zahra, dia adalah anggota humas baru bagian kontribusi dan instruktur Nasional. Jadi Ibu harap kalian bisa berteman dengannya dengan baik!" Kata Imelda berada di ruangan Humas. Spontan para anggota humas langsung melirik kearah Zahra. Sebagian dari mereka menatap minat ke arah Zahra. Terutama bagi laki-laki. "Hai semuanya, selamat pagi. Mohon bimbingannya." Ucap Zahra penuh hormat. "Bu, Zahra. Silahkan duduk di tempat anda. Disana kursi kosong di samping meja Justin." Kata Ibu Imelda, Zahra menganggu paham. "Terimakasih Bu!" "Sama-sama, kalau ada yang enggak kamu paham kamu bisa bertanya sama Justin. Dia nanti akan menjelaskannya kepada kamu!" kata Imelda lagi lalu pergi kembali menuju ruangannya. Ruangan humas bagian B Zahra, langsung duduk di kursi yang ditunjukan oleh Bu Imelda tadi, dengan rasa percaya diri kuat Zahra duduk disana. Seorang laki-laki yang tak jauh dari mejanya menghampiri, laki-laki yang diketahui namanya Justin. "Hm, hai! Kenalkan, namaku Justin!" ucap Justin menjulurkan tangan kanannya. "Hm, hai juga. Namaku Zahra!" Balas Zahra menjabat singkat tangan Justin. "Kalau ada apa-apa yang tidak kamu mengerti, kamu bisa bertanya kepadaku. Ok, jangan sungkan-sungkan!" mata Justin senyuman indah tersungging indah di bibirnya. "Iya, siap. Nanti saya pasti akan bertanya!" "Hm, ok. Kalau begitu selamat bekerja!" "Kamu juga, selamat bekerja!" Bersambung .....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN