Rama dengan penuh lembut kembali menindih Sinta, mengangkat kan kedua paha putih mulus Istrinya lalu meletakkan kedua paha putih itu di atas pundaknya.
Setelah itu secara perlahan-lahan ia mencoba membukakan pintu nikmatnya surgawi yang tiada tara itu.
"Sayang mungkin ini agak sedikit sakit tapi tahanlah, nanti sakitnya akan menjadi nikmat." ucap Rama yang mendapat anggukan dari Sinta. Ia sudah terbiasa dengan sakit ini, karena tesntu ini bukan kedua kalinya ia rasakan setelah di pesawat saat itu.
"Aaahhhkkk..." Sinta menjerit bukan main saat benda tumpul itu berhasil masuk kedalam surga dunia. Kedua tangannya meremas kasar sprei bewarna putih cerah itu, diikuti kepalanya yang terperangah ke atas karena menahan rasa nyeri.
***
Kantor polisi ibu kota.
Tepat pukul tiga sore Sinta menginjakkan kakinya disana yang di dampingi Rama tentunya. Ya, semenjak kejadian kemaren Rama sudah bertekad akan menjaga Sinta. Dan mengantarkan kemanapun calon istrinya pergi.
Tanpa sengaja Sinta bertemu dengan seorang polisi yang cukup ia kenal. Edy, merupakan seorang polisi berumur 31 tahun. Pria yang menangi kasus kematian misterius Ibunya beberapa tahun lalu.
Ya, baik meninggalkan ibunya Sinta hanya memiliki ayah saja, dan ayahnya orang tempramental. Maka dari itu, sering kali lah keluarga varrel memberikan dia bala bantuan, selama ia menuntut ilmu.
"Nona, kita ketemu lagi!" kata pak Edy dengan senyuman singkat tersungging di bibirnya.
"Iya, kita ketemu lagi. Bagiamana keadaan bapak, baik?" tanya Sinta juga ikut tersenyum ramah.
"Alhamdulillah baik! kesini mau bertemu tuan Tama?" sebuah anggukan cepat dilakukan Sinta, ya. Tujuan utamanya kesini ingin menjenguk Papanya.
"Cukup menghawatirkan, beliau selalu menyebutkan nama anda dan istri beliau saat setiap saat!"
"Apa Papa saya sakit?" Tanya Sinta raut wajahnya langsung berubah menjadi khawatir.
"Sayang, Papa kamu baik-baik saja kok! Kamu tenang ya!" kata Rama lembut mengenggam erat tangan Sinta.
"Kita bicara didalam saja ya, tidak baik bicara disini! Mari!" Ajak pak Edy penuh hormat masuk kedalam ruangannya.
Sinta menarik nafasnya dalam-dalam, ia merasa takut sendiri berita apa yang akan di sampaikan oleh pak Edy, Sinta sangat berharap kalau itu bukanlah berita buruk, sungguh Sinta tidak sanggup mendengarnya.
"Sayang, percayalah padaku. Papa kamu akan baik-baik saja. Aku janji!" Kata Rama lagi kini dirinya berada dihadapan Sinta, mengecupkan kening wanita itu singkat.
"Bagaimana kalau itu kabar buruk, Ram. Aku takut, kamu lihat sendiri kan tadi, bagaimana reaksi pak Edy saat mengatakannya. Aku sangat takut ram"
"Sayang, sayang dengarkan aku. Kamu percaya padaku kan, aku berjanji padamu akan membantu Papa kamu. Papa kamu memang seorang kriminal dan bersalah tapi dia juga manusia sayang, sama seperti kita. Jadi tidak mungkin jika mereka membiarkan Papa kamu sakit, aku yang akan bertanggung jawab. Percayalah padaku Sinta!" jelas Rama menyakitkan, sembari memeluk Sinta singkat.
"Apa selama ini kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Sinta sorot matanya memicing.
"Kamu akan tau sendiri sayang, percaya papa kamu baik-baik saja!"
Setelah merasa keadaan Sinta membaik, barulah Rama membawa wanitanya masuk kedalam ruangan pak Edy. Pria paruh baya itu sudah senantiasa menunggu kedatangan Sinta disana.
"Silahkan duduk, tuan Rama, dan nona Sinta!" pinta pak Edi.
"Jadi bagaimana keadaan Papa mertua saya pak?" tanya Rama pelan setelah sesaat ia dan Sinta duduk di kursi tepat dihadapan pak Edy.
"Tuan Tama masih dalam tahap proses penyembuhan. Beliau masih kami rehabilitasi dan kami juga belum bisa mengizinkan siapapun untuk bertemu dulu!" Jawab pak Edy apa adanya.
"Tunggu, rehabilitasi. Maksudnya papa saya harus direhabilitasi. Kenapa? Apa separah itu penyakitnya, sebenarnya papa saya sakit apa?" Potong Sinta nafasnya mulai naik turun mendengar, jujur dia belum paham apa yang sedang mereka bicarakan barusan. Namun mendengar rehabilitasi Sinta langsung teringat mamanya dulu, juga harus direhabilitasi, itu karena gangguan mental, sementara papanya ia masih bingung.
Seingat Sinta dua hari setelah papanya tertangkap polisi atas kasus yang menimpa pak Tama, dan pak Tama baik-baik saja, terlihat seperti biasa hanya raut wajahnya semakin turus dan tubuhnya terlihat kurus sekali. Selepas itulah Sinta tidak menjenguk lagi papanya, ia hanya mendapatkan kabar dari Rama kalau papanya baik baik saja. Tidak perlu yang di khawatirnya.
Pernah beberapa kali setelah pertemuan singkat itu Sinta kembali ke kantor polisi hendak menjenguk papanya, namun pihak polisi tidak mengizinkannya sama sekali. Mereka melarang keras Sinta untuk bertemu, alasan pak Tama harus menjalankan prosedur kantor polisi.
"Sayang, tenangkan dirimu!"
"Katakan Rama. Apa yang kalian sembunyikan dariku selama ini, kenapa kamu tidak pernah memberitahukan ku!"sahut Sinta air matanya mulai berkaca-kaca. Sekarang ia sadar kalau berita yang akan dia dengarkan bukalah berita baik.
"Sinta, sayang--"
"Tolong jelaskan pada saya pak Edy, saya mohon, saya berhak tau mengenai keadaan papa saya, saya mohon jangan menyembunyikan apapun!"
Hufffff
Sebuah nafas gusar dihembuskan oleh pak Edy, pria paruh baya itu menatap lekat-lekat wajah Sinta. Ada sedikit keraguan dalam hati pak Edy namun dia tetap harus mengatakan baik buruk tentang apa yang terjadi dengan tuan Tama. Karena bagaimanapun Sinta berhak mengetahui keadaan papanya.
"Tuan Tama, selain pengedar belia juga pencandu, tuan Tama dinyatakan positif, beliau terinfeksi narkoba jenis sabu-sabu. Beliau sudah mengkonsumsi barang haram itu sudah sepuluh tahun lalu, dan sekarang beliau begitu menderita akan barang itu, tapi anda tidak perlu khawatir nona, karena sekarang tuan Tama, sedang dalam proses penyembuhan.
"Apa?" Sinta menarik nafasnya kuat seakan shok berat mendengarnya, sungguh ia tidak pernah membayangkan kalau Papanya juga termasuk pemakai.
"Anda harus kuat Nona, karena berkat andalan satu-satunya harapan tuan Tama mau merubah dirinya. Beliau begitu menyayangi anda, hampir setiap malam beliau menceritakan tentang anda kepada saya. Beliau berharap suatu saat nanti, beliau bisa membahagiakan putri yang paling ia cintai. Yang paling dia lindungi! Jadi anda harus kuat, bagaimanapun tuan Tama sudah berusaha melawan sakitnya demi kesembuhan agar beliau bisa membahagiakan putrinya!" kata pak Edy dengan suara tenang dan lembut.
Sementara Sinta, sudah menagis terisak sesegukan, ini adalah benar-benar berita yang membuat hatinya seakan hancur mendengarnya. Pecandu narkoba, itu bukanlah hal sepele yang bisa dianggap remeh. Sinta tau betul bagaimana reaksi dan begitu sakitnya seorang pencandu narkoba. Di Amerika sendiri Sinta pernah mempelajari apa itu narkoba.
"Sayang!" Tanpa menunggu Rama langsung memeluk calon istri kuat.
"Kenapa kamu menyebutkan rahasia sebesar ini padaku Rama," Dengan suara isak tangis Sinta bersuara.
"Maafkan aku sayang, tapi aku harus menyebutkan ini padamu, karena itu adalah permintaan Langsung dari Papa kamu. Dia tidak mau putrinya sedih, dia mau putrinya selalu ceria dan bahagia. Selalu menjadi sosok wanita kuat buat keluarga Tama. Sosok wanita yang bisa bertanggung jawab.
Flashback
Dua bulan lalu. Satu hari sebelum tuan Tama di tangkap polisi. Di perusahaan global Grup, Rama kedatangan tamu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tuan Tama meminta izin bertemu dengannya. Mendengar itu dari orangnya tanpa menunggu Rama langsung membiarkan tuan Tama bertemu dengannya. Pria itu terlihat tidak baik-baik saja, sembari memegang sebuah kresek hitam ditangannya lalu memasuki ruangan Rama.
"Tuan Tama! Silahkan masuk!" Kata Rama penuh sopan ia beranjak bangkit menyambut calon mertuanya. Mempersilahkan duduk di sofa yang ada.
"Terimakasih, tuan Rama!" ucap pak Tama terdengar berat ditelinga Rama. Pria itu langsung paham, pasti ada hal sesuatu yang sangat penting ingin disampaikan oleh tuan Tama kepadanya.
"Sama-sama tuan Tama, sebentar saya siapakah anda kopi dulu!"
"Jangan, tidak perlu repot-repot. Saya kesini hanya sebentar!"
Bersambung ....