Pagi harinya, Anna sudah disibukan dengan pekerjaan rumah. Setelah selesai memasak alakadarnya--yang entah bagaimana rasanya--wanita itu bergegas menuju kamar untuk memanggil Rakha. Untuk sarapan, mencicipi masakan yang bahkan Anna sendiripun meragukan bagaimana rasanya. Tetapi biarkan, yang terpenting ia sudah berusaha memenuhi keyakinannya bersama Rakha beberapa waktu yang lalu. "Kau sudah siap?" tanya Anna. Rakha yang tengah berdiri di hadapan cermij, menoleh seraya menganggukkan kepalanya. "Sudah." "Ayok sarapan." Mengangguk kemudian Rakha langsung mengikuti Anna dari belakang. Jangan heran, setelah perdebatan semalam, Anna memang lebih menjaga dan meminimalisir perkataannya kepada Rakha, dengan kata lain ia mendiami laki-laki sialan itu. Iya, Anna marah. Meskipun pada akhirnya m

