Bagian Sebelas || Lucifer

1331 Kata
Pada dasarnya lelaki melindungi wanita bukan karena mereka lemah, Tetapi karena setiap wanita itu berharga.  *** "Kamu harus sering minum obat ya, Dy. Meskipun keadaan kamu udah mulai membaik, tapi kamu masih butuh terapi mengenai Phobia kamu."  Audy mengangguk. Nara melihat Reza yang setia mendampingi Audy setiap Chek up. Audy sangat beruntung mempunyai abang yang peduli dan sayang padanya. Setelah melahirkan, Kinan benar-benar pensiun dari dunia psikiater dan mengalihkan pasiennya pada Nara. Termasuk menangani Audy dan traumanya. Gavin benar-benar melarang Kinan untuk bekerja. Untuk itu, pengobatan Audy sekarang beralih pada Nara. Awalnya Nara sempat menolak karena dia merasa dirinya belum sepantas itu. Masih banyak psikiater handal yang lebih hebat dari Nara, lalu kenapa Kinan malah merekomendasikan dirinya pada kebanyakan pasienya dulu.  Dan alasan yang lebih jelas adalah karena Reza sendiri yang meminta bantuan Nara untuk membantu Audy. Selain mereka saling mengenal, Audy juga turut sering melihat Nara ketika melakukan pengobatan dengan Kinan hingga pastinya membuat Audy sudah tidak canggung lagi.  Audy menatap Nara sendu. "Apa aku bisa sembuh?" Reza mengusap pundak Audy menguatkan. Nara melirik Reza sekilas, "Semua perlu waktu dan butuh proses untuk sembuh Audy. Setiap orang pasti bisa sembuh kalau kalian punya keinginan untuk sembuh. Jadi tetap positif, oke?" "Tapi aku masih takut berdekatan sama laki-laki selain Abang, itu nggak akan mengganggu aktivitas kuliahku 'kan?" tanya Audy penuh harap.  Nara bergeming. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia takut salah bicara, pasalnya.. Keadaan Audy mengenai phobianya sangat memerlukan waktu lama dan butuh penyesuaian diri. Nara meraih tangan Audy sembari tersenyum menenangkan. "Ayo kita sama-sama berusaha. Kamu harus mulai menyesuaikan diri dan aku akan melatihmu agar lebih nyaman di ruang terbuka. Ingin mencoba?"  Audy menggigit bibir bawah nya. "Apa itu membantu?"  Nara mengangguk yakin. "Selama kamu punya keinginan untuk sembuh, aku yakin kamu pasti mampu."  Reza mengusap kepala Audy sayang. "Kamu denger 'kan? Kalau kamu benar-benar ingin sembuh, tidak ada yang tidak mungkin Audy." ucap Reza meremas lembut pundak Audy.  Audy mendonggak. Memeluk perut Reza membenam kan wajahnya. "Dy bener-bener butuh Abang.. Abang jangan ninggalin Dy kayak Papa sama Mama ya, Bang?" cicit Audy pelan. Reza memejamkan mata. Mengelusi kepala Audy pelan.  "Abang nggak akan ninggalin kamu. Abang janji."  Nara melihat mereka bergantian. Meski terlihat baik-baik saja, Reza sebenarnya juga butuh seseorang untuk menguatkannya. Setelah perceraian kedua orangtua mereka, Reza bertanggung jawab penuh atas Audy. Apalagi kedua orang tua mereka tidak tahu mengenai kondisi Audy dan ibu mereka lebih memilih tinggal di luar negeri. Sedang Ayah mereka sudah menikah lagi dan tinggal bersama keluarga barunya.  Reza mengambil banyak peran untuk membantu memulihkan Audy. Reza benar-benar tertekan. Ia juga butuh pelukan di kala ia merasa lelah menjalani harinya. Reza harus menjadi sosok kuat untuk melindungi adiknya yang rapuh.  Pintu ruangan terbuka.  Mereka mengalihkan atensi pada seseorang yang baru saja masuk. Nara menatapnya datar. Reza melirik sinis saat merasakan pelukan Audy semakin erat.  "Biasa aja dong liatnya." cibir Jovan mulai melangkah masuk.  Sejak awal, seorang yang bernama Jovan Arion memang benar cobaan. Lelaki itu bahkan tanpa rasa bersalah hanya mengulas senyum kemudian berdiri di samping Nara.  "Ngapain jam segini udah ngerusuh sih, Van?" kesal Nara membuat Jovan terkekeh.  "Tebak dong."  "Nggak punya waktu."  Jovan menundukkan kepala hingga sejajar dengan telinga Nara, "Gue kesini, karena merindukanmu, Baby."  "Lo tuh, ya!"  Jovan terkekeh geli kemudian mengalihkan atensi. "Hay, Audy.. Gimana perkembangan kamu?"  Audy tidak menjawab, hanya menatap Jovan takut-takut.  "Lo bikin dia kaget setan! Ketuk pintu dulu 'kan bisa." sahut Reza melotot. Jovan tersenyum manis—menatap Reza dan Audy bergantian.  "Sori, sori.. Gue nggak tahu kalo kedatangan gue ngagetin kalian. Maafin abang Jovan ya Dy, mau 'kan?"  Nara menepis tangan Jovan yang bertengger di pundaknya. Mendelik tidak suka ketika Jovan mengerling ke arahnya.  "Lo makin nggak tahu diri! Ini ruang praktik gue.. Hargai pasien gue juga dong."  Jovan mengendik santai. "Kan gue nggak tahu kalau mereka masih disini."  Audy melirik mereka penasaran. "Kalian pacaran?"  Nara melotot mendengar pertanyaan polos Audy.  Jovan merangkul pundak Nara. "Doain aja ya Dy, dokter kamu suka tarik ulur sih, sok jual mahal jadi orang. Jadinya susah di dapetin." jawab Jovan tersenyum miring kearah Nara.  Nara mendengkus. "Amit-amit aku pacaran sama lucifer kayak dia." Audy mengernyit, "Lucifer?"  Nara mengangguk. "Iya, dia 'kan jelmaan iblis berwujud manusia, jadi ya gitu."  Audy tersenyum kecil menatap mereka tertarik. "Tapi kalian beneran cocok. Kenapa nggak pacaran beneran aja?" "Nggak sudi aku sama dia, yang ada bikin darah tinggi kelamaan bareng dia."  Reza terkekeh melihat Jovan dengan tatapan mengejek.  "Kamu tau nggak, Dy? Jadi pengangum bertahun-tahun itu rendah banget, ya? padahal udah di depan mata tapi sok-sok-an gak mau di anggap membutuhkan padahal mah, aslinya emang butuh."  Audy mendonggak. "Kasian banget pasti. Kenapa nggak mau ngungkapin aja, siapa tahu yang ditaksir juga punya perasaan sama kayak dia?" tanya Audy polos. Reza menahan tawa.  "Iya kasian banget. Menurut lo kenapa seseorang itu nggak mau ngungkapin perasaan nya, Van?" Tanya Reza pada Jovan.  Jovan mendengkus melirik Reza sinis. "Setiap orang punya caranya sendiri buat mencintai seseorang. Entah mereka memilih terbuka atau cuma jadi pengangum rahasia, masing-masing dari mereka punya cara melindungi miliknya." balas Jovan datar.  Nara mengernyit. "Kenapa malah bahas orang lain, sih? Audy juga, kenapa nanya yang enggak-enggak."  Reza dan Jovan menatap Nara datar.  'Dasar nggak peka!' pikir mereka.  Audy tersenyum manis. "Aku bakal berusaha semaksimal mungkin. Kapan kita bisa mulai terapi?"  Reza beralih melihat Audy terkejut. "Kamu serius mau coba di ruangan terbuka?" Audy mengangguk.  "Dy nggak akan tahu kalau belum nyoba, Bang. Untuk hasilnya, Audy nggak mau berharap banyak, tapi Dy bakal berusaha buat sembuh biar nggak ngerpotin Abang terus."  "Kamu nggak ngerpotin abang sama sekali. Jangan ngomong kayak gitu. Ini udah tanggung jawab Abang buat jagain kamu. Abang nggak suka denger kamu ngomong gitu." Audy menunduk memilin jemari tanggannya.  "Abang juga butuh pendamping suatu saat nanti. Dy cuma nggak mau terlalu bergantung dan bikin Abang nggak mau cari pasangan karena alasan jagain Audy. Maaf udah bikin Abang marah."  Benak Reza menghangat. Ia tidak menyangka Audy memiliki pemikiran jauh sampai ke sana. Reza merasa terharu dengan itikad baik Audy, namun tetap saja Reza tidak menyukainya. Kemudian Reza meraih kepala Audy dan mendekapnya.  "Sebelum ada yang bisa gantiin Abang buat jagain kamu, selama itu juga kamu adalah tanggung jawab Abang. Jangan pernah merasa jadi beban buat Abang. Abang sayang kamu."  Pelukan Audy semakin mengerat. "Audy juga sayang Abang."  Reza melirik ke arah Nara dan Jovan yang hanya diam melihat mereka.  "Kita pulang ya, " jedanya melihat Nara, "Untuk terapinya, lo bisa hubungin gue kapan waktunya, Ra. Sebelumnya, makasih udah mau nanganin Audy sejauh ini. Gue harap ini bisa berhasil."  Nara tersenyum kecil. "Udah jadi tugas gue sebagai dokter, Za. Audy sering-sering buat hubungi aku, ya. Biar lebih bisa cari alternatif mudahnya."  Audy mengangguk patuh. Berdiri kemudian pamit bersama Reza.  Setelah kepergian mereka. Jovan bersandar pada meja dan menatap Nara serius.  "Apa Audy bener-bener bisa sembuh?"  Nara menyandarkan tubuhnya kebelakang. Melihat pintu yang tertutup dengan pandangan yang sulit di artikan. "Sulit. Tapi gue bakal berusaha lebih buat nyembuhin dia."  "Phobia dia nggak jauh-jauh dari Kinan dulu. Meskipun masalahnya lebih berat Audy, tapi gue lihat.. Penanganannya mungkin hampir sama."  Nara mengangguk membenarkan, "Memang. Tapi lo tahu kan, bahkan Audy udah nangis duluan kalo di deketin cowok, gimana dia mau nyesuain diri kalo rasa traumanya selalu muncul setiap kali lihat cowok asing di dekat dia?" Nara memberi jeda.  "Kinan sembuh dengan cepat karena Gavin bener-bener bisa buktiin kalo cinta nggak seburuk yang dia pikir. Tapi Audy? dia udah terlanjur menganggap laki-laki sekejam dan menakutkan seperti binatang liar yang harus dia jauhin. Gue thau ini bakal butuh usaha extra baik dari gue ataupun dari dia sendiri. " lanjut Nara memejamkan mata.  Baru memikirkan cara apa yang cocok untuk ia terapkan pada Audy saja sudah membuat nya lelah. Ini adalah pr untuk Nara menguji kemampuannya.  Usapan lembut di kepalanya membuat Nara membuka mata. Jovan tersenyum kecil.  "Gue tau lo mampu. Untuk itu, jangan terlalu dipikirin. Lo juga butuh waktu buat menghibur diri lo sendiri selain harus membuat orang lain merasa bahagia dengan hidupnya sendiri."  Nara berkedip dua kali.  "Malem ini, temuin gue di taman deket apartemen lo."  "Ngapain?"  Jovan tersenyum kecil. "Ntar juga lo tahu." jawab Jovan kemudian berlalu keluar tanpa menunggu jawaban Nara.  Nara menghembuskan napas panjang. "Selalu dengan sikap bossy-nya." gerutu Nara melihat punggung tegap itu hilang di balik pintu.  HOPE YOU LIKE!  TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA!  Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya! TANGKYUUU DEAR MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKUN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99  BIG ❣️  '
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN