gue : buset baru juga tidur udh bunyi aja ini alarm, lah jam setengah 7, mampus anying telat gua.
10 menit kemudian setelah mandi ayam
gua : Abi, kembar udah jalan ya?
Abi : iya, mereka udah jalan dari jam setengah 6 tadi, kamu dibangun daritadi iya iya doang
gua : lah bi hamid tidur mana sadar si bi
abi : yaudah makan dulu itu terus jalan kesekolah udah dibuatin sarapan sama umi.
umi : *teriak dari dapur* Hamid makan dulu!
gua : iya Mi!
Abi : kamu pakai Binter abi aja nanti parkir agak jauhan dari sekolahan
gua : oke bi, bi hamid pamit dulu Assalamualaikum! umi hamid jalan dulu
umi : hati-hati nak.
sekitar 20 menitan gua sampe kesekolah dan sialnya anak anak mos udah pada baris dengan memakai pakaian tol*l yg menurut gua itu gak ada faedahnya sama sekali waktu pembelajaran setelah selesai mos.
*ngos-ngosan abis lari dari tempat parkir sampe depan gerbang sekolah*
gua : *hosh* *hosh*
KakGal (kakak Galer eh kakak galak )
kakGal : bagus ya anak baru udah berani beraninya telat *dengan muka yg diserem2in aslinya mah kaga*
gua : sorry kak tadi saya kesiangan abis nyiapin perlengkap..
KakGal : SIAPA YG SURUH LU JAWAB! PUSH UP 20x
gua : lah kak?
KakGal : 30x
gua : oke-oke (bajing*an ini orang kalo diluaran udah gua injek injek lak-lakannya)
beberapa menit kemudian
KakGal : enak? besok diulangin lagi ya, udah sana masuk kebarisan (sambil jalan ninggalin gua)
gua : dasar bocah sinting
setelah masuk barisan yg gatau ini barisan buat apaan dan dengerin kata-kata mutiara dari KepSek dan ketua osis, dan sialnya ketua osisnya si Hasan.
lagi asik-asik bengong liatin bibit unggul tau tau dipanggil sama si i***t.
Hasan : itu yg tadi telat coba maju kedepan!
gua : saya Bang?
Hasan : Bukan! Pak security depan! Ya Kamulah! Sini Maju
gua : iya bang
Hasan : Adek-adek yg kaya gini jangan dicontoh ya, hari pertama udah telat gimana nanti hari-hari berikutnya, jadilah siswa dan siswi yg taat sama peraturan dan menghargai waktu ya
SisBa : IYA KAK!
hasan : sini ikut gua dulu
beberapa menit kemudian dan ternyata gua dibawa keruang osis
hasan : oke, temen-temen ini ada siswa yg dateng telat enaknya diapain ya?
husen : wah calon siswa badung ini mah, suruh lari aja dulu san.
hasan : oke sen, ada lagi yg lain?
KakCan : suruh mintain tanda tangan kesemua pengurus osis aja kak (duh suaranya serek serek bancret)
hasan : oke olin sarannya ditampung, ada lagi?
Pengurus osis : gaada kak!
hasan : yaudah semuanya ngerjain tugas masing2 ya. Mampus lu HUAHAHAHA (sambil bisikin gua)
gua : bgst!
setelah semua hukuman osis kelar dan gua mengetahui beberapa nama pengurus osis yg cantik nan aduhai duuuuh pengen secelup dua jari aja bawaannya , yg pertama ada olin cewe putih berkacamata hasil persilangan Pria asing dan wanita lokal, asli cantik lucu 11 : 12 sama Angelina Danilova (cek ig) dengan postur tumbuh mungil (eh gak mungil juga si untuk ukuran cewe Indonesia) pokoknya pelukable banget, kedua ada Tasya (mukanya mirip Mikha Tambayong) cewe asli Indonesia ini yg belakangan gua tau kalo dia asli Jawa tulen dengan muka manis dan rambut hitamnya yg elusable, ketiga ada Margareth (kalo ini mirip siapa ya? hahahaha) cewe keturunan Manado ini dikaruniai dengan kulit putih berbulu tipis ditangan dan sedikit kumisan dan berjambang (sorry ret, nyatanya emang begitu dari dulu sampe sekarang kan, peace) mempunyai tubuh yg sintal a.k.a semoggg, udah 3 wanita itu aja yg menarik perhatian (kalo dijabarin semua kebanyakan, pak)
bagi yg nanya :
- "bang ini cerita asli?" bukan bro ini cerita khayalan gua dari zaman megalitikum.
- "bang tokohnya asli semua namanya?" nama semua gua samarin kecuali nama panggilan gua
- "ah bang boong aja kerjaan lu" bodoamat fak
harap menjaga komenan ya, karna beberapa tokoh yg ada disini udah gua mintain persetujuan sebelum gua nulis cerita ini dan mereka ikut membaca cerita ini, jd gua berharap kalian gak komen yg macem-macem ya gaes!
so, awal mula cerita gua dimulai dari sekolah ini, tetep ikutin setiap update-an yg ada, Dont miss it!
Sepagi ini kedai Mak Otih sudah penuh sesak. Serabi buatan Mak Otih memang yang paling terkenal di desa Cipedes ini. Penganan yang terbuat dari campuran tepung terigu yang gurih dan air kelapa, banyak diburu oleh warga desa ini dan menjadi alternatif pilihan untuk sarapan. Cara memasaknya yang masih tradisional—menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat serta kayu bakar di bawahnya untuk mematangkan serabinya—membuat serabi ini memiliki rasa dan aroma yang khas. Varian serabinya hanya dua macam, yaitu topping oncom sangrai untuk rasa asin, dan serabi disiram kuah gula merah atau kinca untuk yang rasa manis. Bahkan, untuk serabi topping oncom bisa ditambahkan telur agar rasanya semakin gurih.
Sopi mengamati tangan Mak Otih yang menyendok adonan serabi ke dalam wajan tanah liat dengan cekatan. Adonan yang masih cair itu kemudian ditaburi oncom sangrai. Asap mengepul dari sana. Aroma serabi yang hampir matang membuat gadis itu menelan saliva berulang kali. Perutnya semakin keroncongan. Terbayang di mulutnya rasa legit kuah kinca bercampur dengan kue serabi yang gurih, lezat rasanya.
Empat orang pemuda iseng mulai melirik nakal ke arah Sopi yang terlihat cantik. Salah satu dari mereka mulai menggodanya.
"Hai, Neng geulis, sendirian aja nih. Boleh Akang temenin?"
"Akang mah mau langsung kenalan aja, boleh enggak?" Seorang pemuda lainnya mulai mendekati Sopi. Sementara dua pemuda yang lainnya hanya tertawa-tawa.
Sopi mulai jengah dengan gangguan dari keempat pemuda itu. Bahkan salah satunya yang tadi minta kenalan mulai berani mencolek lengannya. Segera saja Sopi menepis tangan jahil pemuda jangkung berambut keriting itu. Memangnya aku ini sabun colek apa? pikir Sopi, kesal.
"Widih, si Eneng meuni sombong ih. Belum tahu ya kita ini siapa? Kita teh F4, tapi bukan pemeran di drama Meteor Garden ya. Saya Firman, itu Fikri, Farid, dan Ferdi." Pemuda berkaus biru donker berlogo salah satu superhero terkenal di dunia, menunjuk ke arah ketiga temannya sambil ikut mendekat ke arah Sopi.
Sopi masih membisu, dalam hati ia geram dengan tingkah para pemuda itu. Perempuan di kedai ini kan banyak, kenapa hanya aku yang diperlakukan seperti ini? gumamnya.
Melihat gadis itu beranjak dari tempat duduknya, hendak berlalu dari kedai, keempat pemuda itu malah semakin gencar menggodanya.
"Mau ke mana Neng? Buru-buru amat. Kita kan belum saling mengenal. Tukeran nomor hp aja belum, udah mau pergi. Rumahnya di mana sih? Akang antar ya. Tenang, dijamin aman, selamat sampai tujuan." Pemuda berkaus hitam bergambar logo band Linkin Park mengejar Sopi dan menggenggam tangan gadis itu.
Sopi berusaha melepaskan diri, tetapi genggaman tangan pemuda itu malah semakin kuat. Ia meringis kesakitan. Keempat pemuda itu tertawa puas.
"Heii, kalian! Lepaskan gadis itu. Belum tahu ya kalau dia itu pacar saya? Seenaknya main antar pacar orang. Yuk, Neng Akang antar." Suara seorang lelaki tampan berdandan ala Kabayan berhasil menghalau keempat pemuda itu. Mereka pun menjauh dari Sopi. Setelah berpamitan pada Emaknya yang tengah membalikkan serabi dari wadah, pemuda itu pun berjalan beriringan dengan sang gadis.
"Yuk, Neng. Enggak usah takut, saya mah bukan lelaki cunihin seperti mereka. Kalau mau jahil ke perempuan, saya selalu ingat sama Emak. Gimana kalau Emak juga digodain kayak gitu? Saya pasti marah besar," ucap lelaki itu setelah agak menjauh dari kedai.
Dalam hati, Sopi memuji ucapan pemuda di sampingnya yang sangat santun dan hormat memperlakukan ibunya. Yang jadi istrinya, sudah pasti akan diperlakukan dengan baik juga. Sopi malu sendiri, dan buru-buru menepis pikiran yang baru saja terlintas di benaknya. Mereka berjalan berdampingan. Keduanya sama-sama merasa canggung, tak ada yang berani membuka percakapan. Hanya sesekali mereka saling beradu pandang, kemudian sama-sama tersenyum dan menunduk, malu. Hingga tiba di tempat tujuan pun, mereka masih diam seribu bahasa.
Sementara itu, Pak Asep yang sedari tadi merasakan perasaannya tak enak, selalu terbayang wajah putri cantiknya. Rasa kuatir menggelayuti pikirannya, takut sesuatu menimpa Sopi. Sesekali ia menatap ke arah jalan, mencari sosok yang membuat hatinya gelisah. Tidak berapa lama, ia melihat gadis itu. Namun, ia tidak sendirian, seorang pemuda jangkung terlihat berjalan di sampingnya.
"Hei, pemuda, siapa kamu? Kenapa tampang anakku seperti ketakutan begitu? Hmm, mau macam-macam ya sama anak Jawara Pencak Silat ini? Hayu lah, Bapak mah enggak takut. Kita tandang di lapang sebelah!" Pak Asep sudah pasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang sosok yang terlihat sebagai ancaman bagi putri tersayangnya. Sopi dan Aden pun bengong.
Dengan kekuatan penuh, Pak Asep bersiap melayangkan pukulan ke arah pemuda tampan yang sedang berdiri di samping putrinya.
“Daddy—Daddy, calm down.” Sopi menghalangi serangan ayahnya dengan menggenggam tangan pria paruh baya itu yang sudah bulat terkepal dengan sempurna.
“Minggir, Sopi. Biar dia merasakan bogem mentah Bapak. Walau Bapakmu ini sudah tua, tapi Bapak masih kuat. Ayo sini, pemuda, lawan!” Pak Asep menghempaskan tangan Sopi yang menghalanginya.
“Pak Asep? Ini benar Pak Asep kan? Alhamdulillah, akhirnya kita ketemu juga.” Aden mencium punggung tangan pria di hadapannya yang napasnya masih tak beraturan. Emosi memenuhi rongga dadanya. Kedua matanya memelotot ke arah pemuda itu.
“Apa-apaan kamu? Diajak tanding malah cium tangan? Nyalimu ciut, Jang?” Pak Asep menghempaskan tangan Aden dengan kasar.
“Bapak lupa ya? Ini teh Aden, putranya Mak Otih. Dulu waktu SD Aden kan belajar pencak silat dari Bapak. Wah senangnya masih bisa berjumpa dengan guru bela diri favorit Aden.”
Mendengar penuturan pemuda yang berdiri di hadapannya, perlahan-lahan emosi Pak Asep menurun. “Jadi, ini Aden? Masya Allah, meuni kasep. Maafkan Bapak yang terlalu kuatir dengan keselamatan putri Bapak satu-satunya. Maklum, sejak Ibunya meninggal, hanya dia yang Bapak miliki di dunia ini. Bapak enggak mungkin lupa, hanya tadi mah pangling aja, sampai-sampai enggak ngenalin. Kamu kan yang pernah ngompol, ketakutan karena Bapak bentak, hahaha. Terus kamu itu terkenal paling cengeng di antara murid-murid Bapak yang lain. Kesenggol sedikit saja nangis kejer.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak bekas murid pencak silatnya itu.
Aden tersipu malu sambil melirik gadis cantik di sampingnya yang sedang bengong menyaksikan percakapan antara dirinya dan Pak Asep. “Jadi, Eneng ini teh putrinya Bapak?” lanjutnya.
“Iya, ini namanya Sopi, anak Bapak. Hayu atuh masuk, kita ngobrol-ngobrol di dalam. Sopi suguhkan makanan sama minuman.”
Sopi beranjak menuju dapur menyiapkan suguhan untuk sang tamu. Sementara itu Aden dan sang Ayah sudah duduk di kursi ruang tamu. Sesekali, Pak Asep melirik Aden yang mencuri pandang ke arah Sopi. Sepertinya pemuda itu tertarik pada putrinya. Sebuah senyuman tersungging di bibir lelaki paruh baya itu. Sementara Aden, yang kepergok sedang curi-curi pandang, jadi salah tingkah. Hatinya mengakui perempuan itu memang cantik, hanya dandanannya saja yang menurutnya terlalu berlebihan alias menor. Andai gadis itu berdandan sederhana, aura kecantikannya akan terpancar alami. Tidak berapa lama, Sopi muncul dengan baki berisi dua gelas teh manis dan beberapa stoples berisi kue kering juga makanan ringan.
“Ayo—ayo dimakan, Den,” tawar Pak Asep setelah Sopi menaruh semua bawaannya di atas meja.
“Eh iya, ngomong-ngomong serabi pesanan Bapak mana?” Kali ini pandangan mata pria itu beralih pada Sopi.
“My mood is going down, Daddy. So maafkan Sovia yang tak jadi membelinya.”
Aden menatap heran gadis yang duduk di samping Pak Asep. Buset, bukan hanya dandanannya yang lain, cara bicaranya juga aneh, gumamnya.
“Kok bisa?” Kening Pak Asep berkerut. Tak mengerti dengan kalimat yang diucapkan putrinya barusan. Sejurus kemudian, lelaki itu manggut-manggut menyimak cerita putrinya.
“Duh, Den. Maafkan Bapak yang sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Terima kasih telah menyelamatkan putri Bapak." Sudah waktunya Sopi punya pendamping hidup, yang akan melindunginya dari marabahaya, gumam Pak Asep dalam hati sambil menatap lekat-lekat Aden yang sedang mencuri pandang ke arah wajah Sopi. Untung saja, pemuda ini baik hati, jadi dia tetap membiarkan Aden memandang wajah Sopi sampai puas. Kalau pemuda culas yang melakukannya, pasti sudah dia gibas tanpa ampun sampai kapok.
***
“Daddy, ini kopinya.”
“Terima kasih, Sopi.” Gadis cantik itu mengangguk dan beranjak hendak menuju kamarnya.
“Sopi, mau ke mana? Sini duduk dulu sebentar, Bapak mau bicara.”
“Daddy, Sovia mau ke kamar, belum beres merapihkan alis.”
“Bentar doang kok. Enggak nyampe lima belas menit.” Pak Asep menyeruput kopinya. “Sopi, kopi buatan kamu mengingatkan Bapak sama almarhumah Ibumu. Racikannya sama-sama enak. Rasa kopi dan gulanya seimbang, pas.”
Sopi tersenyum melihat Ayahnya yang begitu penuh penghayatan menyeruput kopinya, terlihat sekali pria paruh baya itu menikmati setiap tegukan cairan hitam itu yang masuk ke kerongkongannya.
“Jadi begini, Geulis. Kamu sekarang sudah besar. Kuliah pun sudah selesai.” Pak Asep menatap wajah putri tersayangnya sebelum ia melanjutkan bicara. Pria itu tampak memutar otak mencari kalimat yang pas untuk menyampaikan maksudnya pada Sopi. “Sudah saatnya Bapak melepasmu, Sopi,” lanjutnya.