Bab 32 Hati yang Retak Berliana menyaksikan Safira yang mematung. Suasana hatinya tak nyaman. Dia merasa yakin, dari tadi kakaknya mendengar percakapannya dengan Benua. Berliana menatap Safira agak lama. “Lian kamu kenapa, kok diam?” tanya Benua. “Kak, nanti ngobrol-ngobrolnya dilanjutin ya,” kata Berliana. “Kami mau berangkat jalan-jalan ke taman nih. Mau refreshing setelah seminggu ini kami disibukkan sama revisian hehe.” “Oke… kamu bilang kami. Berarti kakakmu mau sidang juga?” “Iya, Kak. Kita barengan.” Benua tampak berpikir lagi. “Oh, oke. Selamat berjuang ya. Semoga kamu dan kakakmu dilancarkan.” “Amiin. Makasih ya, Kak.” “Salam buat Fira.” “Oke, Kak. Nanti aku sampaikan. Pamit ya, Kak. Assalamualaikum.” “Waalaikumussalam warahmatullah.” Percakapan keduanya pun berakhi

