Bab 38 Ngidam Sate Maranggi Safira meninju tangan Sagara. “Ngomong apaan sih kamu ini?” tanya Safira ketus. “Jangan jadikan fatwa dokter tadi sebagai senjata kamu ya. Enggak… kamu nggak akan menang… Aku belum seratus persen percaya padamu.” Sagara terhenyak mendengar ucapan terakhir istrinya. Pantas saja, dia selama ini dia belum rela menerima dirinya sepenuhnya, padahal dia sudah merasa sepenuhnya melakukan segala upaya agar mendapatkan tempat di hati Safira. “Apa yang menghalangimu untuk percaya seratus persen padaku?” “Udah ah, jangan bahas ayo, jalan!” pinta Safira. “Aku nggak mau jalan kalo kamu belum berikan penjelasan.” “Ayo, ah. Udah ya. Aku cape, Yang! Aku nggak mau membahasnya.” “Aku ingin kita tuntaskan semuanya. Aku nggak mau kamu terus-terusan begini,” kata Sagara s

