"Wah ... ternyata selingkuhannya dateng." Caka mengusap bekas pukulan di rahangnya. Tatapan penuh permusuhan dilayangkan pada cowok yang balik menatap sengit. "Dia bukan tukang selingkuh kayak lo," balas Dennis tajam. Rasanya Cessa ingin berteriak meminta bantuan. Kelegaannya hanya berlangsung sejenak, ia mulai merasakan suasana mencekam. Meenarik kaos belakang Dennis, ia berucap pelan, "Udah, jangan diladenin." Dennis tertegun mendengar nada lirih tersebut, melirik cewek itu sekilas dan kembali menatap rivalnya. "Gue ngasih kesempatan lo buat pergi, tinggalin Cessa sama gue atau-" Caka tersenyum sinis. "Lo gak bakal bisa pulang dengan utuh setelah ini." "Lo pikir gue takut?" tantang Dennis membuat Cessa menarik lengannya, menggeleng keras. "Wow! Liat, kan? Tunangan gue lebih milih s

