Jarum jam belum menunjukkan pukul 5 pagi tetapi sudah Ana terbangun dengan perut yang terasa melilit. Gadis itu mengerang perlahan sambil menyibakkan selimut tebalnya dan secepat mungkin berlari memasuki kamar mandi. Menuntaskan panggilan alamnya yang terasa sangat menyakitkan. Ana meringis ketika melihat wajah pucatnya di cermin wastafel usai menuntaskan kegiatannya. Gadis itu baru teringat jika semalam ia terlalu banyak mengambil sambal saat makan. Yang mengakibatkan perutnya merasakan mulas tak tertahan, terlebih udara semalam tergolong cukup dingin padahal ia tidak menyalakan pendingin udara. Mau bagaimana lagi, sambal bawang buatan sang ibu memang selalu membuatnya lupa diri. Ana memutuskan untuk menuju ke dapur dan membuat minuman hangat. Gadis itu memilih membuat cokelat hangat me

