"Forza!"
Teriakan itu melengking, memecah keheningan lorong Fakultas Kedokteran. Suara yang sangat Forza kenal. Siapa lagi kalau bukan Abell, sahabatnya yang paling berisik sedunia.
Forza Shanum Adhitama, begitu nama lengkapnya. Biasa dipanggil Forza. Ia adalah anak pertama dari pasangan Hendrik Adhitama dan Fatma Adhitama, memiliki dua orang adik, bernama Firza Adhitama dan Fahri Adhitama. Saat ini, Forza tercatat sebagai Mahasiswi di sebuah universitas ternama di Jakarta, Fakultas Kedokteran.
Gadis itu berjalan dengan langkah santai seperti biasa. Terlihat cantik dengan bibir tipis dan rambut panjang sebahu yang selalu ia ikat rapi, menjadi kuncir kuda rendah. Postur tubuhnya tinggi semampai, bak seorang model. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan langsung jatuh hati, pada pandangan pertama.
Namun sayangnya, sikapnya yang dingin dan misterius, membuat para pria yang ingin mendekatinya berpikir dua kali, Forza dikenal tidak banyak bicara. Tapi sekali ia bicara, kata-katanya selalu mengena, langsung ke dasar hati terdalam lawan bicaranya.
Hari ini adalah hari pertama perkuliahan semester V. Seperti rutinitasnya, Forza berjalan seorang diri melewati lorong kampus yang ramai, menuju kelasnya, ia memang lebih nyaman sendiri.
Forza menoleh ke belakang, ke arah sumber suara yang memanggilnya tadi, tatapannya datar.
"Berisik!" Hanya satu kata itu yang meluncur dari bibir tipisnya.
Abell yang memanggil langsung manyun, sambil berlari kecil menghampirinya.
"Gue kira habis liburan, pas ketemu bisa manis dikit. Nyatanya makin anyep banget, lo nggak kangen sama gue? Jahara banget lo jadi sohib," sungut Abell dengan wajah dibuat-buat sedih.
Forza menghela napas pelan.
"Hmm, tapi nggak mesti teriak begitu kali," kata Forza, sahabatnya ini memang hobi sekali berteriak di sembarang tempat, kadang membuat Forza malu sendiri.
Abell langsung merangkul lengan Forza dengan akrab.
"Eh, Za, lo tahu nggak? Semester ini Pak Gavin, bakal ngajar kelas kita loh!" bisik Abell dengan mata berbinar penuh gosip.
Forza menatap malas sahabatnya itu. Wajarlah ngajar, beliau kan dosen, batin Forza. Namun yang keluar dari mulutnya hanya, "Terus kenapa kalau ngajar kelas kita? Wajar kali, 'kan dosen."
"Lo lupa, Za? Waktu PKKMB dan malam Inagurasi? Lo kan selalu dapat perhatian khusus dari Pak Gavin. Bahkan sampai sekarang, beliau tuh sering curi-curi pandang sama lo!" Abell semakin heboh.
Langkah Forza sedikit melambat, ia terdiam mendengar perkataan sahabatnya. Kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakan Abell memang ada benarnya, Forza masih ingat dengan jelas, saat PKKMB, ketika semua maba gugup, hanya dialah yang dipanggil langsung oleh Pak Gavin untuk maju ke depan. Saat malam Inagurasi, ketika semua mahasiswi, berebut foto bersama para dosen muda, Pak Gavin justru tersenyum dan menyapa Forza terlebih dahulu.
Padahal, semua mahasiswa, terutama Fakultas Kedokteran, tahu betul. Gavin Mahendra, dosen muda berusia 25 tahun yang juga seorang dokter, terkenal sangat dingin, disiplin, dan tidak mudah memberikan senyumnya. Kemeja rapi dan snelli putihnya selalu membuatnya terlihat berwibawa dan sulit didekati. Tapi entah kenapa, pada Forza, senyum itu diberikan secara cuma-cuma.
"Terlalu berlebihan lo, Bel. Semua juga sama kali, dikasih perhatian sama dosen itu," kilah Forza, berusaha menyembunyikan debaran jantungnya yang tiba-tiba tidak beraturan.
Abell memicingkan mata, memperhatikan penampilan Forza dari atas ke bawah. Hari ini Forza hanya mengenakan celana jeans high-waist, kemeja polos warna army yang lengannya ia gulung hingga siku, dan sneakers putih kesayangannya. Sederhana, tapi tetap terlihat mahal dan berkelas.
"Gue heran sama lo, Za! Gue curiga, lo nggak normal deh. Apalagi penampilan lo yang begini, makin kuat keraguan gue," kata Abell serius.
Forza langsung melot, "s****n lo, Bel! Gue normal ya, wanita tulen!" omelnya sambil menoyor kepala Abell cukup keras.
"Aduh! Galak amat!" Abell mengusap kepalanya, "Kalau normal, kenapa lo nggak ada rasa tertarik sedikit pun, sama 4 dosen most wanted yang digilai para mahasiswi itu? Apalagi Pak Gavin, gantengnya tuh udah kayak aktor Korea, Za!"
Forza berdecak kesal, "Ck. Gue di sini tujuannya kuliah, cari ilmu, bukan cari cem-ceman kayak lo, Bel."
"Woyyy! Pada ngomongin apaan sih? Serius amat mukanya pada!"
Suara ceria lainnya menyusul, Nadia datang dengan napas sedikit terengah, menyusul mereka berdua, Nadia juga sahabat dekat Forza dan Abell sejak semester satu.
"Ngomongin Forza yang nggak normal, haha!" jawab Abell sambil tertawa puas, mencari dukungan.
Forza mendengus kesal, "Kupret lo."
"Emang kenapa kok nggak normal? Gue kepo nih," tanya Nadia yang baru datang dan langsung memasang telinga gosip.
"Nggak normal, karena nggak pernah naksir cowok. Bahkan sama Pak Gavin aja dia nggak doyan, coba," adu Abell, yang semakin membuat Forza gemas ingin melemparnya ke kutub utara.
Nadia langsung menimpali sambil tertawa, "Jahat lo, Bel. Forza bukannya nggak normal, tapi kurang sedikit normalnya aja, makanya nggak doyan cowok. Hahaha!"
Mendengar itu, Abell tertawa semakin puas sampai memegangi perutnya. Sementara Forza sudah benar-benar habis kesabarannya.
"Kurang ajar lo pada!" kata Forza sambil mempercepat langkahnya, meninggalkan kedua sahabatnya. Ia berjalan memasuki kelas dan langsung memilih bangku paling belakang dan pojok, tempat favoritnya yang paling tenang.
"Za! Yaelah, gitu aja ngambek lo!" teriak Abell sambil berlari kecil menyusul Forza, dan Nadia mengekor di belakangnya sambil masih cekikikan.
Mereka bertiga akhirnya duduk bersama di bangku belakang. Abell masih berusaha merayu Forza, agar tidak ngambek, sementara Nadia sibuk mengeluarkan buku catatannya.
Lagi, tanpa Forza dan kedua sahabatnya sadari, sejak tadi ada sepasang mata tajam yang terus mengawasi mereka bertiga dari balik jendela ruang dosen.
Terutama mengawasi Forza.
Gavin Mahendra, berdiri dengan tangan kiri yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Tatapannya tidak pernah lepas, dari sosok gadis berambut panjang itu. Senyum tipis yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang lain, kini terukir jelas di bibirnya.
"Forza Shanum Adhitama," gumamnya pelan, bahkan nyaris tak terdengar, "Akhirnya semester ini kamu di kelasku, are you ready?."