Setiap harinya, Gavin makin gencar mendekati Forza. Bukan lagi sekadar dosen yang memperhatikan mahasiswinya, tapi sebagai seorang pria yang sedang jatuh cinta sedalam-dalamnya dan setiap melihat Forza berdekatan dengan laki-laki lain, rasa cemburu itu datang begitu saja tanpa bisa ia kontrol, membakar dadanya.
Seperti siang ini.
Dari balik jendela ruangannya di lantai dua, Gavin memperhatikan Forza yang sedang duduk santai di taman kampus, bersama teman-temannya. Ada Abell, Nadia dan dua laki - laki, salah satunya Alfa. Mereka tertawa, namun mata Gavin langsung menangkap satu hal yang membuat rahangnya mengeras. Saat tiba - tiba ada yang merangkul bahu Forza dengan akrab, sambil tertawa. Siapa lagi kalau bukan Alfa, karena hanya dia yang selalu mencari celah untuk dekat-dekat dengan Forza.
Gavin mengepalkan tangannya di atas meja, ia tidak suka, sangat tidak suka.
"Harus gue pisahin." gumamnya pelan.
Gavin segera berusaha mencari cara, agar gadisnya pergi dari taman itu. Setelah beberapa saat berpikir, menatap layar ponselnya, akhirnya dia menemukan cara yang paling masuk akal, sebagai seorang dosen. Segera Gavin mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk gadisnya.
Gavin
Za, ada dosen lagi jam berapa?
Tidak butuh waktu lama, balasan itu datang.
Forza
Sudah selesai, Pak. Dokter Rangga nggak masuk.
Gavin tersenyum tipis membaca balasan dari gadisnya. Bahkan cara Forza mengetik yang singkat dan dingin itu saja, membuatnya gemas.
Gavin
Ke ruangan saya sekarang!
Di taman, Forza mengerutkan kening menatap layar ponselnya yang bergetar, wajahnya langsung berubah cemberut.
"Chat dari siapa, Za? Langsung cemberut gitu mukanya, kayak habis lihat tagihan." tanya Abell yang duduk di sebelahnya, sambil menyeruput es teh.
"Dosen idola lo, nyuruh gue ke ruangannya sekarang." jawab Forza singkat, sambil mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Dosen idola gue? Pak Gavin? Ngapain?" Abell langsung heboh.
"Nggak tahu, katanya suruh ke ruangan." jawab Forza malas.
"Gue anter ya, Za," tawar Alfa dengan sigap, langsung berdiri, inilah yang ditunggu Alfa.
"Nggak usah, Fa. Kalian pulang saja duluan, nanti gue pakai ojol saja, nggak usah repot." jawab Forza tegas dan berjalan cepat menuju gedung dekan, meninggalkan teman-temannya yang saling pandang.
Dari kejauhan, Gavin yang melihat Forza berjalan sendirian menjauhi Alfa, menghela napas lega, rencananya berhasil.
Tok... tok... tok...
"Masuk." jawab suara berat dari dalam.
Forza membuka pintu, "Siang, Pak." sapa Forza dengan sopan, meski wajahnya masih menunjukkan rasa bingung.
"Siang, Za. Maaf kalau saya ganggu waktu istirahat kamu, saya mau minta bantuan, buat koreksi hasil kuis adik tingkat semester dua, bisa, 'kan? Saya lagi kejar laporan buat RS." kata Gavin to the point, dengan wajah profesional, seolah tidak ada motif lain.
Forza menatap tumpukan kertas di meja Gavin, "Boleh dibawa pulang, Pak?"
"Nggak usah, di sini saja. Lagian nggak begitu banyak, kamu boleh kerjain di meja ini atau di sofa sana biar lebih nyaman." jawab Gavin, ia sengaja memberikan pilihan.
"Saya di sofa saja, Pak." jawab Forza, ia memilih sofa yang agak jauh dari meja Gavin.
Gavin mengangguk, walau sedikit kecewa karena Forza memilih di sofa, tapi setidaknya Gavin lega juga, karena bisa memandang gadisnya sepuasnya dan memisahkannya dari Alfa yang terus mendekati Forza.
Gavin adalah tipe orang yang tidak mudah cemburu. Bahkan dulu, setiap melihat pacarnya jalan sama pria lain pun dia biasa saja, santai. Tapi berbeda untuk Forza, walaupun belum menjadi kekasihnya, statusnya masih mahasiswi dan dosen, rasa cemburu itu selalu datang membabi buta, setiap melihat Forza berdekatan dengan lawan jenis. Rasanya Gavin ingin menarik Forza saat itu juga, menciumnya di depan semua orang agar mereka tahu Forza hanya milik Gavin seorang. Namun apa daya, semua itu belum bisa Gavin lakukan dan dia harus terus bersabar, sampai tiba waktunya bisa mengumumkan jika Forza miliknya.
Waktu berlalu, Forza fokus mengoreksi dengan teliti, sesekali menggigit ujung pulpennya. Gavin di seberang sana pura-pura mengetik laporan, padahal matanya, terus mencuri pandang ke arah Forza.
"Pak, saya sudah selesai." kata Forza, menyodorkan tumpukan kertas yang sudah ia koreksi.
Gavin tetap diam, tatapannya masih terus menatap Forza, melamun.
"Pak Gavin, halo?" ulang Forza sambil melambaikan tangannya di depan wajah Gavin, agak keras.
"Oh, ya, sorry. Gimana? Sudah selesai?" Gavin tersadar dari lamunannya, sedikit salah tingkah.
"Saya sudah selesai. Apa saya bisa izin pulang? Dari tadi Bapak ngelamun terus, gimana kerjaan mau selesai." ucap Forza dengan nada sedikit protes.
Gavin terkekeh mendengar perkataan polos Forza, "Saya nggak ngelamun, Za. Hanya lapar saja, belum makan siang." Gavin tersenyum, "Za, sebelum pulang temani saya makan, ya? Anggap saja sebagai ucapan terima kasih, sudah bantu saya." ajak Gavin yang memang sengaja ingin lebih lama lagi dengan gadisnya.
"Maaf saya nggak bisa, Pak. Ibu saya sudah masak banyak di rumah, kalau saya makan di luar sayang, kan." tolak Forza yang semakin tak mengerti dengan dosennya ini, kenapa suka sekali mengajaknya makan.
"Kalau gitu, saya antar pulang sekalian, kebetulan searah," jawab Gavin, tidak mau menyerah.
"Nggak usah, Pak, saya bisa naik ojol..."
"Nggak ada penolakan, Za. Lagipula, rumah kamu searah sama rumah sakit, jadi saya bisa antar kamu sekalian jalan, ayo." putus Gavin yang sudah berjalan mendekati Forza dan mengambil kunci mobilnya.
"Terserah Bapak saja," pasrah Forza akhirnya.
Sepanjang perjalanan, baik Gavin maupun Forza diam membisu. Hanya suara AC mobil dan musik pelan yang terdengar, mereka bingung apa yang mau dibicarakan, canggung, hingga mobil memasuki kompleks perumahan Forza yang terlihat tidak biasa, banyak orang berkerumun di depan salah satu rumah.
"Za, ada apa? Kok rumah kamu ramai banyak orang?" kata Gavin, mengerutkan kening.
"Nggak tahu, Pak." jawab Forza, jantungnya mulai berdebar tidak enak, firasat buruk.
Begitu sampai depan rumah, Forza langsung turun dan berlari memasuki rumahnya, tanpa menunggu Gavin mematikan mesin, sedangkan Gavin mengikuti dari belakang dengan langkah cepat.
"Bu Mia, ada apa? Kenapa ramai?" tanya Forza pada salah satu tetangganya yang berdiri di pagar.
"Syukurlah kamu pulang, Nak. Ayah kamu datang dari pagi dan tadi menyakiti ibu kamu. Sekarang ada Pak RT di dalam sedang melerai. buruan masuk, ibu butuh kamu, karena saya nggak dibolehin masuk sama Pak RT." jawab Bu Mia dengan wajah cemas.
Darah Forza mendidih, ia mengangguk, "Makasih, Bu." kata Forza, dan dia pun masuk ke dalam rumah diikuti Gavin di belakangnya.
Di dalam, suasana mencekam, Bundanya duduk di sofa dengan memegangi pelipisnya yang berdarah, sementara ayahnya berdiri dengan wajah merah karena emosi.
"Bunda, maaf Forza terlambat pulang." ucap Forza sambil memeluk bundanya erat.
Kemudian dia melirik ke arah ayahnya dengan tatapan penuh benci.
"Untuk apa lagi Anda datang ke sini? Apa masih belum puas melihat Bunda dan adik-adik saya menderita? Apa Anda masih belum puas menghancurkan hidup kami?" Forza benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, suaranya bergetar.
"Forza! Jaga bicaramu! Aku masih ayahmu, sampai kapan pun! Kamu nggak punya sopan santun!" bentak Ayah Forza.
"Ayah macam apa yang menelantarkan anaknya, bahkan tega menganiaya istrinya sendiri? Hanya demi wanita lain, Anda berubah begitu jahatnya! Anda bukan ayah saya lagi!" jawab Forza yang nada suaranya makin tinggi.
Ayahnya mencoba membela diri, "Ayah melakukan ini semua juga untuk kalian, agar kalian bisa dapat pendidikan yang layak, agar perusahaan ayah makin berkembang. Ayah nggak sengaja memukul bundamu, tadi khilaf!"
"Nggak usah banyak alasan! Sekarang langsung saja, ada tujuan apa datang kemari?" kata Forza, matanya menatap tajam ayahnya tanpa takut.
"Ayah mau jual rumah ini, Ayah mau kalian pindah dari sini dan ayah sudah siapkan rumah barunya yang lebih bagus." jawab Ayah Forza akhirnya.
"Sampai kapan pun aku nggak akan jual rumah ini, Mas! Rumah ini peninggalan orang tuaku, jadi kamu nggak berhak menjualnya!" jawab Bunda Forza dengan air mata berlinang.
"Kenapa Anda tiba-tiba ingin menjualnya?" selidik Forza.
"Karena teman mamah kamu ingin memiliki rumah ini. Jika ayah tidak bisa menuruti, dia bisa menarik investasinya di perusahaan ayah, Perusahaan bisa bangkrut!" jawab jujur ayahnya.
Mendengar itu, emosi Forza meledak, "Hanya demi teman istri Anda? Wow, hebat! Tapi sayangnya saya pun akan mendukung bunda! Meskipun harus mati, kami nggak akan menyerahkan rumah ini ke siapa pun, termasuk teman dari istri kedua Anda!"
"FORZA! Cukup! Ayah sudah sabar menghadapi kamu selama ini! Apa kamu mau ayah stop uang jajan dan uang kuliah kamu? Biar kamu nggak bisa kuliah lagi!" Ayah Forza makin terpancing emosinya, tangannya terkepal.
"Silakan! Saya tidak takut! Akan saya kembalikan uang yang Anda kirim, karena selama ini saya tidak memakainya! Saya masih bisa menghasilkan uang untuk saya sendiri, bahkan untuk biaya sekolah kedua adik saya! Nggak usah khawatir, saat ini juga saya akan mengembalikannya!" jawab Forza lantang, menantang.
"FORZA!!!"
Bentakan itu menggema di seluruh ruangan. Tangan Ayah Forza terangkat tinggi, siap mendarat di pipi mulus Forza, Bunda Forza menjerit.
Semuanya terjadi begitu cepat. Jika saja tak ada tangan yang mencegahnya dan berdiri di depan Forza melindunginya, tamparan itu pasti sudah mendarat.