Suara bising kendaraan yang lalu-lalang tak membuat Zahra bergeming dan beranjak dari duduknya. Wanita itu tengah asyik menikmati secangkir kopi yang disiapkan Barista di sebuah Caffe.
Caffe yang terletak di daerah Jakarta Selatan ini berkonsep Caffe modern mini malis. Cocok sekali untuk hang-out atau bahkan menyelesaikan pekerjaan, karena didukung oleh fasilitas free wi-fi.
Zahra memilih duduk di pinggir jendela tepat menghadap lalu lalang kendaraan. Tempat favoritnya di Caffe ini.
Sudah sekitar setengah jam wanita itu duduk di sana tanpa memiliki niat beranjak. Karena dilanda berbagai pikiran yang berkecamuk di otaknya, gara-gara acara pertunangan kemarin. Ia bahkan memilih absen selama sehari, mulur dari jadwal seharusnya ia mengajukan cuti.
Diandra mulai mengomel karena tugasnya menumpuk. Belum lagi masalah kedatangan GM baru yang menanyakan dirinya.
Wanita itu menyeruput Vietnamese Coffee-nya, dimana perpaduan rasa manis dan pahitnya kopi plus disajikan dingin menimbulkan sensasi sejuk, membuat ia merasa lebih rileks.
Zahra mengembuskan napas, meraba cincin yang kini melingkari jari manisnya. Sebuah cincin berwarna silver dengan permata kecil di atasnya, sangat simple tapi elegant. Ingatan Zahra terputar pada kejadian empat hari yang lalu, ketika ia di Jawa.
Zahra tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, saat menyadari laki-laki yang berdiri di depannya adalah Luky, sahabat masa SMA-nya. Dan yang membuat Zahra sama sekali tak bisa berpikir, laki-laki itu juga yang berniat melamar dirinya.
"Kamu ... kenapa bisa?" cicit Zahra
"Aku bisa jelaskan ini, Za," ujar Luky lembut. Berharap wanita yang telah mengisi sebagian besar hatinya itu bersedia mendengarkan.
"Jadi yang ... " Zahra menggantung kalimat, dan menatap ibunya meminta penjelasan. Laki-laki itu menyadari kekhawatiran Zahra, dan memutuskan membuka suara.
"Za, dengar dulu," kata Luky lagi sembari meraih tangan Zahra. Perempuan itu tak mengucap apa pun lagi. Kemudian Luky izin kepada semua orang agar diberi kesempatan berbicara dengan Zahra terlebih dulu. Luky menarik tangan Zahra, dan membawanya ke taman belakang. Mereka memutuskan duduk di sebuah bangku tepat di samping kolam ikan.
"Maaf, jika ini mengejutkanmu. Aku hanya tak bisa lagi menahan semuanya, Za. Berkali-kali kukatakan jika aku serius dengan perasaanku. Tapi kamu nggak pernah sedikit pun melihatku lebih dari sahabat. Jadi saat aku dengar kamu putus dengan si b******n Alfa, aku buru-buru ke Jawa dan memilih bicara langsung dengan orang tua kamu, aku tahu ini membuat kamu bingung, Za. Hanya saja aku tak bisa terus melihatmu seperti ini," terang Luky lembut.
"Aku nggak butuh dikasihani, Ky." Zahra menatap Luky sedih. Membuat laki-laki berkaca mata di depannya mengusap wajah gusar. Luky gelisah dengan sikap kekeh Zahra.
"Ayo lah, Za. Kamu tahu pasti seperti apa perasaan aku ke kamu, aku sayang sama kamu. Jadi aku mohon, beri aku kesempatan untuk di sisimu lebih dari sahabat. Aku hanya ingin kamu tahu, ada aku yang selalu menganggap kamu berarti. Ada aku yang ingin selalu membuat kamu bahagia."
"Tapi, Davie?"
"Za, Davie sudah melupakanmu. Kamu sadar, dia nggak akan pernah kembali, tolong beri aku kesempatan."
"Aku bingung, aku ... " Zahra menggantung kalimatnya dan menatap Luky penuh sesal. Ia tahu laki-laki yang sudah sepuluh tahun lebih menjadi sahabatnya itu memiliki hati yang tulus. Harus dengan cara apa ia membalas cinta Luky yang teramat besar padanya?
"Kamu mau sampai kapan menunggu Davie, Za? Dia bahkan nggak ada kabar sama sekali." Luky terus berusaha meyakinkan Zahra. Laki-laki itu sadar jika hari ini ia tak berhasil meyakinkan Zahra untuk bertunangan, maka ia benar-benar akan kehilangan kesempatan memilikinya. Wanita di depannya masih bergeming dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"ok, begini saja, beri aku kesempatan menjadi tunanganmu selama tiga bulan. Jika dalam waktu tersebut Davie nggak kembali dan melamarmu. Maka kita akan menikah." Mendengar perkataan itu dari bibir Luky, Zahra menatapnya tak percaya. Merasa usul Luky terlalu berlebihan. Menjadikan pertunangan seperti sebuah mainan. Haruskah ia menerima? Zahra bimbang.
"Kamu jangan gila ya, Ky! Ini bukan masalah sepele yang bisa dijadikan mainan! Kamu tahu ini melibatkan keluarga! Kita nggak bisa mengecewakan mereka," jawab Zahra dengan nada sedikit meninggi.
"Kenapa? Kamu takut benar-benar jatuh cinta sama aku, hem?" Luky seolah mengejek. Kali ini ia tak akan menyerah memperjuangkan Zahra. Tak akan ada lagi kata mengalah meski Davie akan kembali sekali pun, ia tak peduli. Sudah cukup selama ini ia menunggu, dan hanya jadi pecundang.
"Kamu kenapa keras kepala sekali, sih. Masih sama kayak dulu."
"Iya, aku akan tetap keras kepala jika itu berhubungan denganmu. Jadi bagaimana jawabanmu?"
Zahra mengembuskan napas. Ini memang gila tapi apa salahnya mencoba, batin Zahra. Ia tahu risikonya pasti akan berdampak besar suatu hari. Tapi Zahra berharap ini adalah awal baik bagi kehidupannya. Zahra percaya pada Luky, bahwa laki-laki ini pasti bisa membuatnya jatuh cinta suatu hari nanti.
"Aku nggak punya pilihan lain, kan, selan menjawab, ya?" Kata-kata Zahra lebih mirip pernyataan, bukan pertanyaan. Luky spontan tersenyum lebar, lalu membawa Zahra masuk untuk melangsungkan acara pertunangan.
Lamunan Zahra terhenti saat seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan mata sipit menghampirinya.
"Pesanan Anda, tuan putri," ujar laki-laki itu sambil meletakkan menu pesanannya ke atasa meja. Blooming Potatoes, kentang rebus dengan saus daging diatasnya.
"Terima kasih, Anton." Zahra menyunggingkan senyum tulus seolah menularkan senyum itu pada laki-laki di depannya.
"Ngomong-ngomong, di mana pacarmu yang tampan itu?"
"Ah ... lupakan dia. Dia hanya pria b******k penyebar benih di mana-mana."
"Aah ... ya ampun," Anton berkata sambil menangkupkan tangan ke d**a, merasa ikut prihatin dengan nasib Zahra. Laki-laki di depannya sekarang ini agak ngondek. Tapi dia baik dan ramah. Karena terlalu sering ke caffe tersebutlah akhirnya mereka akrab.
"Ya sudah. Aku ke dalam dulu."
"Ok."
Bunyi notifikasi WA terdengar, Pesan yang masuk ternyata dari Luky. Zahra tersenyum saat melihat foto yang dikirim tunangannya. Di dalam foto, memperlihatkan Luky yang sedang berada di sebuah tempat makan. Serta terdapat caption bertuliskan
Have a nice lunch, baby. Lengkap dengan emoticon kiss.
Zahra menghela napas, ia masih tak menyangka jika sekarang status mereka bertunangan.
Luky berasal dari Bandung. Mereka kenal saat duduk di bangku SMA kelas XI. Saat itu Zahra baru satu tahun tinggal di sana, karena ia mengikuti orang tuanya pindah ke kampung halaman sang ibu.
Keadaan neneknya yang renta membutuhkan perawatan, sementara ibunya hanya anak tunggal. Mereka tinggal di Bandung sekitar empat tahun. Baru setelah Zahra lulus, wanita itu melanjutkan kuliahnya di sebuah Universitas di Jawa Tengah.
Selain menghindari desakan ibunya untuk menikah muda, ia juga menghindari Davie. Hingga beberapa tahun kemudian neneknya yang di Bandung meninggal dan keluarganya memutuskan kembali ke Jawa.
Sementara itu, Luky dan Zahra tetap menjalin komunikasi. Luky bahkan selalu berkunjung ke tempatnya saat lebaran hanya karena ingin bertemu Zahra. Dan dari dia juga lah Zahra mengenal Davie, cinta pertamanya saat SMA.
Saat Zahra bertanya alasan laki-laki itu terus merecoki hidupnya. Luky hanya bilang.
"Karena aku tak ingin kehilangan jejakmu."
Ya, seromantis itu lah Luky, dan Zahra selalu merasa jadi wanita paling jahat karena terus mengabaikan cinta tulus laki-laki itu dengan menutup mata dan berpura-pura jadi sahabat yang baik. Semua itu ia lakukan karena tak ingin kehilangan sahabatnya. Zahra tersenyum mengingat kelakuan laki-laki itu. Mulai hari ini, ia akan belajar mencintai Luky lebih dari sahabat. Zahra menarik napas lalu bangkit dan menghampiri Anton. Ya, dirinya akan berusaha walau tahu semua tak akan mudah.
********
Seorang Laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah tampan keluar dari dalam mobil. Ia membuka kacamata, lalu masuk ke jemputan dalam negeri untuk menunggu seseorang.
Beberapa saat menunggu, wanita yang meminta dijemput terlihat melambaikan tangan ke arahnya disertai senyum bahagia. setelah itu ia berjalan ke arah wanita bertubuh semampi itu dengan satu tangannya ia masukan ke saku celana. Tampan sekali. Bahkan orang yang tak mengenalnya akan berpikir ia memiliki darah campuran meski pada kenyataannya tidak.
"Sudah lama?" tanya si wanita, kentara sekali ia begitu bahagia. Meski laki-laki di depannya seolah biasa saja.
"Lumayan," jawab laki-laki itu singkat.
"Biar aku yang bawa," sambung si laki-laki sambil meraih tas yang dibawa si wanita. Wanita itu menyerahkan tasnya, lalu mereka berjalan menuju ke mobil. Mobil pun melaju menembus jalanan Jakarta menuju ke daerah Kuningan.
"Jadi, kamu memilih kerja di sini?" wanita berrambut hitam sebahu memulai obrolan.
"Iya, aku rindu Indonesia. Lagi pula Ibu sudah tidak betah di Singapura."
"Lalu kita akan ke mana ini, Dav? Ke apartemenmu?"
"Ada deh, nanti juga kamu tahu," jawab Davie dengan senyum kecil.
"Kamu tuh, sok misterius." Mobil yang dikendarai Davie berhenti di lampu merah. Laki-laki itu mengamati kondisi sekitar.
Jakarta mengalami banyak perubahan, banyak bangunan-bangunan tinggi dan mall-mall baru. Berbeda dari empat tahun yang lalu sebelum ia memilih bekerja di Singapura.
Davie memutar pandangan tepat ke kanan jalan. Dimana terlihat seorang wanita baru saja keluar dari dalam Caffe. Wanita itu sedang melambaikan tangan ke arah seorang pelayan sambil tersenyum lebar. Sebelum akhirnya berjalan di trotoar persis di samping mobil Davie.
Davie tertegun sejenak. Rambut panjang bergelombang itu dikuncir kuda, wajahnya yang putih terlihat memerah terkena sinar matahari. Mengenakan rok selutut bermotif bunga, dengan blous berwarna pink yang simpel, membuat wanita itu semakin anggun. Yang membuat Davie mengernyitkan dahi adalah, wajah wanita itu yang tampak tak asing. Dan senyum itu bahkan masih dihafal Davie di luar kepala. Davie seperti terhipnotis hingga ia tak sadar bahwa suara klakson telah bersahutan di belakang mobilnya
Mengikuti arah pandang Davie, Mitha mengernyit. Tapi yang terlihat oleh Mitha hanya bagian punggung wanita itu.
"Dav, Davie!" seru Mitha menepuk bahu Davie. Laki-laki di sampingnya sedikit kaget.
"ada apa? Ayo jalan," sambung Mitha
"Ah, i-iya." Davi tergagap.
Sepanjang perjalanan, Davie sedikit tak fokus. Masih tak percaya jika wanita yang tadi dilihatnya adalah Zahra. Ah apa mungkin aku salah lihat, karena terlalu merindukan dia?
Mobil yang dikendarai Davi sampai di depan sebuah rumah bergaya mini malis dengan dua lantai.
"Rumah siapa ini, Dav?" tanya Mitha penasaran, sembari menyapu pandangan ke sekitar rumah.
"Aku dan Ibu tinggal di sini sekarang."
"Oh, benarkah?"
Davie mengangguk, lalu mereka berjalan masuk.
"Assalamualaikum," sapa dua orang itu bersamaan, membuat perempuan paruh baya yang sedang duduk membaca buku di teras mengalihkan perhatian.
"Waalaikumsalam," jawab perempuan itu. Lalu bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan mereka.
"Eeeh, akhirnya tamu yang ditunggu datang," Hera tersenyum bahagia ke arah Mitha. Pun dengan wanita itu.
"Ya, Tante. Mitha minta di jemput Davie. Biar cepat ketemu Tante."
"Ya sudah, kalau gitu kita makan siang bareng, yuk. Mama sudah masak makanan kesukaan kamu, Dav."
Davi mengangguk. Laki-laki itu seakan tak berminat menyambung obrolan. "Iya, Ma. Davie ke atas dulu ganti baju." Setelah itu Davi melangkah ke kamarnya di lantai atas.
Davie merebahkan diri sejenak di tempat tidur, berharap lelahnya sedikit berkurang. tapi bayangan senyum Zahra terus menari-nari dalam benaknya. Setelah sekian lama hanya bayangan itu yang mampu direngkuhnya, kini senyum itu terasa begitu nyata. Senyum itu masih sama seperti senyum sepuluh tahun lalu, bahkan semakin memesona
Davie tak pernah benar-benar melupakan wanita itu. Karena janji masa lalunya yang pernah ia ucapkan tak akan pernah ia langgar. Meski untuk mewujudkan semuanya ia butuh begitu banyak tetesan darah dan keringat. Meski untuk semua itu ia harus rela berpisah terlalu lama dengan wanita itu.
Davie tak pernah menganggap hubungan mereka selesai, sebab Zahra pergi tanpa seizinnya. Selama ini Davie menghilang hanya untuk meraih mimpi, demi membuktikan dirinya layak untuk Zahra. Tapi yang jadi bebannya, apa wanita itu benar-benar telah bertunangan? Lalu apa gunanya ia jadi seperti ini, jika benar itu yang terjadi.
Davie membuka dompet, dan melihat foto Zahra yang masih tersimpan rapi -Foto satu-satunya tentang wanita itu yang ia miliki- Hanya foto ini yang membuatnya bertahan meraih mimpi. karena saat lelah mendera, senyum itu yang mengobatinya dan membuat ia bertahan sejauh ini.
"Aku merindukanmu." gumam Davie menatap foto Zahra penuh kerinduan.
********
To be continue ....