Patah Hati Lagi

1175 Kata
Zahra berjalan memasuki sebuah apartemen di daerah Jakarta Utara. Hari ini ia berniat memberi kejutan pada kekasihnya dengan datang pagi-pagi sekali, dan membawakan sarapan yang tadi dibuatnya sendiri. Alfa, kekasihnya selama lima bulan ini, semalam menghubungi sudah kembali dari luar kota. Zahra memang belum lama menjalin hubungan dengan laki-laki itu. Tapi, Alfa dan dirinya berniat melangkah ke jenjang yang lebih serius dari ini. Alfa bekerja di perusahaan yang sama dengannya, hanya mereka berbeda divisi. Dirinya pun telah berjanji pada sang ibu akan memperkenalkan Alfa jika nanti ia mengambil cuti. Pasalnya perempuan yang paling disayanginya itu selalu merengek minta mantu. Zahra sampai di lantai empat gedung apartment, ia tak perlu repot-repot mengetok pintu, karena wanita itu memiliki akses masuk. Alfa memberikan akses padanya dengan alasan agar ia bisa kapan saja masuk tanpa susah payah. Zahra membuka pintu, keadaan apartemen sangat gelap. Ia mencoba memanggil Alfa, Tapi tak ada jawaban. Setelah menyalakan lampu, diletakkannya makanan yang ia bawa ke meja, lalu memutuskan mengecek kamar kekasihnya. Hanya ada dua kamar tidur di apartemen ini. Saat memasuki kamar, Zahra tak menemukan laki-laki itu. ia hanya mendapati ranjang yang terlihat berantakan dengan baju-baju berserakan. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika matanya menangkap sebuah gaun dan pakaian dalam wanita juga berserakan di sana. Samar-samar didengarnya suara desahan dari kamar mandi. Zahra memutuskan mendekat dan melihat dari celah pintu yang sedikit terbuka. Betapa tercengangnya ia ketika mendapati di depan sana, Alfa duduk di bathub bersama seorang wanita duduk di atasnya. Darahnya serasa mendidih, ia memutuskan menyentak pintu keras-keras, seolah memaksa sepasang manusia yang tengah dimabuk birahi itu menyudahi aktivitasnya. Yang membuat wanita pemilik mata bulat itu lebih sakit adalah kenyataan bahwa Alfa sekarang tengah bersama Nanda, sahabatnya sejak Kuliah. "Arrrg! Dasar b******k!" umpat Zahra. Lalu langsung melesat keluar ruangan. Alfa buru-buru menyudahi aktifitasnya dan meraih bokser yang tergeletak di lantai. Meski di depannya Nanda terlihat kesal. Setelah itu ia mengejar Zahra sebelum wanita itu keluar dari apartemennya. "Nana, dengarkan penjelasan ku!" Alfa menarik tangan Zahra saat wanita itu hendak membuka pintu. Nana adalah panggilan kesayangan Alfa untuk dirinya. "Tak ada yang perlu dijelaskan, karena semuanya sudah jelas. Dasar menjijikkan!" ujar Zahra dengan napas terengah. Ia menatap kekasihnya penuh amarah. "Aku ... aku nggak berniat mengkhianatimu, aku bisa apa? Aku laki-laki normal, Za. Sementara kamu nggak pernah ... " Alfa menggantung kalimatnya, ditatapnya Zahra dengan frustrasi. Zahra hanya menatap laki-laki itu tak habis pikir, senyum miris tersungging di bibirnya. Ia tahu sekali apa maksud laki-laki yang lima bulan ini mengisi harinya. Tapi bukan berarti itu bisa dijadikan alasan untuk Alfa berkhianat. Ditengah perdebatan, Nanda keluar dari kamar hanya mengenakan kimono. Wanita cantik itu menyunggingkan senyum mengejek ke arah Zahra. Seolah menegaskan bahwa dirinya hanya seorang pecundang. "Ya ... aku tahu sekarang, hanya sebatas ini cinta yang kamu bilang untukku? Hanya sebatas nafsu. Selamat, kalian berhasil menipuku separah ini. Sekarang kita PUTUS! Jangan pernah lagi perlihatkan wajah kalian di depan aku! MENGERTI!!" setelah mengatakan itu Zahra keluar dan membanting pintu. "Kenapa semua laki-laki di dunia ini b******k!" umpat Zahra saat ia sampai di dalam lift. Wanita itu menarik cincin yang melingkar di jari manisnya dengan kasar, hingga menimbulkan suara berdentang saat cincin itu jatuh ke lantai lift. Untuk kesekian kalinya, Zahra harus mengalami hal ini. Apa salahnya hingga nasib percintaannya selalu berakhir tragis. Berulang kali selalu gagal menjalin hubungan hanya karena masalah yang sama. Zahra menghela napas kasar, berusaha menghilangkan rasa sesak di dadanya. Tidak, dia tak akan pernah menangis hanya demi pria b******k seperti Alfa. Zahra juga tak pernah membenci laki-laki atau trauma meski berulang-ulang selalu dikhianati. Sebab dia selalu berpikir positif tentang segala hal yang berhubungan dengan takdir. Mungkin saja itu karma dari salah satu mantannya yang dulu pernah dia sakiti. Begitu pikirnya. Dia hanya merasa lelah, lelah terus seperti ini sementara umurnya sudah tak lagi muda. Beberapa bulan lalu wanita itu menginjak dua puluh sembilan tahun, dan bukan saatnya lagi gonta-ganti pasangan. Zahra hanya ingin menunggu seorang yang tulus datang melamarnya. Tadinya Zahra pikir bersama Alfa dis akan mulai memikirkan masa depan. Dis pikir Alfa berbeda dari semua mantan pacarnya yang selalu memutuskan dirinya dengan alasan sama. Mereka bilang tak tahan berpacaran dengannya yang terlalu cuek. Mereka berdalih Zahra kurang perhatian dan membuat mereka jenuh. Ya, Zahra mengakui itu. Dia memang tak pernah mencintai semua laki-laki yang menjadi mantannya. Kecuali satu laki-laki yang membuatnya jadi begini. Membuatnya tak bisa mencintai lagi. Hingga setiap hubungan yang dijalaninya terasa hambar. Mungkin benar kata orang, cinta pertama adalah cinta yang tak mudah dilupakan. Betapa beruntungnya mereka yang pada akhirnya bisa menjadikan cinta pertama sebagai cinta terakhir. Jangan pikir Zahra sudah move on, tentu belum. Bagaimana bisa move on jika ia masih menjadi stalker akun media cowok itu hingga beberapa tahun setelah mereka putus. Zahra bahkan menghabiskan sisa harinya dengan menatap foto-foto cowok itu. Tapi tiga tahun ini ia mulai lelah berharap. jika suatu saat Tuhan akan mempertemukan mereka lagi. Nyatanya semua tak mungkin karena laki-laki itu menghilang tanpa jejak. Zahra mulai berpikir realistis. Jika hanya berpegang pada harapan yang tak pasti, mau jadi apa hidupnya nanti. Sementara sang ibu terus mendesak agar ia bersedia menikah dengan laki-laki pilihan keluarganya. Zahra tak pernah memikirkan cinta sejak saat itu. Baginya asal laki-laki itu baik, berniat serius, dan bersedia menerima dia apa adanya, maka Zahra akan mencoba menjalaninya secara serius pula. Dengan harapan berakhir di pelaminan. Bunyi suara ting menandakan Zahra sudah sampai di lantai ground gedung itu. Buru-buru ia melangkahkan kaki lebar-lebar seakan tak membiarkan Alfa menyusulnya. Wanita yang kini terlihat berantakan itu  hendak memasuki taksi yang ada di depan apartemen, ketika sebuah tangan menariknya dengan kasar. "Ikut aku! Kamu nggak bisa mengakhiri hubungan ini gitu aja." Alfa berusaha menyeret zahra masuk ke apartemen. Tapi, wanita itu terus memberontak hingga langkahnya terseok-seok. "Alfa, Kamu nggak bisa egois setelah apa yang kamu lakukan! Lepas!" "Diam!" Alfa berkata dengan nada tinggi, dan mengarahkan tatapan tajam. ini pertama kalinya Zahra melihat Alfa bicara dengan nada tinggi, dan memperlakukannya secara kasar. Apa seperti ini sifat asli Alfa? Dan Zahra bersyukur Allah menyelamatkannya sebelum mereka benar-benar menikah. Zahra menggigit tangan mantan kekasihnya itu sekuat tenaga, ia bahkan tak peduli lagi saat teriakan Alfa mulai mengundang perhatian. Memaksa Alfa melepas jegalan tangannya. Zahra buru-buru berlari dan masuk ke dalam taksi yang terparkir di depan apartemen. "Cepat jalan, Pak!" Di luar Alfa mencoba mengejar taksinya. Zahra tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Lelaki yang ia yakini akan membawanya ke ikatan suci justru mengkhianatinya. Yang lebih membuat hancur laki-laki itu bermain api dengan sahabatnya. Hanya karena nafsunya tak bisa tersalurkan pada Zahra. Lalu hubungan apa yang mereka jalani beberapa bulan ini? Mungkin kah Alfa memang tak benar-benar mencintainya? dadanya kembali sesak. Bagaimana bisa hubungannya harus berakhir secara tragis? Lagi dan lagi takdir mempermainkannya. Zahra menghembuskan napas lelah. Lelah dengan jalan hidupnya sendiri. "Tuhan, kenapa sakit sekali?" lirih Zahra sambil memukul dadanya. Air matanya jatuh perlahan. Sakit yang dirasakannya bukan karena Alfa, tapi karena ia telah menceritakan semua kebaikan Alfa pada sang ibu. Setelah ini, apa yang harus Zahra jelaskan? ibunya pasti akan kecewa. "Apa salahku, apa aku nggak pantas dicintai?" lirih Zahra pada dirinya sendiri. Lalu wanita itu mengusap air matanya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN