Ratusan purnama berlalu, tapi cinta yang Zahra miliki tak pernah terkikis waktu. Meski beribu cara ia mecoba mengusir bayang-bayang laki-laki itu, tetap saja hari yang dilewatinya terasa berjalan dengan lambat.
Kenyataanya, bagi Zahra waktu hanyalah detak menerus, esok atau lusa dalam ragam kemungkinan. Setengah gelas kopi akan tenggelam ke dalam ampas membawa pekat lalu kering. Dan awan akan bergerak atau lenyap termakan gerimis magis pada esok hari yang tak selalu menentu.
Zahra selalu tersenyum di depan orang banyak, tapi ia tak bisa tersenyum untuk dirinya sendiri. karena saat ia mengingat pria itu, rasa sakit akan selalu datang.
Sudah hampir sepuluh tahun Zahra berjuang demi hatinya agar selalu baik dan tak merasa kosong. Tapi nyatanya ia tak sekuat yang terlihat. Jauh di dasar hatinya ia kesepian dan sangat merindukan sosok itu. Seolah ia benar-benar sendirian tanpa cinta, karena tak pernah ada cinta yang lain. Tak bisakah Kau ijinkan aku menata hatiku, Tuhan. Jika memang tak ada lagi jalan untuk kami kembali. Batin Zahra selalu memohon. Bagi Zahra dunianya serasa berputar di satu titik, dan ia lelah sekali.
Awalnya Zahra pikir ia berhasil menanamkan pikiran realistis itu. Bahwa ia tak akan pernah lagi berharap takdir mempertemukan mereka. Faktanya rasa itu masih tetap sama, jantungnya masih tetap berdetak saat mendengar nama laki-laki itu disebut.
Zahra menengadahkan wajah ke atas langit, menatap hamparan bintang yang tersaji di atas sana. Beruntung sekali hari ini alam sedang berpihak padanya. Hingga malam minggunya tak terlalu mengenaskan dengan hanya bergelung di dalam selimut.
Wanita itu menarik napas lelah, saat teringat lagi pertemuannya satu minggu yang lalu dengan Wira, Sahabat masa SMA laki-laki itu. Karena kabar dari dia lah yang membuat Zahra tak berhenti memikirkannya lagi.
Zahra turun dari taksi, dan berjalan memasuki Ballroom hotel di kawasan Soedirman. suara ketukan high heels silver nya beradu dengan lantai. Wanita itu memakai gaun biru selutut dengan model simple yang pas di badan. Sementara rambut panjang bergelombang nya dibiarkan tergerai. Zahra menyapu pandangan ke seluruh sudut ballroom beharap dapat menemukan Diandra.
Hari ini ia tengah menghadiri acara pesta pernikahan yang diadakan keluarga Diandra.
Sebenarnya Zahra enggan sekali jika bukan karena Diandra yang merengek. Ia tak habis pikir, Kenapa Diandra harus mengajaknya jika pada akhirnya ia hanya menjadi sebuah patung di tengah-tengah acara pesta.
Memang ada beberapa orang yang ia kenal. Tapi mereka semua membawa pasangan. Sementara dirinya terlihat seperti ayam kehilangan induk. Diandra bahkan tak terlihat batang hidungnya sedari tadi.
"Isssh ... nyesel banget aku datang ke tempat ini," gerutu Zahra. Lalu wanita itu memilih berjalan menghindari keramaian, sembari terus mencoba menghubungi Diandra. ia memutuskan duduk di sebuah taman yang cukup sepi. Zahra tak terlalu suka keramaian, ia lebih nyaman jika berada di tempat yang tenang dan jauh dari hingar-bingar.
Beberapa saat setelah ia duduk sebuah suara menegurnya.
"Mbak, Mbak Zahra bukan?" tanya laki-laki itu sambil mengamati wajah Zahra. Zahra yang kebingungan memilih bangkit dan mengamati laki-laki berperawakan tinggi itu. ingatannya kembali terlempar pada masa-masa SMA.
"Kamu ... " Zahra menggantung kalimat dan berusaha mengingat-ingat namanya.
"Iya, ini aku, Wira. Sahabatnya Davie waktu SMA. Kamu masih ingat 'kan?
"Ah ... ya aku ingat. Ya ampun, dunia ternyata sempit banget ya. Kita bisa ketemu di sini." Laki-laki di depannya tersenyum, dan mengangguk setuju dengan ucapan Zahra.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya laki-laki itu.
"Aku, baik. Kamu?"
"Ya seperti yang kamu lihat. Aku baik. Ah ya ... boleh aku duduk?" Ijin Wira. Zahra mengangguk.
"Kamu bekerja di sini?" Wira memulai obrolan.
"Ah ... Ya. Kamu sendiri?
"Aku kebetulan lagi ada keperluan di Jakarta." ada jeda sejenak sebelum Wira melanjutkan bicara.
"Emm ... ngomong-ngomong, apa kamu tahu keberadaan Davie, Za?" Zahra terdiam dan menatap laki-laki itu tak mengerti. Bagaimana bisa Wira bertanya prihal Davie padanya. Sementara mereka bahkan hampir sepuluh tahun tak bertemu.
"Bukannya kalian sahabat? Kenapa bisa kamu nggak tahu keberadaannya?"
"Banyak hal yang terjadi setelah kamu pergi, Za. Aku pikir Davie kembali menghubungi kamu. Terakhir kali kami kontak waktu dia bilang ingin pergi jauh." Zahra terdiam mendengar jawaban Wira.
Jujur, Zahra ingin sekali bertanya banyak hal mengenai laki-laki itu. Tapi pikirannya menyuruh agar jangan lagi mengorek informasi tentang Davie terlalu jauh, jika tak ingin terluka lagi dengan harapan semu.
"Kami tak pernah lagi saling bertegur sapa setelah acara perpisahan," jawab Zahra dengan nada lirih. Sekuat mungkin ia berusaha menyembunyikan raut sedihnya dari Wira.
"ah ... ngomong-ngomong aku duluan ya. Mau cari temanku di dalam. Senang kita bisa bertemu lagi." Laki-laki di depannya tak menjawab, hanya mengangguk pelan, setelah itu Zahra melangkah pergi.
Suara Dering telepon membuyarkan lamunan Zahra. Diraihnya ponsel yang terletak di atas nakas. Tertera nama ibu di id pemanggil. Zahra memutar mata bosan.
Pasalnya sudah lebih dari lima kali ibunya menghubungi hari ini, dan selalu saja membahas hal yang sama. Tentu saja Zahra kesal setengah mati. Meski enggan Zahra akhirnya mengangkat telepon itu.
"Assalamualaikum, ada apa, Bu?" Zahra langsung menjauhkan teleponnya saat mendengar sang Ibu berteriak di seberang sana.
"GIVA! IBU SUDAH BILANG KAMU PULANG HARI INI, KENAPA KAMU TIDAK PULANG!" Zahra meringis mendengar kata-kata ibu. Semenjak Zahra bercerita hubungannya dengan Alfa berakhir, Wanita yang melahirkannya itu menjadi lebih cerewet, dan menyuruh Zahra pulang dengan alasan rindu. Padahal sudah bisa dipastikan rencana ibunya tak jauh dari acara perjodohan, dan ia benci itu.
Mengembuskan napas, wanita yang kini terlihat imut dengan piama panda itu akhirnya menyerah. Karena ia pun butuh pelukan hangat ibunya agar lebih tenang. Selain itu ia juga rindu rumah.
"Iya ... iya ... dua hari lagi Giva pulang, mau mengajukan cuti dulu ke kantor."
"Bagus lah. Ya sudah hati-hati di jalan. Jangan lupa kabari kakakmu juga ya." Setelah sambungan terputus, Zahra menghela napas. Sepertinya sudah tak ada lagi kesempatan untuk menolak.
************
Sesuai rencananya, hari ini Zahra akan pulang ke kampung halaman sekitar dua hari. Wanita yang kini tampak cantik dengan dress bunga-bunga itu berkali-kali melirik jam di pergelangan tangan dan menengok ke arah gerbang, berharap mobil yang ditunggunya segera datang.
"Mas Ian mana, sih. Udah jam segini masih belum nongol."
Beberapa saat kemudian sebuah mobil sedan hitam memasuki apartemen, dan berhenti tepat di depannya.
Lalu keluar seorang laki-laki mengenakan kemeja hitam yang ditekuk sebatas siku di padukan dengan celana jeans warna biru. Sementara di dalam mobil seorang wanita dan gadis kecil melambaikan tangan padanya dengan senyum lebar.
Laki-laki itu turun, lalu mencopot kacamata dan memperlihatkan senyum yang membuat matanya terlihat seperti garis lurus. Sementara di depannya Zahra mendengkus, melihat tingkah sang kakak.
"Lama banget, sih, kebiasaan. Udah tahu hari ini pulang ke Jawa," sungut Zahra mengerucutkan bibir sebal.
Ian terkekeh. Bagi laki-laki yang hanya terpaut dua tahun dengan Zahra itu, melihat kekesalan adiknya adalah hiburan tersendiri. Ian memang suka sekali menggoda Zahra.
"Ya ya, maaf. Mas tadi bangun kesiangan. Tahu sendiri lah aktifitas suami istri setiap pagi apa." Jawaban Ian membuat Zahra bergidik ngeri. Kakaknya memiliki kadar kemesuman akut semenjak menikah.
Zahra tak habis pikir bagaimana kakak iparnya bisa jatuh cinta pada manusia macam Ian. Ian bahkan tak segan-segan memamerkan kemesraan mereka di depan Zahra. Dengan alasan agar membuat dirinya ingin cepat menikah.
"Besok kamu tahu sendiri rasanya," kata Ian sambil mengangkat barang bawaan Zahra, dan memasukannya kedalam bagasi mobil.
"Tante, sini cepat!" teriak gadis kecil berusia empat tahun dari dalam mobil, sambil melambaikan tangan dengan senyum lebarnya ke arah Zahra. Ia mendekat dan membuka pintu belakang mobil, dimana si gadis kecil duduk.
"Hai princess, Hai Kak." sapa Zahra pada Vanesa keponakannya, dan Kakak iparnya, Indri.
"Hai, Va. Dah siap ketemu calon suami?" gurau Indri. Zahra memutar mata bosan. Lagi-lagi membahas calon suami, sebegitu mengenaskan nya kah hidupku? Batin Zahra.
"Apaan, sih, Kak."
Ian masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman. Setelah itu mobil mulai melaju.
"Jadi kamu serius mau menuruti kemauan Ibu?" tanya Ian saat mobil berhenti di lampu merah.
"Tahu lah, Mas. Aku sendiri bingung," Zahra menjawab dengan nada lesu. Membayangkan ia benar-benar dijodohkan rasanya benar-benar tak sanggup.
"Udah sih, Dek. Pasrah aja. Lagian umurmu sudah nggak muda loh. Kasihan Ibu sama Bapak, mikirin kamu terus."
"Semuanya nggak sesederhana itu, Mas. Menikah juga butuh cinta di dalamnya," Zahra merasa tak terima dengan omongan Ian yang seakan memojokkannya. Ian memang selalu saja menggampangkan masalah pernikahan pada Zahra.
"Terus kamu mau nunggu sampai kapan? Sementara kamu sendiri nggak pernah berusaha membuka hati kamu, Za," jawab Ian dengan nada jengkel. Pasalnya Zahra selalu saja bersikap seperti ini, keras kepala. Sedang Ian hanya menghawatirkan adik perempuannya itu.
"Kata siapa? Aku berusaha. Hanya mereka aja yang nggak sabaran menyikapi sifat aku, Mas harusnya tahu itu." Zahra tak mau kalah.
"Oh, ya? Mereka atau kamu yang memang nggak bisa? kamu mau sampai kapan menunggu dia, sih, Za? Sementara kamu nggak tahu dia dimana sekarang, dan sudah menikah atau belum? harusnya kamu sadar hal itu. Ia kalau dia datang melamar kamu beneran, kalau nggak?"
Kata-kata Ian membuat Zahra terdiam, ucapan itu terasa menohok hatinya.
"Sudah, sudah. Jangan debat terus. Kalian kayak anak kecil aja," ujar Indri menengahi. Sementara Vanesa hanya mengamati perdebatan dua orang dewasa itu dalam diam.
Zahra lebih memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ia berusaha keras memikirkan kata-kata Ian. Kakaknya benar, selama ini ia menuduh semua mantannya b******k karena selingkuh. Tapi ia juga lupa, bahwa bukan hanya semua laki-laki itu yang salah. Tapi dirinya juga salah karena terus berharap di sela-sela doanya. Bahwa Davie pasti akan datang suatu hari nanti, sesuai janjinya dulu.
*******
Hai haiii ... udah bab tiga aja ya, bagaimana sejauh ini? Membosankan kah cerita Zahra?
Mohon tinggalkan jejak ya. Sebagai wujud apresiasi kalian atas karyaku.
Part depan Davie akan muncul membawa kejutan hihihi