Mbok Darsih menyambut kepulangan Rendra dengan perasaan heran. Ia terus menatap ke arah mobil yang telah Rendra parkirkan ke dalam garasi. Namun, tidak jua tampak Qiara yang keluar dari dalam mobil itu. Hanya Rendra sendiri yang berjalan dengan wajah yang terlihat kacau.
"Tuan, mana Nyonya? Kenapa Tuan sendiri?" tanya Mbok Darsih dengan sangat khawatir.
"Qiara aku titipan di rumah sakit jiwa, Mbok," jawab Rendra dengan lesu.
Mata Mbok Darsih membelalak sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia tak menyangka bahwa Rendra akan setega itu meninggalkan Qiara di rumah sakit jiwa. Akan tetapi, untuk mencegah pun tidak mungkin. Mbok Darsih hanya bisa merasa miris dengan keputusan majikannya.
Waktu berlalu. Erik yang tidak lagi melihat ibunya di rumah pun mulai mencari. Ia pun sulit untuk di kendalikan, bahkan Mbok Darsih kewalahan walau hanya menjaga Erik seorang.
"Mama ... Erik mau Mama!" teriak Erik sambil terus menangis.
"Sabar, ya, Sayang. Mama sedang berobat," bujuk Rendra menenangkan Erik, Mbok Darsih menyerahkan pada Rendra karena Erik tidak mau berhenti untuk menangis.
"Enggak! Erik mau sama Mama. Papa nakal!" Erik pun memukul wajah Rendra berkali-kali hingga tak sadar Rendra pun emosi.
"Kau ini! Mau meniru ibumu? Iya? Ayo, Papa akan antarkan kau dengan Mama." Dengan penuh emosi Rendra membawa Erik masuk ke mobil dan menyalakan mobilnya.
Mereka tiba di rumah saki tempat Qiara di rawat. Terlihat Erik yang duduk di sebelah Rendra menahan tangisnya. Rendra menatap pada Erik sejenak, ia merasa bersalah pada anaknya itu. Namun, ia tahu Erik begitu merindukan Qiara ibunya.
"Erik mau ketemu Mama 'kan? Ayo," ajak Rendra ketika Erik menolak saat hendak Rendra gendong.
Erik pun menurut saat mendengar akan bertemu dengan ibunya. Sesekali air matanya terjatuh meski tidak terdengar suara isak tangisnya.
"Erik!" panggil Qiara saat melihat Rendra yang menggendong Erik di depan pintu kamarnya.
Qiara menghambur dan meraih Erik dari gendongan Rendra. Ia memeluk dan mencium menciu Erik berkali-kali. Kini barulah terdengar suara isak tangis Erik lagi.
"Mama kangen Erik, Sayang," ucap Qiara sambil menatap dan mengusap wajah Rendra.
"Mama kenapa gak pulang-pulang?" tanya Erik sambil terisak-isak.
Qiara tidak menjawab pertanyaan Erik. Ia mengalihkan pandangannya pada Rendra yang berdiri di ambang pintu. Terlihat napas Qiara mulai naik turun dengan cepat. Matanya menatap tajam pada Rendra sambil menggerakkan gigi-giginya.
Rendra yang mendapat tatapan sinis dari Qiara pun salah tingkah. Napasnya pun memburu sambil matanya terus melirik ke sembarang arah. Ia takut, Qiara akan berbuat nekat.
"Apa kau sudah puas, Bang?" hardik Qiara dengan tatapan tajamnya.
"Maksudmu apa Qiara?" tanya Rendra Waswas.
"Kau sengaja, bukan, menaruhku di tempat ini agar bisa bersenang-senang dengan Yani?" tuduh Qiara membuat Rendra geleng-geleng.
"Apa sekarang kau ingin menyingkirkan Erik pula?" tuduhnya semakin sengit. Membuat Rendra semakin terpojok.
"Kau salah sangka Qiara," ucap Rendra ia ingin menjelaskan yang sebenarnya.
"Iya. Aku memang telah salah sangka. Aku salah mengira kau lelaki yang baik. Nyatanya kau b******k!" jerit Qiara membuat salah satu perawat datang.
"Maaf ada apa ini?" tanya perawat tersebut.
"Maaf, Sus. Sepertinya istri saya akan mengamuk," adu Rendra pada perawat tersebut.
"Ibu kemarikan anaknya, ya. Ibu harus istirahat," bujuk perawat tersebut, sambil tangannya mencoba meraih Erik.
"Tidak! Aku tidak ingin dipisahkan dari anakku. Aku tidak mau!" tolak Qiara dengan histeris. Ia mengeratkan pelukannya pada Erik, pun Erik seakan tidak ingin dipisahkan dari ibunya ia mengeratkan pelukannya pada Qiara.
"Aku mau pulang, Bang!" tekan Qiara sambil menatap Rendra yang ketakutan di ambang pintu.
"Kau belum sembuh Qiara. Aku akan membawamu pulang asal kau tidak lagi bertingkah aneh," jawab Rendra.
"Tidak. Sekarang juga aku mau pulang." Qiara bangkit dan berlari menuju jendela kamarnya.
"Jika kau tidak membawaku pulang. Maka aku akan terjun ke bawah bersama Erik," ancam Qiara, ia bersiap mengangkat kakinya ke luar jendela.
"Tidak! Jangan Qiara, jangan! Baiklah, kita pulang. Tapi kemarikan dulu Erik," tandas Rendra, berharap ia mendapatkan Erik kembali. Ia tidak benar-benar ingin membawa Qiara kembali ke rumah.
"Aku tidak bodoh, Bang. Sekarang ayo kita pulang. Biarkan Erik tetap aku gendong," desak Qiara membuat Erik bingung.
"Ta-tapi kau, kau belum sehat Qiara," kilah Rendra.
"Aku tidak sakit, Bang! Aku mau pulang!" tampik Qiara dengan penuh penekanan.
Akhirnya mau tak mau Rendra pun membawa Qiara kembali ke rumah. Setelah menyelesaikan administrasi di rumah sakit dan membuat surat perjanjian.
Di sepanjang jalan menuju ke rumahnya. Erik tampak terus tersenyum bahagia di dalam pangkuan Qiara. Sedangkan Qiara sendiri, tatapannya tajam memandang ke luar jendela mobil yang melaju pelan. Tersirat sebuah cahaya kebencian dari mata Qiara.
Tidak ada percakapan antara Qiara juga Rendra. Hingga tiba di rumah, Mbok Darsih yang melihat Qiara pun merasa senang. Meski ia merasa nyonyanya itu telah berbeda.
"Biar Erik aku yang gendong, Nyonya," ucap Mbok Darsih menawarkan diri.
"Tidak Mbok. Biar Erik denganku saja," tolak Qiara, sikapnya dingin. Ia pun langsung melangkah masuk dan menuju kamar Erik.
"Tuan, ada apa dengan Nyonya?" tanya Mbok Darsih yang merasa sikap Qiara semakin aneh.
"Biarkan saja Mbok. Yang penting kita awasi saja, jangan sampai dia melakukan hal yang buruk," ucap Rendra berpesan. Ia pun mengikuti langkah Qiara masuk ke rumah.
Rendra melihat dari celah pintu kamar Erik yang terbuka. Qiara dengan tatapan kasih sayang memeluk Erik dan membacakan dongeng. Rendra pun tersenyum, ia harap setelah beberapa saat berada di rumah sakit Qiara dapat menyadari jika yang ia lakukan selama ini salah.
Rendra pun masuk ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya yang begitu amat lelah. Hidupnya yang awalnya aman, nyaman, dan tenteram kini malah kacau dan melelahkan.
Akan tetapi, Rendra dikagetkan oleh Qiara yang tiba-tiba saja masuk ke kamar. Tanpa berbicara, Qiara mengumpulkan pakaian kotor yang menggantung di balik pintu. Ia membersihkan debu-debu di atas nakas dan mengganti tirai jendela dengan yang baru. Sungguh, Rendra merasa aneh dengan sikap Qiara saat ini.
"Kau mau makan apa, Bang?" tanya Qiara semakin mengejutkan Rendra.
"A-apa saja, Sayang," jawab Rendra terbata. Ia masih tidak percaya Qiara bertanya itu.
Qiara pun keluar dengan membawa pakaian kotor yang telah ia kumpulkan. Kamar itu kini tampak lebih segar. Rendra yang merasa penasaran pun perlahan mengikuti Qiara. Ia menuju tempat pencucian dan memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci.
Kemudian, Qiara pun membuka kulkas dan mengambil beberapa sayuran dan segera memotong-motong dan hendak memasak.
"Ya Tuhan, apakah Qiara benar-benar sembuh?" batin Rendra di dalam hati. Ia merasa sedikit senang melihat Qiara meski ia terus diam. Dokter mengatakan Qiara terkena depresi yang parah. Mungkinkah saat ini Qiara telah pulih? Hati Rendra di penuhi dengan tanda tanya.
Rendra mencoba untuk mendekati Qiara. Lirih ia bertanya, "Sayang kau masak apa?"
Qiara menatap Rendra dengan tajam, baru kemudian ia menjawab, “Aku masak sayur kesukaanmu, Bang. Sayur asam."
Mendengar jawaban Qiara Rendra pun bahagia. Perlahan ia semakin mendekati Qiara dan memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. Qiara diam, ia tidak menolak atau pun melarang. Perlahan Rendra mengecup pipi Qiara, meski tidak ada respons apa pun. Rendra merasa senang karena Qiara tidak lagi mengamuk seperti waktu lalu.
Mbok Darsih yang tidak sengaja melihat kemesraan Rendra dan Qiara pun ikut bahagia. Ia berharap majikannya akan rukun kembali.
Rendra dengan wajah berbinarnya, duduk di kursi meja makan menunggu masakan Qiara matang. Tak sabar rasanya untuk menikmati masakan istrinya lagi. Beberapa saat menunggu, datanglah Qiara dengan mangkuk berisi sayur asam. Ia meletakkan di atas meja dan kembali ke dapur untuk mengambil lauk yang lainnya.
"Sebentar, ya, Bang. Aku panggil Erik biar makan bersama," ucap Qiara dan di jawab anggukan dan senyum hangat oleh Rendra.
Qiara kembali dengan Erik di dalam gendongannya. Ia mulai menyendokkan nasi ke dalam piring Rendra.
"Bang, sayurmu yang ini. Itu untuk Erik," ucap Qiara saat Rendra menarik mangkuk sayur yang salah.
Rendra pun tersenyum. Ia menukar mangkuk yang telah Qiara tunjuk. Dari wajahnya terlihat sangat tidak sabar untuk segera memakan sayur kesukaannya itu. Namun, ekspresi wajah Rendra pun berubah ketika suapan pertama masuk ke mulutnya.
Begitu juga dengan Qiara, saat ia melihat Rendra menyendokkan nasi yang sudah bercampur sayur, wajah Qiara berbinar bahagia. Ia merasa puas telah memasukkan setengah botol cuka ke dalam mangkuk sayur Rendra.