Baju Baru

1336 Kata
Perlahan Muni membuka kantung kecil yang berada di dalam tas. Namun, belum sempat terbuka Muni mendengar suara Sinta—majikannya. Bergegas ia menyimpan kembali tas tersebut ke dalam lemari dan melangkah keluar. “Nyonya, mau minum?” ucap Muni menawarkan pada Sinta. “Muni. Jangan panggil aku nyonya. Panggil ibu saja, ya,” ujar Sinta dengan lembut. Muni mengangguk. Ia senang dengan perlakuan Sinta yang seakan menganggapnya saudara. “Muni, kau ambil tas itu.” Sinta menujuk sebuah tas berukuran besar yang terletak tidak jauh dari ia duduk. “Ini Bu,” ucap Muni meletakkan tas tersebut di samping Sinta. Sinta mulai membuka tas tersebut. Ia mengeluarkan isinya yang ternyata pakaian. “Sini,” panggil Sinta sambil menepuk sofa di sampingnya, meminta Muni untuk duduk. Dengan malu-malu, Muni pun duduk di samping Sinta. Ia terus memperhatikan Sinta yang sibuk mengeluarkan pakaian yang beberapa di antaranya masih terbungkus plastik menandakan pakaian itu masih baru. “Pilihlah yang muat denganmu, Muni,” kata Sinta membuat Muni terkejut. Muni tak menyangka Sinta akan memintanya untuk memilih. Apa mungkin pakaian itu akan diberikan Sinta untuknya? Ia terdiam memperhatikan pakaian-pakaian baru itu. Sambil menyimpan tanda tanya. “Kenapa diam. Ayo coba,” pinta Sinta yang melihat Muni terus terdiam. “Emmm ... a—aku, Bu a—aku tidak punya uang,” jawab Muni tergagap, ia masih tidak percaya bahwa Sinta akan memberinya pakaian dengan Cuma-Cuma. Sinta tertawa, yang tawanya saja begitu terdengar lembut. Kemudian ia berkata, “Muni, ini semua gratis. Aku tidak memintamu untuk membayar. Pilihlah yang pas denganmu,” ucap Sinta dengan sangat keibuan dan penuh kasih sayang. Mendengar itu Muni begitu bahagia. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali pada Sinta. Seumur hidupnya baru kali ini ia mempunyai baju baru dan sangat bagus. Muni langsung memilih-milih dan mencoba beberapa pakaian yang ia suka dan pas dengan ukuran tubuhnya. Sedangkan Sinta, ia memandang Muni dengan terharu. Ada rasa yang menyentuh hatinya. Tanpa ia sadari bulir bening menetes membasahi pipi. Sinta yang sudah mendengar kisah kehidupan Muni di desa merasa sangat iba. Bu Patin, dia yang sudah menceritakan bagaimana nasib Muni sedari kecil. Oleh sebab itu, Sinta bersikap sangat lembut pada Muni. Mungkin kerena ia memang tidak memiliki anak padahal Sinta sangat menyayangi anak-anak. Meski Muni bukan lagi anak kecil. Ia gadis remaja berumur delapan belas tahun. Namun, Sinta langsung menyayangi Muni. “Bu, ini saja yang Muni pilih,” ucap Muni membuyarkan lamunan Sinta. “Kenapa sedikit? Coba yang ini. Ini juga,” jawab Sinta sambil ikut memilih beberapa pakaian. Hingga akhirnya hampir separuh pakaian yang Sinta bawa berpindah ke dalam lemari Muni. “Maaf, Bu. Bukan Muni tidak menghargai pakaian yang ibu beri. Tapi, agar pakaian ini tidak rusak terpaksa Muni masukkan kembali ke dalam tas,” ucap Muni di dalam hati, saat ia kembali memasukkan pakaian bekas milik Yani kembali ke dalam tas. Semua itu membuat Muni lupa akan sesuatu yang berada di dalam kantung kecil di dalam tas. Ia menyimpan tas yang kini sudah penuh dengan pakaian bekas milik Yani. Kini menampilan Muni berubah total. Ia yang awalnya selalu memakai pakaian yang kuno kini menjelma menjadi gadis cantik dan modern. Tiada yang menyangka jika Muni seorang pembantu rumah tangga. Ia bak putri orang kaya. “Muni, ibu kembali ke butik, ya. Kau baik-baik di rumah. Jika butuh sesuatu langsung telepon ibu, nomernya ada di buku itu.” Sinta menujuk sebuah buku kecil di samping telepon. Sinta berpamitan pada Muni seakan Muni adalah putrinya. “Oh, iya. Jika kau mau kemana-mana, bisa minta tolong pada Sony. Dia pasti akan mengantarmu, aku sudah mengatakan itu padanya,” lanjut Sinta lagi. Setelah Sinta pergi kembali ke butiknya. Muni diam di dalam kamarnya. Ia masih memikirkan perkataan Sinta tadi. Untuk meminta antar pada Sony jika ingin berpergian. “Ah, bagaimana bisa aku meminta tolong pada Sony. Wajahnya dan perilakunya aneh dan menakutkan,” gumam Muni. Ia yang selalu mendapat tatapan tajam dari Sony merasa takut. Jingga menyapa menandakan senja telah tiba. Muni benar-benar seperti ratu di dalam rumah itu. Tidak banyak pekerjaan yang harus ia kerjaakan. Ia pun memutuskan untuk naik ke atas balkon. Tempat itu menjadi tempat favoritnya kini. Selain ia bisa menatap suasana yang indah dari atas, balkon tersebut juga langsung mengadap ke kamar Erik. Pemuda yang membuat hatinya bergetar. Seperti biasa, setiba di balkon Muni langsung merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara dalam-dalam. Kemudian ia menghadap ke jendela kamar Erik. Mencari-cari sosok pemuda itu. Erik melambaikan tangan pada Muni. Betapa girangnya Muni melihatnya. Ia membalas dengan melambaikan tangan pula. Tak lupa senyum terus merekah di wajahnya. Muni dan Erik saling memandang dari kejauhan. Mereka benar-benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama. “Muni!” pekik Sony membuat Muni tersentak. “Apa kau tidak tahu kalau ini sudah maghrib. Masuk!” ucap Sony sedikit membentak. Tanpa menjawab ucapan Sony, Muni berlari turun. Dadanya berdebar menahan rasa takut. Ia benar-benar tak menyangka Sony akan berkata dengan sekeras itu. Muni langsung masuk ke dalam kamarnya dengan masih menahan rasa takut. Ia mendengar langkah Sony yang turun. Tak lama kemudian Muni mendengar suara deru motor milik Sony pergi menjauh. Sony memang akan pergi setiap sore dan akan kembali malam bahkan dini hari. Hati Muni merasa lega. Ia lebih suka Sony si tukang kebun tidak berada di rumah. Itu malah membiat Muni lebih nyaman ketimbang ada Sony. Muni berjalan ke luar kamar menuju dapur. Ia mulai mengahangatkan lauk untuk makan malam dirinya sendiri. Hingga tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar. Muni berjalan membuka pintu. Ia melihat Luci, teman barunya yang umurnya terpaut sangat jauh. “Masuk, Kak,” ucap Muni mempersilakan Luci. Seperti hari kemarin. Luci masuk dan menuju dapur. Ia mencari-cari sesuatu yang bisa di makan. “Wah, ini kau yang memasak pagi tadi?” tanya Luci melihat beberapa lauk yang sudah terhidang dan masih mengepulkan asap. Muni mengangguk kemudian berkata, “Iya. Mari kita makan sama-sama, Kak.” Dengan wajah gembira Luci pun meraih piring. Ia mengisi piring tersebut dengan beberapa macam makanan. Sambil memangku anaknya ia makan dengan lahap. Muni memperhatikan sikap Luci dengan aneh. Luci seperti orang yang sangat kelaparan. Usai makan Luci pun membantu Muni membersihkan piring kotor. Namun, Muni menolak dan bersikeras mengerjakannya sendiri karena melihat Luci yang menggendong anaknya. “Kak, Kalau malam begini Sony pergi kemana? Apa Kakak tau?” tanya Muni, membuat Luci terbahak-bahak. “Jangan bilang kau juga suka dengan sony,” jawab Luci sambil menahan tawanya. “Bukan begitu, Kak. Menurutku yang gila itu Sony. Bukan Erik,” ujar Muni, ia bergidik saat menyebut nama Sony dan mengingat tatapan tajamnya. “Kenapa begitu? Setauku Sony orang yang baik.” Alis Luci bertautan. Ia bingung dengan ucapan Muni barusan tentang Sony. Muni pun menceritakan sikap Sony. “Wah, aku tidak tau kalau Sony begitu. Menurutku kau harus hati-hati padanya juga pada si Erik itu. Kau kan orang baru dan pendatang, jadi lebih baik hati-hati,” ucap Luci berpesan pada Muni. Muni terdiam sejenak. Di sisi lain ia bahagia bisa bekerja di tempat yang menurutnya baik. Namun, di sisi lain lagi ia pun takut pada Sony yang bersikap aneh. Akan tetapi, Erik? Tidak. Muni malah bersemangat saat ia mengingat pemuda dengan rambut sebahu dan lengsung pipit di pipinya itu. “He, kenapa senyum-senyum?” Luci menepuk pundak Muni yang tersenyum karena mengingat Erik. Tanpa Muni sadari di sampingnya ada Luci. “Kakak! Aku kaget.” Muni memukul pelan ke lengan Luci. Mereka seperti dua orang saudari yang sedang bercanda. Jam menunjukkam pukul 21:00 malam. Luci pun berpamitan untuk pulang. Muni mengantarnya sampai ke pintu. Entah bagaimana melihat jendela kamar Erik yang berada di atas menjadi kebiasaan Muni. Sebelum ia masuk dilihatnya jendela tempat Erik biasa berdiri. Lampu temaram kamar itu telah menyala. Sosok Erik pun sudah berdiri di balik jendela dan menatap Muni. Kini Muni yang lebih dulu melambaikan tangan pada Erik. Melihat itu Erik tersenyum menampilkan lengsung di pipinya. Ia pun membalas lambaian Muni. Muni berjalan masuk, ia mengunci pintu dan memeriksa semua jendela dan semua pintu. Memastikan lagi bahwa sudah terkunci. Sony yang kembali malam nanti sudah membawa kunci cadangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN