Setibanya Yani di rumah, ia terkejut melihat Rendra yang berdiri di ambang pintu menatapnya tajam. Dengan jantung berdebar Yani berjalan, ia Yakin Rendra pastilah akan marah.
"Kenapa baru pulang?" tanya Rendra membuat langkah Yani terhenti.
"Bang, ta—tadi aku ketiduran di kursi. Itu sebabnya aku baru saja ke warung," jawab Yani terbata-bata. Tangannya meremas-remas plastik belanjaannya.
"Oh, ya? Bukan karena kau ingin ikut bergosip dengan ibu-ibu itu," sindir Rendra, ada nada amarah di dalam suaranya.
"Ti—tidak, Bang. Sumpah aku tadi ketiduran," ucap Yani membela diri.
"Ya sudah, cepat masuk dan masak. Jangan terlalu suka berkumpul dan bicara hal yang tak penting," hardik Rendra, ia berjalan ke dalam dan duduk di kursi dengan wajah yang kesal.
Yani yang melihat sikap Rendra merasa bahwa Rendra kembali dingin. Ia melangkah masuk dengan wajah tertunduk menyembunyikan wajahnya yang sedih dan air mata yang tiada henti mengalir.
Rendra menatap bahu istrinya yang terguncang, sesungguhnya ia merasa sangat iba. Namun, lagi-lagi ia terpaksa bersikap keras pada Yani agar wanita itu tidak banyak bertanya perihal pernikahannya. Semua hanya karena, Rendra tidak ingin hal yang sebenarnya terungkap.
Hingga sore hari, hati Yani masih diselimuti awan gelap. Ia terus memikirkan kata-kata si ibu yang tak lain adalah istri dari salah satu saksi pernikahannya. Namun, untuk bertanya langsung pada Rendra, Yani merasa tidak ada keberanian lagi. Melihat tatapan Rendra pagi tadi membuat nyali Yani menciut.
Kini setiap hari, Rendra selalu membangunkan Yani pagi-pagi sekali. Ia meminta Yani untuk cepat berbelanja ke warung sebelum ramai para ibu yang hobi bergosip itu di sana.
Tidak ingin suaminya marah lagi, Yani mengikuti apa yang Rendra minta. Walau ia merasa kini kemesraan yang baru saja terjalin telah kandas hilang entah kemana.
"Besok aku akan ke kota," ucap Rendra di saat sedang makan malam.
"Bang, aku ikut, ya," pinta Yani. Ia enggan untuk di tinggal sendiri, apalagi kata-kata Wak Sam selalu terngiang di telinganya.
"Tidak usah. Aku tidak akan lama," jawab Rendra membuat hati Yani kecewa.
"Nanti tolong siapkan baju-bajuku," perintah Rendra lagi yang di jawab anggukan Yani. Ia pun sedih.
Setelah usai makan malam, Yani bergegas ke kamar dan menyiapkan pakaian yang akan Rendra bawa. Sesekali ia menyeka air mata yang meski telah ia tahan tetap meluncur membasahi pipinya.
"Jangan sedih, Yani. Aku janji tidak akan lama," ucap Rendra yang tiba-tiba masuk ke kamar.
"Bang, memangnya sangat harus pergi ke kota?" tanya Yani, ia sesungguhnya tidak mengizinkan Rendra pergi sendiri. Apa lagi hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Di sana ‘kan ada usaha Abang juga. Lagi pula yang di sana itu adalah pusat usahaku. Jadi, aku harus menengoknya, ‘kan?" ungkap Rendra, ia berharap Yani mau mengerti.
"Abang janji tidak akan lama? Jangan seperti kemarin, ya," rengek Yani terlihat sangat manja.
Rendra mengaguk lalu memeluk tubuh Yani. Ia menatap wajah ayu wanita itu. Rendra pun menautkan bibirnya di bibir Yani. Mereka terbawa suasana. Suasana yang kemarin dingin, kembali hangat malam ini.
***
"Ingat pesanku, ya. Jangan berkumpul dengan ibu-ibu itu," pesan Rendra kemudian mengecup kening Yani dengan hangat.
Yani melambaikan tangan melepas kepergian suaminya. Walau sangat berat ia tetap harus menerima. Setelah bayangan Rendra menghilang, Yani melangkah masuk ke kamar. Ia duduk di pinggir kasur melamun. Kemudian tiba-tiba Yani berinisiatif untuk mencari surat-surat pernikahannya. Ia pikir ini adalah kesempatan yang baik, karena Rendra tidak akan tahu.
Yani mulai membuka lemari, ia melihat beberapa map yang tersusun rapi. Di bukanya satu persatu map tersebut. Hanya berisi laporan-laporan hasil penjualan barang di toko Rendra. Namun, Yani masih terus mencari hingga tidak ada map yang tersisa.
Yani merasa lemas karena tidak jua menemukan apa yang ia cari. Ia pun memutuskan untuk mencari ke lemari yang lainnya. Namun, tetap ia tidak menemukan apa pun. Di dalam rumahnya telah ia cari, hanya satu tempat yang ia lewati yaitu toko.
Ia meraih kunci toko dan melangkah menuju tempat itu untuk membuka pintu. Yani mulai mencari dan membuka-buka lemari yang ada di dalam toko. Namun nihil, Yani tetap tidak menemukan apa pun. Ia pun merasa putus asa dan menganggap apa yang di katakan ibu itu adalah benar.
Yani yang sedang duduk lemas di dalam toko tiba-tiba terkejut saat mendengar suara pintu yang diketuk. Ia bergegas bangkit dan mendatangi sumber suara.
"Yani, apa Rendra ada?" tanya seorang bapak yang kebetulan sekali ia adalah suami dari ibu yang membuat Yani gelisah hingga detik ini.
"Pak Kasmin. Sangat kebetulan, aku ingin menanyakan sesuatu hal padamu," ucap Yani membuat Kasmin terkejut.
"Ada apa?" Alis Kasmin bertautan. Ia bingung melihat sikap Yani.
"Masuk dulu, Pak," ajak Yani. Ia tidak ingin sampai ada orang yang mendengar percakapan mereka.
Kasmin mengikuti langkah Yani yang masuk ke rumah. Meski ia bingung ada apa sebenarnya.
"Pak, aku mohon jawab dengan jujur. Bapak hadir sebagai saksi saat pernikahanku dengan Bang Rendra. Pak, apa benar yang dikatakan istrimu, bahwa aku dan Bang Rendra tidak memiliki surat-surat pernikahan. Apa benar Bang Rendra menikahiku hanya secara agama?" Yani memberondong Kasmin dengan beberapa pertanyaan.
Kasmin terlihat gelisah. Ia merasa menyesal sudah memberitahu istrinya perihal pernikahan Yani dan Rendra yang hanya di agama saja. Padahal, saat itu Rendra sudah meminta agar Kasmin menyembunyikan ini dari siapa pun. Termasuk paman Yani yang menjadi wakil di pernikahan Yani. Namun, kesalahan istrinya yang gemar bergosip malah membuatnya dalam masalah.
"Pak jawab. Kenapa diam saja?" desak Yani tak sabar. Ia berharap mendapat jawaban yang pasti.
"I—itu ... aku tidak tahu Yani. Maaf aku mau pulang." Terlihat Kasmin ingin menghindari pertanyaan Yani.
"Tidak, Pak. Jawab dulu. Iya atau tidak. Jika kau tidak mau menjawab, artinya memang benar apa yang istrimu katakan," ucap Yani membuat Kasmin semakin gugup.
"Ya—Yani aku tidak bersalah dalam hal ini. Re—Rendralah yang memintaku untuk menyembunyikan hal ini," ucap Kasmin terbata.
"Jadi ...?" tanya Yani menggantung.
"Iya Yani. Pernikahanmu tidak tercatat karena kalian hanya menikah siri, tapi apa sebabnya aku tidak tahu," ungkap Kasmin membuat tubuh Yani lemas.
Yani terduduk tak berdaya di atas kursi. Bermacam dugaan semakin hadir di dalam pikirannya.
"Aku pulang dulu, Yani." Kasmin berjalan cepat. Ia merasa sangat bersalah sudah mengatakan itu pada Yani. Ia pun kesal pada istrinya yang hobi bergosip itu.
Setelah Kasmin pergi. Yani menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis terisak-isak. Sungguh Yani tidak menyangka bahwa Rendra membohonginya. Tak sabar rasanya ia menunggu kepulangan Rendra dan meminta penjelasan serta alasan Rendra menikahinya secara agama saja.
Yani semakin kesal saat mengingat ucapan Wak Sam pagi itu. Yang mengatakannya w**************n. Padahal, ia tidak tahu menahu soal kenyataan pernikahannya itu.
Dua minggu berlalu Yani menahan rasa gelisahnya. Ditambah ternyata Rendra tidak kunjung kembali. Yani sering mengurung dirinya di dalam kamar. Ia enggan untuk keluar karena saat ini warga desa sedang menjadikannya buah bibir.
Gosip tentang ketidaksahan pernikahannya dengan Rendra semakin ramai dan hangat diperbincangkan. Bahkan ada yang mengatakan Yani menikah dengan Rendra karena harta. Yang membuat hati Yani semakin sakit, mereka mengatakan Yani adalah istri simpanan.
"Kapan kau pulang, Bang," ucap Yani di dalam isak tangisnya. Sudah genap dua minggu Rendra pergi.
Yani terkesiap dan buru-buru menyeka air matanya ketika suara pintu di ketuk oleh seseorang. Ia sangat berharap jika itu adalah Rendra. Namun, Yani merasa kecewa saat membuka pintu ternyata bukanlah Rendra.
"Maaf Mbak, ada surat," ucap orang itu yang ternyata tukang pos.
Dengan perasaan bingung Yani menerima amplop berwarna coklat yang bertuliskan namanya itu. Buru-buru ia kembali masuk ke kamar dan membuka amplop tersebut.
*Untuk istriku, Yani.
Yani, maaf jika aku belum bisa kembali. Di sini pekerjaanku masih banyak. Abang harap Yani bersabar untuk menunggu kepulangan Abang.
Oh, iya. Semoga Yani di sana sehat-sehat, ya. Abang janji jika pekerjaan di Jakarta sudah selesai akan segera pulang.
Jaga diri baik-baik, ya istriku. *
Yani kembali menangis setelah membaca surat yang ternyata dari Rendra. Ia meremas-remas bantal menahan hati yang kesal juga rindu yang menggebu.
"Cepat pulang, Bang. Aku rindu," ucap Yani lirih. Meski di dalam hatinya merasa amat marah dengan hal kebohongan yang di lakukan Rendra. Namun, tidak ia mungkiri jika hatinya pun merasa begitu amat rindu pada sosok Rendra sang suami.