Im Serious

1133 Kata
Yani sudah tiba di rumahnya. Ia masih memikirkan ucapan bosnya tadi. Sengaja ia tidak meminta Rendra untuk mengantar karena tidak ingin banyak orang yang berpikiran buruk terhadapnya. Pertama-tama Yani menemui ibunya di dalam kamar. Ada bekas mangkuk yang sudah kosong. Di samping mangkuk itu pula ada segelas teh yang tinggal setengah. “Apa Pak Rendra yang mengirim ini?” tanya Yani dalam hati. “Yani. Kau sudah pulang, Nak?” tegur ibunya saat melihat Yani sudah berada di depannya. Yani mengangguk seraya tersenyum. Ia kemudian duduk di samping ibunya. Di pijit-pijitnya tangan sang ibu. Ia begitu ingin membawa ibunya untuk pergi ke kota dan berobat. Namun, keterbatasan biaya membuat Yani terpaksa mengurus ibunya dengan obat yang ia beli di apotek. “Bu, siapa yang memberi ini?” tanya Yani lembut. “Nak Rendra,” jawab ibunya. Alis Yani bertautan mendengar sebutan “Nak Rendra” dari bibir sang ibu. Padahal biasanya ibunya itu sering menyebut bos Rendra. Entah mengapa kali ini ia merubah sebutan itu. “Ibu ada butuh sesuatu?” tanya Yani memastikan. Ia enggan membahas sebutkan terhadap Rendra. “Tidak, Nak,” jawab ibunya seraya menggeleng. “Baiklah, Bu. Aku akan membersihkan diri. Ibu tidurlah.” Yani pamit lalu melangkah keluar. Meski tetap ada tanda tanya dalam hatinya ia menahan itu semua. Rendra lelaki kota. Yani tidak berharap banyak padanya, semua yang ia katakan di warung mie ayam tadi ia anggap hanya angin lalu belaka. Yani masuk ke dalam kamar mandi berdinding bambu dan tanpa atap di belakang rumahnya. Perlahan-lahan ia menimba air dari dalam sumur yang dalam itu. Setelah semua bak sudah penuh, Yani memulai aktifitas mandinya. Di guyurnya perlahan-lahar air yang terasa dingin namun tetap menyejukkan. Meski air itu tidak langsung mengenai seluruh kulitnya karena tertutup kain sebagai penutup tubuhnya. Yani tetap merasa betapa air di desanya ini begitu sangat segar. Yani begitu menikmati guyuran demi guyuran air di tubuhnya. Hingga Yani tidak menyadari pintu rumahnya sedang di ketuk seseorang. Setelah merasa cukup bersih, Yani menyudahi acara guyur mengguyur itu. Ia segera menarik handuk dan mengganti kain yang sudah basah di tubuhnya. Hari yang mulai gelap membuat angin berhembus membuat Yani menggigil. Ia berlari kecil masuk ke rumah. Saat hendak masuk ke kamar langkahnya terhenti. Ia terpaku melihat bayangan yang duduk di samping ibunya. Padahal Yani yakin, ibunya sedang tidur. Lalu bayangan siapa itu? Dengan hati berdebar, Yani berjalan perlahan masuk ke kamar. Rasa dingin yang tadi ia rasa kini malah berganti dengan rasa panas dan was-was. “Yani!” “Huaaa ...!” teriak Yani seketika saat namany di panggil oleh si pemilik bayangan. “Sttt ... ibumu sedang tidur, kenapa teriak-teriak?” ucap seseorang itu yang ternyata Rendra. “Ba—bapak, kenapa ada di sini?” tanya Yani terbata. Kini malah jantungnya makin berdebar melihat sosok Rendra. “Bukannya ini tantanganmu?” jawab Rendra. Ia mengerlingkan sebelah matanya pada Yani. Yani yang melihat itu semakin salah tingkah. Ia tak menduga bosnya yang berwibawa itu akan menjadi genit. Sedangkan Rendra kini malah terpesona melihat tubuh Yani yang hanya di balut handuk. Rambutnya yang basah membuat tetesan air terus mengalir membasahi pundak hingga ke d**a Yani. Sadar Rendra memperhatikannya dengan tatapan aneh, Yani langsung menutupi tubuhnya dengan tirai pintu. “Ke—keluar dulu, Pak. Aku mau pakai baju.” Terbata-bata Yani meminta Rendra untuk keluar. Debaran di dadanya membuatnya lupa bahwa ia hanya memakai handuk. Mendengar permintaan Yani, Rendra tersenyum mengangguk. Padahal ia masih ingin memandang tubuh indah Yani yang hanya terbalut selembar handuk. Setelah Yani pastikan Rendra sudah di luar, cepat-cepat ia memakai baju. “Dasar bos genit!” rutuk Yani dalam hati. Namun, bibirnya senyum-senyum mengingat kejadian barusan. Ia jelas melihat tatapan aneh dari mata Rendra. Tatapan itu membuat jantung Yani berdebar tak menentu. Tanpa Yani sadari, ibunya sedari tadi memperhatikan mereka. Di dalam hati, ibunya berharap niat Rendra mempersunting Yani bukan mainan belaka. Sore tadi saat mengantarkan mie ayam, Rendra sudah mengutarakan niatnya ingin menikahi Yani. Ibu Yani sangat bahagia dengan niat Rendra. Ia sengaja tidak memberi tahu Yani perihal kedatangan Rendra. Ia yakin Yani akan bahagia dengan menjadi istri Rendra sang bos pengusaha yang konon katanya sudah memiliki cabang di dua daerah. Ia membuka toko berupa bahan bangunan. Di kota jakarta usahanya itu berkembang pesat, hingga entah angin apa yang membuat Rendra memutuskan untuk membuka cabang di desa tempat tinggal Yani. Yani melangkah keluar setelah memakai pakaian dan mengoles handbody lotion di tangan dan kakinya. Sungguh Yani gadis yang sempurna, hingga banyak pemuda desa yang juga berniat untuk memperistrinya. Namun, Yani yang ingin fokus mengurus ibunya menolak beberapa pinangan dari pemuda desa. Akan tetapi, kini di hadapannya sudah ada Rendra. Pemuda tampan dari kota. Dari awal Rendra menyatakan niatnya, Yani tidak bisa langsung menolak seperti biasanya. Bukan! Bukan karena Rendra orang kaya. Namun, rasa debaran di d**a saat mendengar ungkapan dari bosnya itu yang membuat hatinya tak menentu. Yani terus menatap lelaki yang kini berdiri di depan pintu rumahnya. Namun, mata Yani pun menangkap sekumpulan pemuda di depan rumahnya yang sedang bermain gitar. Setiap malam minggu, di depan rumah Yani memang akan ramai pemuda yang duduk hanya untuk mengobrol atau bermain gitar. Sudah pasti, pemuda-pemuda itu juga sedang mencari perhatian dari Yani. Namun, kali ini mata-mata itu menatap Rendra dengan tatapan yang benci. Seketika hati Yani gelisah. Ia takut pemuda yang sakit hati karena penolakan darinya akan berbuat nekad. “Pak!” panggil Yani. Rendra langsung menoleh. Yani meremas jemarinya tat kala melihat senyum di wajah Rendra. “Sudah selesai?” tanya Rendra. Yani hanya mengangguk. Padahal ia ingin meminta Rendra untuk segera pulang. Namun, suaranya seakan tercekat di tenggorokan. “Boleh aku masuk?” Lagi-lagi Yani mengangguk. Ia masih menahan debar yang semakin menjadi melihat wajah tampan Rendra. Ia benar-benar lupa dengan tatapan tajam dari sekelompok pemuda di depan rumahnya itu. “Boleh duduk?” tanya Rendra lagi. Ia yang sudah di dalam tak kunjung di tawari untuk duduk. “Oh ... Eh, iya, Pak. Silakan!” jawab Yani terbata-bata. Saat ini, Yani yang telah sadar bahwa salah mempersilakan Rendra masuk malah mulai bingung. Berkali-kali ia memandang ke arah sekelompok pemuda itu lagi. Entah mengapa hatinya merasa was-was melihat tatapan tajam dari mereka. “Pak, maaf sebelumnya. Sebaiknya jangan lama-lama. Em ... anu, tidak enak dilihat tetangga,” ucap Yani. Bagaiamana pun ia tak ingin bosnya itu kenapa-kenapa. “Tapi ... apa jawaban dari pertanyaanku tadi siang?” Rendra benar-benar berharap Yani mau menerima pinangannya. Meski ia tahu ada hati yang akan terluka. “Maaf, Pak. Cepatlah pulang,” desak Yani tanpa menghiraukan pertanyaan Rendra. “Ta—tapi ....” ucap Rendra menggantung. Tubuhnya sudah di dorong Yani untuk keluar rumah. Yani menangkap tatapan tajam dari para pemuda di depan rumahnya. Sedangkan Rendra, ia tersenyum-senyum dengan perlakuan Yani yang menurutnya sedikit manja. Tanpa ia sadari di depan sana bahaya sedang mengintai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN