Lima bulan yang lalu. Seorang gadis berumur 18 tahun memutuskan mengadu nasib ke ibu kota. Ia berharap dapat merubah kehidupan dan tidak dipandang rendah lagi oleh orang.
Yani sang ibu, dengan berat hati melepas anak gadis semata wayangnya untuk pergi jauh. Ia tidak bisa menahan keinginan putrinya yang bersikeras untuk pergi bekerja ke Jakarta.
Salah seorang tetangga menawarkan untuk menjadi asisten rumah tangga di rumah kerabatnya di Jakarta. Dengan iming-iming gaji yang lumayan besar Muni tertarik untuk pergi.
“Pikirkan lagi, Nak. Sungguh Ibu tidak ingin berada jauh darimu,” ujar Yani pada Muni.
“Bu, Muni pun tidak ingin jauh dan meninggalkan Ibu di sini sendiri. Tapi, Muni tidak ingin Ibu selalu jadi bahan hinaan orang.” Mata Muni berkaca-kaca mengingat setiap kejadian yang sering ia dan Yani terima.
Yani tertunduk dalam. Ia merasa bersalah karena tidak bisa memberi yang terbaik untuk putrinya. Kehidupan yang kejam ini telah merenggut kebersamaan mereka.
Sebagai seorang anak, Muni tidak pernah mengeluh dengan keadaan ibunya. Ia tahu, ibunya telah menanggung beban yang sangat berat.
Sedang sang ayah. Entahlah, Muni tidak pernah tahu di mana ayahnya berada. Bahkan, wajahnya seperti apa, pun Muni tak tahu.
Sedari kecil ia hanya hidup berdua dengan Yani. Muni tidak berani untuk bertanya di mana ayahnya. Ia tidak ingin melihat Yani sedih. Oleh sebab itu, Muni selalu memendam rasa penasaran terhadap sang ayah.
Menurut yang ia tahu. Yani hanyalah istri simpanan. Lelaki yang menjadi suami Yani sudah memiliki keluarga. Yani seorang gadis desa yang polos. Tanpa ia sadari menikahi lelaki yang telah beristri.
Hingga akhirnya Yani ditinggalkan dalam keadaan telah mengandung. Hingga Muni remaja lelaki itu tidak lagi menampakkan batang hidungnya.
“Bu, doakan Muni berhasil. Muni yakin kehidupan kita akan berubah,” ucap Muni meyakinkan lagi Yani.
Yani menatap wajah putrinya. Di dalam wajah itu terlihat wajah lelaki yang sesungguhnya masih sangat ia rindukan. Hatinya berkata, bahwa ia akan kehilangan Muni. Walau sudah berusaha menepis perasaan itu, tetapi hatinya terus gelisah.
“Bu, Muni akan sering memberi kabar,” bujuk Muni agar Yani tenang.
Pundak Yani terguncang. Ia menangis. Sungguh sangat berat melepas Muni. Namun, Yani sadar tidak bisa memenuhi segala kebutuhan Muni. Ia hanya bekerja sebagai pencuci baju di rumah-rumah tetangga.
Uang yang ia dapat hanya cukup untuk makan saja. Bahkan, Muni hanya bersekolah sampai di sekolah menengah pertama saja. Yani tidak sanggup untuk membiayai sekolah ke jenjang yang lwbih tinggi.
Dengan berderai air mata, Yani menyusun pakaian Muni ke dalam tas yang terlihat usang. Pakaian itu milik Yani dulu sewaktu remaja. Karena, untuk membeli pakaian yang baru sungguh sangat jarang. Terpaksa Yani memilihi pakaiannya dulu untuk di pakai lagi oleh Muni.
“Nak, kalau nanti sudah dapat uang belikan beberapa pakaian,” ucap Yani berpesan.
“Kenapa, Bu? Muni tidak boleh memakai pakaian ini?” tanya Muni. Ia memeluk pundak Yani dan mencium pipinya.
“Bukan. Lihat pakaian ini sudah lapuk. Warnanya juga kusam. Kau akan tinggal di kota, belilah pakaian yang lebih baik.” Tangan Yani masih terus sibuk melipat-lipat paikae.
“Ah, Muni tetap suka, Bu. Muni akan tetap merasa Ibu bersamaku,” ucap Muni dengan sangat manja. Ia tidak ingin mengecewakan ibunya itu.
Yani tersenyum dan membalas pelukan Muni. Dikecupnya Berkali-kali Muni seperti seorang bayi. Gafis itu tertawa girang. Dalam hati Muni, mungkin hal ini tidak akan terjafi lagi.
Diam-diam Muni menangis. Malam yang kian larut membuat waktunya bersama sang ibu akan semakin sedikit. Ditatapnya wajah Yani. Ia ingin paras indah itu terus tergambar di dalam ingatan. Hingga nanti saat rasa rindu membuncah di d**a hanya ada bayangan raut wajah sendu sang Ibu.
“Muni berjanji akan memberi kehidupan yang lebih layak untuk Ibu,” bisik Muni dalam hati.
Ia kemudiam terlelap di dalam dekapan Yani sang ibu. Malam terakhir mereka bersama. Esok Muni akan pergi mengadu nasib ke ibu kota sebagai asisten rumah tangga.
Pagi-pagi sekali Muni bangun. Ia membuatkan teh hangat dan juga menggoreng nasi sisa kemarin. Siang nanti ia akan pergi jauh ke ibu kota. Detik-detik terakhirnya bersama Yani tidak ingin ia loloskan begitu saja.
Mereka makan nasi goreng beralaskan tikar yang telah usang termakan usia. Namun, pagi ini nasi goreng yang hanya berbumbu bawang dan kecap itu sungguh nikmat. Padahal, makanan ini hampir setiap hari ia masak.
“Bu, pegang uang ini. Belikan beras dan telur untuk makan beberapa hari kedepan,” ucap Muni memberikan dua lembar uang seratus ribuan.
“Tidak usah, Nak. Kau pegang saja, belikan keperluanmu di kota nanti,” tolak Yani. Ia lebuh khawatir pada Muni.
“Muni masih menyimpan separuhnya, Bu. Jadi simpan uang ini. Tolong,” pinta Muni memaksa Yani menerima uang yang di berikan tetangganya sebagai uang saku.
Terpaksa Yani menerima uang itu. Ia pun tidak ingin mengecewakan dan membuat sedih putrinya. Sungguh berat hati Yani melepas putri semata wayangnya itu ke kota yang bahkan ia tak pernah datangi. Namun, tekad Muni yang tangguh membuat Yani menerima itu semua.
Mobil tetangga yang akan mengantar Muni ke Jakarta sudah tiba. Muni langsung menaikkan tas usang pemberian sang ibu yang isinya juga lebih banyak pakaian bekas milik Yani.
Yani dan Muni berpelukan erat seakan ini adalah perpisahan untuk selamanya. Mereka menangis, tetapi tetap saling menguatkan.
Muni melambaikan tangan tanda perpisahan. Mobil yang membawanya pergi jauh hingga ia tidak dapat melihat lagi sang ibu yang berdiri dengan air mata di pipi.
“Cepat kembali, Nak,” bisik Yani sambil terus menatap mobil yang di tumpangi Muni menjauh.
Setelah beberapa jam di perjalanan akhirnya Muni tiba di tempat tujuan. Di mana ia akan bekerja mengais rejeki untuk hidup lebih baik lagi.
Sambil menunggu tetangga yang tadi mengantarkan, ia melihat-lihat rumah sederhana yang tampak mewah di mata Muni. Sedari tiba di kota Jakarta Muni terus berdecak kabum. Kota ini banyak sekali gedung-gedung pencakar langit.
Hal yang sebelumnya tidak pernah Muni temui di desa. Bahkan, kali ini ia merasa takjub melihat rumah yang nantinya akan ia tempati. Walaupun bukan menjadi pemilik rumah itu, tetapi ia cukup senang bisa tinggal di tempat yang mewah.
“Andai Ibu ada di sini,” bisik Muni dalam hati. Ia teringat ibunya yang tinggal sendirian di kampung.
“Muni.” Seorang wanita dengan wajah manis menghampiri Muni.
“Mari masuk. Aku akan tunjukkan kamarmu dan memberitahu tugas-tugasmu di sini,” ucap Sinta. Ia pemilik rumah sekaligus majikan Muni.
Muni mengangguk kemudian tersenyum. Ia berjalan di belakang Sinta, masuk ke rumah bercat putih itu.
“Nah, ini kamarmu. Tugasmu hanya membersihkan rumah ini. Aku dan suamiku jarang di rumah, jadi kamu tidak perlu memasak untuk kami cukup masak untuk makanmu saja.” Sembari tersenyum Sinta menerangkan tugas Muni.
“Untuk kebun di depan, kamu tidak perlu memrawatnya karena sudah ada Sony yang mengurus. Paham, kan?” ucap Sinta menerangkan lagi.
Muni mengangguk tanda mengerti. Ia cukup nyaman berada di tempat ini. Belum lagi Sinta yang sangat ramah membuat Muni merasa begitu dekat.