"Apa kalian sedang bertengkar?" Sarah menoleh, menatap pada ayahnya yang berdiri di ambang pintu. "Papa, kenapa Papa ke sini, kalau butuh apa-apa panggil Sarah saja." Om Alvin menghela napasnya, lalu masuk ke dalam kamar putrinya. "Sultan pergi dengan wajahnya yang seperti tidak tenang, apa kalian ada masalah?" Pria paruh baya itu pikir, dulu Sultan tak pernah bersikap dingin seperti tadi. Bahkan, saat menjemputnya, ia merasa jika pikiran dan hati calon menantunya itu seperti tak bersamanya meski raga Sultan ada bersama mereka. "Gak ada Pa, cuma Mas Sultan lagi banyak banget kerjaan, aku kan udah bilang ke Papa dari waktu itu, Mas Sultan gak bisa nyusul karena beneran lagi sibuk," jawab Sarah. Om Alvin merasa, ada yang sedang putrinya sembunyikan. Ia ingat, sesibuk apapun Sultan, du

