Resign

853 Kata
"Sarah, kamu mau minum apa?" Sarah menoleh, ia diam, masih penasaran dengan kemeja putih yang ia cukup hapal mereknya. "Sarah." Rumaisyah menatap bingung pada sahabatnya yang berdiri di depan lemari. Gadis itu mendekati sahabatnya dan seketika ia gugup saat melihat Sarah memegang kemeja putih dalam lemari gantung di depannya. "Sa-Sarah, itu—" "Ini kemeja Sultan, bukan?" tanya Sarah. Susah payah Rumaisyah menelan paksa salivanya. Ia gugup bukan main. Pikirannya langsung tertuju pada malam di mana ia kehilangan mahkotanya yang direnggut paksa oleh bosnya yang tengah mabuk tiga hari yang lalu. "Syah," ucap Sarah, ia tiba-tiba merasa cemas. "Kenapa kemeja Sultan ada di lemari kamu?" 'Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Sarah sangat baik padaku. Dan sepertinya Pak Sultan juga tidak ingat kalau dia sudah menodaiku,' batin Rumaisyah bingung. "Syah, kamu gak khianati aku, kan?" tanya Sarah. Rumaisyah langsung menggeleng dengan cepat. Bagaimanapun, apa yang sudah ia lalui dengan Sultan adalah sebuah kesalahan dalam keadaan Sultan yang mabuk. "Gak Sarah, ka-kamu jangan berpikir aneh-aneh," ucap Rumaisyah, ia gugup. "Kamu gugup Syah," kata Sarah. Susah payah Rumaisyah menelan paksa salivanya, ia harus berpikir cepat mencari alasan. Ia tak mau membuat sahabatnya kecewa. Sekarang, hanya Sarah yang ia punya di dunia ini. "Gak Sarah, aku, aku cuma takut kamu salah paham," kata Rumaisyah, ia lalu mengambil kemeja Sultan itu. Ia tahu, ia tak mungkin berbohong jika kemeja itu milik Kevan. Kekasihnya itu tak akan mampu membeli kemeja dengan merek yang sama. Apalagi ukuran Sultan dan Kevan pun berbeda. Kevan berbadan kecil. "Ini benar kemeja Pak Sultan, cuma, ini gak seperti yang kamu kira." Rumaisyah menghela napasnya, lalu ia memaksakan senyumnya. "Kamu kan tahu Sarah, aku ini sekretaris pacar kamu, ini kemarin aku nggak sengaja numpahin kopi ke baju Pak Sultan, dia ganti di kantor, jadi aku bawa pulang bajunya buat aku cuci, cuma kan aku sakit, jadi belum aku kembalikan ke dia." Akhirnya, Rumaisyah merasa mendapatkan alasan yang tepat. Sarah mengernyitkan dahinya, ia merasa sahabatnya seperti gugup, seperti tengah berbohong, tetapi ia tahu, Rumaisyah tidak mungkin berbohong padanya. Akhirnya, gadis itu pun tersenyum dan menghela napasnya perlahan. "Oh gitu, maaf ya, aku udah sempat salah sangka sama kamu tadi," ucap Sarah. "Gak apa, wajar kok, namanya kalian kan habis LDR, pasti di sana kamu kadang mikir yang enggak-enggak, kan?" tanya Rumaisyah. "Duh, tenang aja Sarah, selama ini Sultan enggak pernah macam-macam kok, kan itu gunanya kamu minta aku jadi sekretarisnya kan, biar bisa ngawasi dia." Rumaisyah memaksakan tawanya. "Ih kamu tahu aja, ya udah ah, aku mau mandi dulu, nanti baju itu kamu lipat aja ya, biar aku yang ngembalikan sama Sultan," kata Sarah. "Oh iya." Setelah Sarah masuk ke kamar mandi, Rumaisyah pun menghela napasnya perlahan, dia sedikit lega. Gadis itu menatap pada kemeja di tangannya, jantungnya benar-benar seolah ingin berhenti, ia takut ketahuan. Rumaisyah tak mau merusak hubungan Sarah dan Sultan, sepasang kekasih yang sangat saling mencintai. 'Aku enggak boleh merusak hubungan mereka, apalagi selama ini, Sarah sudah sangat baik padaku. Sejak orang tuaku meninggal, dia yang selalu ada untukku,' batin Rumaisyah. Keesokan harinya, Rumaisyah duduk di meja kerjanya. Ia terpaksa berangkat bekerja meski tubuhnya masih kurang fit. Ia tak mau membuat Sarah cemas padanya. 'Hari ini Pak Sultan tidak berangkat, dia mau menghabiskan waktu bersama dengan Sarah,' batin Rumaisyah, ia menatap pada pintu ruang kerja atasannya. 'Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini, berada di antara mereka benar-benar membuat hatiku terasa sakit. Aku sangat menyesal atas apa yang terjadi, gak rela, tapi aku terlalu malu untuk jujur pada Sarah, aku gak mau menyakiti dia yang sudah sangat baik padaku.' 'Apalagi, sepertinya Pak Sultan juga tidak ingat apa yang terjadi di antara kami malam itu, jadi lebih baik aku simpan rahasia ini selamanya seorang diri.' Rumaisyah menatap pada layar monitor di depannya, ia baru saja mengetik surat pengunduran diri. Menurutnya, lebih baik dia mencari tempat kerja yang lain, setidaknya ia mengurangi interaksi antara dia dan Sultan yang akan terus mengingatkannya pada malam kelam itu. Setelah yakin dengan keputusannya, Rumaisyah menuju ruangan HRD, ia menghadap pada kepala HRD dan mengajukan surat pengunduran dirinya. "Kamu kan tahu Rumaisyah, kalau mengundurkan diri tidak bisa serta-merta tiba-tiba begitu saja, apalagi kamu ini sekretaris bos, harus tunggu ada pengganti dan pengganti kamu paham dengan pekerjaannya, gak bisa posisi sekretaris bos kosong gitu aja!" "Perusahaan perlu mempersiapkan semuanya, gak akan cukup waktu satu bulan, harus dua atau tiga bulan sebelum pengunduran diri ini disetujui, kamu paham kan?" tanya kepala HRD. Rumaisyah terdiam, mampukah dia bertahan selama satu atau dua bulan? "Bagaimana Rumaisyah?" tanya kepala HRD itu lagi. 'Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Aku harus segera pergi dari sekitar Sultan dan Sarah,' batin Rumaisyah bingung. "Apa Pak Sultan sudah tahu pengunduran diri kamu ini?" "Be-belum Bu," jawab Rumaisyah. Kepala HRD itu berdecak. "Sudahlah, ini akan aku proses setidaknya tiga bulan!" "A-apa? Tiga bulan Bu?" tanya Rumaisyah. "Iya, kalau gak sabar, jangan harap saya buat surat rekomendasi buat kamu cari kerja tempat lain." Rumaisyah pun bingung, ia takut Sarah akan tahu apa yang terjadi padanya jika ia tak buru-buru pergi nanti. Tiba-tiba, ponsel Rumaisyah bergetar, ada satu pesan dari Sarah yang tiba-tiba meminta bertemu dengannya. "Gak, aku gak berani ketemu Sarah, tapi ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN