Rekaman CCTV

1060 Kata
Sarah duduk di kamarnya. Gadis itu masih memikirkan tentang kehamilan Rumaisyah, sahabatnya. "Kalau bukan Kevan siapa?" gumamnya. Sarah menggeleng. "Gak mungkin Mas Sultan, kan?" Jantung Sarah berdebar cepat, ada rasa khawatir jika kebenarannya adalah Sultan yang harus bertanggungjawab atas kehamilan Rumaisyah. Tiba-tiba, Sarah teringat dengan sikap aneh Rumaisyah terhadap Sultan. Sahabatnya itu seperti ingin menghindari Sultan. "Kalau benar seperti dugaanku, apa Mas Sultan mengancam Rumaisyah?" Sarah menggeleng. "Gak, Mas Sultan bukan orang seperti itu," gumamnya. Di kamarnya, Rumaisyah baru saja menghapus air matanya, ia tak henti memikirkan Sarah. Ia yakin, cepat atau lambat semuanya pasti akan terbongkar, mungkin nanti jika bayinya lahir, mungkin akan mirip dengan ayahnya dan hal itu akan menimbulkan pertanyaan yang menuntut jawaban sesegera mungkin. Sarah perempuan cerdas, ia tak akan percaya begitu saja dengan alasan yang mungkin akan ia buat nanti. "Aku harus pergi dari sini sebelum anak ini lahir." Sementara itu di apartemennya. Sultan baru selesai mandi. Pria itu menuju walk in closet. Dia akan meeting via online dengan kliennya di Singapore. Ia harus tetap berpenampilan rapi. Saat akan mengambil kemeja, pandangan matanya tertuju pada sebuah kemeja putih yang Sarah katakan diambil dari rumah Rumaisyah, kata Sarah kemeja itu ketumpahan kopi di kantor, Rumaisyah membawanya pulang dan mencucinya. "Gak, aku gak pernah menumpahkan kopi," gumam Sultan. Pria itu mengambil kemeja itu, lalu duduk di sofa dalam ruang ganti itu. Ia mencoba mengingat kejadian yang diceritakan Sarah padanya. Sekali lagi, Sultan memeriksa kemeja itu. Ia punya beberapa merek yang sama, hingga ia ingat, itu adalah kemeja hadiah dari Sarah yang ia pakai saat akan menjemput Sarah. Namun, hari itu Sarah mengabarinya jika kekasihnya itu gagal pulang hari itu karena ada pekerjaan mendadak yang harus ia selesaikan di luar negeri sana. Saat itu, Sultan marah, ia pergi ke Diskotik dan minum di sana. "Apa malam itu Rumaisyah yang jemput aku?" gumamnya. Dengan rasa penasaran, Sultan pergi mengambil ponselnya di atas ranjang. Ia menelpon bartender kenalannya di club tempat ia biasa minum. "Halo, kau ingat terakhir aku minum, siapa yang kau telepon untuk menjemputku?" tanya Sultan. "Ah ya ingat bos, malam itu sopir panggilan penuh semua, jadi kutelepon sekretarismu, perempuan." Mendengar itu, Sultan langsung panik, ia akhiri panggilan teleponnya, berpikir sesaat, lalu berlari keluar kamar menuju ruang kerjanya. Pria itu duduk di depan monitor yang menayangkan rekaman CCTV apartemennya. "Gak mungkin, kan?" gumam Sultan. Jemari pria itu lalu dengan lincah menari di atas keyboard dan mouse, matanya intens menatap layar monitor di depannya, mencari rekaman tertanggal 8 minggu yang lalu. Satu persatu ia putar hingga tibalah di sebuah rekaman yang menunjukkan ia pulang dengan dipapah oleh Rumaisyah hingga masuk ke kamarnya. Bahu Sultan turun, kamarnya memang tak ada CCTV, tetapi pintu kamarnya terbuka, sedikit banyak ia melihat apa yang terjadi di kamar itu. Sungguh, tubuh Sultan terasa lemas. Ia bahkan tak sanggup melanjutkan melihatnya. Ia palingkan wajahnya. Sultan menarik napasnya panjang, lalu ia percepat rekaman itu, hingga ia lihat, Rumaisyah keluar dari kamarnya memakai kemejanya dan memeluk pakaian yang mungkin milik sekretarisnya itu. "Astaga, apa yang aku lakukan?" Sultan menutup rekaman video itu. Pria itu memijat kepalanya. Mencoba mengingat kejadian malam itu yang ia lupakan. Waktu itu, dia bangun dalam keadaan bahagia, berpikir jika semalam ia telah bermimpi bercinta dengan Sarah kekasihnya. Kini, malam yang ia ingat sebagai mimpi, menampilkan wajah Sarah, tiba-tiba bayangan itu berubah menjadi wajah Rumaisyah yang menangis. Sultan ingat bagaimana dia menggagahi Rumaisyah yang ia kira Sarah. Bahkan, ia memanggil nama Sarah waktu itu. Sultan menampar dirinya sendiri. Rupanya, lelaki b***t yang telah merenggut kesucian Rumaisyah tak lain adalah dirinya. Plakk... Berkali-kali Sultan menampar dirinya sendiri. "Bodoh, sekarang mau bagaimana, Sarah mau bagaimana?" gumamnya penuh sesal. Sultan benar-benar bingung sekarang. Ia takut mengakui perbuatannya. Itu pasti akan membuatnya kehilangan Sarah, ia sangat mencintai Sarah. Sedangkan Rumaisyah, sama sekali tak ada perasaan spesial untuk sahabat kekasihnya itu. Sultan meremas kepalanya, ia benar-benar bingung serta takut. "Aku harus bagaimana?" *** Keesokan paginya, Sarah mengajak Rumaisyah sarapan bersama. Sarah membuatkan nasi goreng seafood kesukaannya dan Rumaisyah. "Kamu ingat Syah, ini makanan kesukaan kita, dulu kita selalu berebut menghabiskannya, kamu doyan banget, sampai kurang terus rebut punyaku," kata Sarah. Rumaisyah terbatuk, ia merasa kalimat Sarah menohok hatinya. "Pelan-pelan Syah, kali ini kamu boleh makan sampai puas, punyaku ya punyamu," kata Sarah. Mendengar itu, Rumaisyah tak tahan lagi, ia bangkit dan langsung menuju wastafel untuk muntah di sana. Sarah yang khawatir, segera menghampiri Rumaisyah dan membantu gadis itu muntah. "Bagaimana, sudah lebih baik?" tanya Sarah saat Rumaisyah menyalakan keran hingga air muntahannya bersih di wastafel. "Sebentar, aku ambil minum hangat buat kamu." Rumaisyah menatap kepergian Sarah yang begitu mencemaskannya. Dadanya terasa sesak, ia merasa menjadi seseorang yang paling kejam di dunia. Tak tahan, Rumaisyah menangis. "Ini Syah, minum dulu," ujar Sarah datang membawa segelas air hangat untuk sahabatnya. Rumaisyah panik, ia segera menghapus air matanya. "Syah, kamu nangis?" tanya Sarah. Rumaisyah menggeleng. "Ini karena muntah tadi," jawabnya yang kemudian segera minum. "Ya sudah, kita sarapan lagi ya," ajak Sarah. Rumaisyah menggeleng. "Aku gak mau, aku, aku mau istirahat saja," ujarnya yang kemudian pergi ke kamar yang ia tempati. Rumaisyah menutup pintu kamarnya, juga menguncinya. Ia duduk di ranjang dan menangis, tak tahan dengan rasa bersalah pada sahabatnya yang sangat baik. Tok tok tok... Pintu kamar diketuk membuat Rumaisyah menoleh ke arah pintu. Lalu terdengar suara Sarah memanggilnya. "Syah, buka Syah, kamu harus makan demi bayimu, Syah!" Rumaisyah semakin tak tahan dengan rasa bersalahnya, ia menutup kedua telingannya, ia masih menahan tangisnya. Sungguh, ia tak tahan, ingin pergi, atau mati sekalian. Di luar kamar, Sarah menghela napasnya, ia merasa sikap Rumaisyah aneh. Rumaisyah seperti menghindarinya. "Apa lupa ingatan benar-benar membuat kita menjadi benar-benar asing, Syah?" gumam Sarah, ia menatap sendu pada pintu kamar di depannya. "Seberat apa bebanmu Syah, sampai kamu seperti sekarang?" Sarah masih meyakini, jika penyebab Rumaisyah hilang ingatan adalah, strees yang Rumaisyah alami sebelum kecelakaan adalah penyebabnya. "Kita ini sahabat, saudara, apa kamu tidak percaya padaku untuk berbagi beban, Syah?" Sarah menitikan air matanya, ia sangat sedih dengan keadaan Rumaisyah. Ingin sekali menggali kebenaran, mencari tahu siapa ayah bayi yang dikandung Rumaisyah. Namun, ada rasa takut, takut jika benar dugaannya bahwa Sultan yang harus bertanggung, juga takut, jika benar Rumaisyah menjadi korban pemerkosaan dari pria sembarang yang bisa saja bukan pria baik. Sesaat kemudian, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Sarah tahu, itu suara mobil Sultan. Gadis itu segera pergi menyambut kedatangan kekasihnya yang batal datang semalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN