Pura-pura

1041 Kata
'Aku harus gimana?' tanya Rumaisyah dalam hati, ia memegang kepalanya yang terasa begitu pusing. "Syah, apa sakit?" tanya Sarah cemas. "Mas." Sarah menoleh pada Sultan. "Apa, apa benturan di kepalanya parah?" "Tidak tau sayang, dokter bilang dia hanya luka luar," jawab Sultan. Rumaisyah berusaha bangkit, Sarah langsung membantunya. "Syah, kamu lihat aku Syah," pinta Sarah. Rumaisyah mengernyitkan dahinya, ia lalu menatap pada Sarah dan Sultan. Tiba-tiba, ia punya satu ide yang mungkin akan menyelamatkan hubungannya dengan Sarah, juga antara Sarah dan Sultan. Lagipula, ia tak mungkin bisa kabur, kan? "Syah," ucap Sarah semakin khawatir. "Kalian siapa?" tanya Rumaisyah. Mendengar itu, Sarah terdiam, ia menatap bingung pada Rumaisyah. "Syah," ucapnya lirih. Rumaisyah sedikit berdebar, ia ingin pura-pura lupa ingatan, benturan di kepalanya, mungkin bisa menjadi alasan untuk amnesia. "Syah, aku Sarah," kata Sarah. "Syah." "Ka-kalian siapa, dan aku ... aku siapa?" tanya Rumaisyah, ia harap aktingnya tidak buruk, ia tahu tak seharusnya ia berpura-pura, tapi ia terpaksa, demi kebaikan semua orang. "Mas, apa Rumaisyah lupa ingatan?" tanya Sarah cemas. Sultan memicingkan mata menatap Rumaisyah, ia tak yakin jika Rumaisyah lupa ingatan, dokter mengatakan, tak ada luka dalam pada diri Rumaisyah. "Sayang," ucap Sarah semakin panik. "Sabar sayang, aku panggil dokter dulu," kata Sultan, ia pun pergi meninggalkan Sarah dan Rumaisyah. "Syah," ucap Sarah, ia usap bahu sahabatnya itu. "Ka-kamu siapa?" tanya Rumaisyah, ia tak tega sebenarnya melihat Sarah secemas itu. 'Maafkan aku Sarah, ini demi kebaikan kamu,' ucap Rumaisyah dalam hati. Tak lama dokter datang memeriksa keadaan Rumaisyah. Sarah dan Sultan menanti dengan cemas. Sama halnya Rumaisyah, ia pun cemas, takut kebohongannya terbongkar oleh hasil pemeriksaan dokter. "Bagaimana dok?" tanya Sarah tak sabar. Dokter menghela napasnya panjang. "Pasien sedang hamil, kami tidak bisa melakukan CT Scan, sedang untuk MRI, alat di rumah sakit kami sedang rusak, mungkin kalian bisa melakukannya di Rumah Sakit lain nanti," jawabnya. "Lalu bagaimana dok, apa mungkin karena kecelakaan tadi, membuat Rumaisyah amnesia?" tanya Sarah. Dokter membangguk. "Ya, bisa. Mungkin benturan di kepalanya mengakibatkan salah satu saraf terganggu, atau bisa jadi ada trauma yang membuat pasien mengalami gegar otak." "Tenang saja, dalam banyak kasus, amnesia akibat benturan bisa bersifat sementara dan ingatan akan pulih seiring waktu." Sarah menatap sendu pada Rumaisyah yang hanya diam sejak tadi. "Bagaimana cara mengembalikan ingatannya dok?" "Dukungan keluarga akan sangat membantu," jawab dokter itu. Sarah menghela napasnya, ia dekati Rumaisyah lagi. "Ya Tuhan Syah, kenapa hidup kamu semalang ini," ucapnya. "Sayang," ucap Sultan. "Kalau dia lupa ingatan, bagaimana bisa kita tanyai siapa ayah bayi dalam kandungannya, Mas," ujar Sarah. Rumaisyah memejamkan matanya, ia menghela napasnya perlahan, ada rasa sedikit lega, setidaknya dengan kepura-puraan ini, dia bisa menghindari masalah sementara waktu. Sampai nanti, dia bisa merencanakan untuk pergi dari kehidupan Sarah dan Sultan. "Kita tunggu Kevan, dia, pasti dia ayahnya," kata Sultan. Mendengar nama Kevan disebut, Rumaisyah merasa bersalah pada kekasih yang telah ia minta putus waktu itu. Kevan pasti akan mengelak, mereka tak pernah melakukan sama sakali. Dan hal itu, Rumaisyah yakin akan menimbulkan pertanyaan dari Sarah dan Sultan lagi. 'Maafkan aku Mas Kevan,' ucap Rumaisyah dalam hati. Setidaknya, dengan berpura-pura amnesia, dia tak harus mengungkap kebenarannya bahwa Sultan ayah dari bayi yang ia kandung. *** Keesokan harinya, Rumaisyah sudah dipindah ke kamar rawat. Dokter sudah melakukan USG lagi terhadap kandungan Rumaisyah dan hasilnya sudah lebih baik dari semalam. "Kamu lihat Syah, ini foto-foto kita saat sekolah dulu." Sarah tengah menunjukkan foto-foto kebersamaannya dengan Rumaisyah di galeri ponsel miliknya. Melihat itu, mata Rumaisyah berkaca-kaca, Sarah sangat baik padanya, mereka sangat akrab bak saudara kandung. Rumaisyah tak tahan dengan rasa bersalahnya, air mata tak mampu ia bendung lagi. "Syah, kamu nangis, apa kamu ingat?" tanya Sarah tak sabar. Rumaisyah menghapus air matanya. "Enggak," jawabnya, ia sedikit panik. "Tapi, kamu nangis Syah," kata Sarah penuh harap. Rumaisyah menggeleng. "Foto-foto itu, terlihat sangat bagus, kita sedekat itu, kah?" tanya Rumaisyah. "Iya, kamu pasti ingat sesuatu, kan Syah?" Sarah masih berharap. "Maaf," ucap Rumaisyah, ia semakin menangis. "Maaf aku melupakan orang sebaik kamu." 'Maaf Sarah, aku telah menyakiti orang sebaik kamu.' Sarah langsung memeluk Rumaisya. "Gak apa Syah, aku gak akan pernah ninggalin kamu." Pintu ruangan diketuk. Sultan masuk bersama dengan Kevan yang baru saja datang. Sarah menatap kesal pada Kevan, padahal pria itu diberitahu jika Rumaisyah kecelakaan semalam, tetapi Kevan baru datang keesokan harinya, siang hari lagi. "Seberapa jauh jarak Jakarta Bandung?" tanya Sarah kesal. "Maaf, ibuku tidak izinkan aku pergi semalam," jawab Kevan, ia lalu mendekati Rumaisyah. "Syah," sapa Kevan, ia langsung menggenggam tangan kekasihnya yang sempat meminta putus darinya waktu itu dan belum ada pembicaraan lebih lanjut karena ia sibuk bekerja. Rumaisyah melepaskan genggaman tangan Kevan padanya, ia memalingkan wajahnya. "Syah," ucap Kevan, ia pikir Rumaisyah masih marah padanya dan masih bersikeras untuk putus dengannya. Sarah menghela napasnya. "Rumaisyah saat ini hilang ingatan, jadi dia mungkin lupa sama kamu," ujarnya. Mendengar itu, Kevan langsung membulatkan matanya. "Syah, aku Kevan, aku pacar kamu, kamu ingat, kan?" tanya pria berkacamata itu. 'Tentu aku ingat, tapi aku gak mau melibatkan kamu,' ucap Rumaisyah dalam hati. "Maaf, aku lupa," jawab Rumaisyah. "Syah," ucap Kevan sendu. "Apa kamu marah padaku Syah sampai kamu lupa sama aku?" "Jangan menyalahkan Rumaisyah seperti itu, dia bukan cuma lupa sama kamu, tapi juga lupa sama aku dan Sultan, dia lupa semuanya, kata dokter ini hanya sementara waktu," ujar Sarah. Mendengar itu, Kevan langsung menatap sendu pada kekasihnya, dia tahu dia kurang baik pada Rumaisyah selama ini, tapi itu bukan murni keinginannya, dia berada pada posisi yang sulit antara Rumaisyah dan juga keluarganya, terutama ibunya yang tidak merestui hubungan mereka. Sarah pun teringat dengan kehamilan Rumaisyah, lalu ia meminta bicara dengan Kevan juga memberikan waktu istirahat untuk Rumaisyah. Akhirnya, Kevan mengikuti Sarah dan Sultan keluar dari kamar rawat Rumaisyah. Di dalam kamar, Rumaisyah semakin berdebar jantungnya, Sarah pasti akan menanyakan tentang kehamilannya pada Kevan, dan Kevan akan terkejut lalu mengelak. 'Maafkan aku Mas Kevan, aku pasti akan mengecewakanmu, tapi ini yang terbaik untukmu, kamu bisa fokus untuk keluargamu nanti,' ucap Rumaisyah di dalam hati. Rumaisyah sedih, tetapi ada sedikit lega karena akhirnya, ia bisa melepas Kevan tanpa memberatkan hati pria itu. Kevan akan kecewa padanya dan membencinya, akan lebih mudah bagi pria itu untuk melupakannya. Sementara di luar kamar, Kevan begitu terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar tentang Rumaisyah. "Ha-hamil? Bagaimana bisa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN