Koridor

1002 Kata
“Sya, ini maksud lo Bang Richard yang pernah traktir di restoran itu, kan?” tanya Alana. Gesya mengangguk. “Yang bawa perempuan waktu kita makan malam di rumah lo?!” tanya Alana lagi. “Iya, sape lagi!? Abang gue yang cuma Bang Richard! Udah gue kasih tahu juga!” seru Gesya yang agak gemas dengan pertanyaan Alana. “Tapi emang sih waktu pertama bertemu itu, Richard supel banget, baik, dan ramah. Terus waktu makan malam di rumah lo, tiba-tiba gak ada negur gue. Dan … yang lebih gak nyangkanya ternyata dia sama nyokap lo sensitif,” “Gak hanya nyokap gue, Al! Makanya gue ini penasaran, apa yang membuat abang gue berubah seratus delapan puluh derajat—“ “Sembilan puluh derajat doang kali Sya—“ “Ya begitulah. Dan gue punya firasat kalau perempuan yang dibawa bang Richard itu adalah biang keroknya!” “Heh! Jangan asal nuduh gitu dong, Sya,” seru Alana yang punya sisi positif thinking mulu. “Abisnya kenyataannya begitu. Lo mau gak bantuin gue ngintai abang gue sama cewek itu??” cakap Gesya. “Maksud lo gimana, Al?” Alana belum paham. “Ya maksud gue, lo bantuin gue buat mata-matain perempuan yang sama abang gue. Siapa dia dan latar belakangnya, dan apa motif dia deketi abang gue.” “Sya, mereka itu pacaran, motif deketin abang lo ya karena saling cinta. Simple. Gak usah lo repot-repot mata-matain,” seru Alana yang lagi-lagi polos. Gesya menghela napasnya. “Yakin mereka saling cinta? Gue malah meragukan banget!” “Sya—“ “Al, gue yakin banget sih kalau ini ada apa-apanya sama cewek itu. Abang Richard itu anak yang baik dan penuh perhatian sama orang tua, gak pernah bentak-bentak gitu. Malahan nih ya kalau nyokap gue sakit, abang gue jadi orang garda terdepan yang nolong,” “Sekarang?” “Kagak, lebih milih jengukin ceweknya ketimbang antar nyokap gue ke rumah sakit,” “Hah serius?” “Iya … gue kesel banget kalau lihat kejadian itu,” seru Gesya dengan mimik wajah yang gemas. “Kejadiannya sekitar bulan lalu sih, waktu itu nyokap gue ngeluh asam lambungnya naik dan pengen dibawa ke ruma sakit. Bokap gue masih gak bisa dihubungin karena bertepatan dengan meeting kantor. Gue pun gak bisa dihubungi karena waktu itu lagi antar pesanan baju, lo dengerin gue ngomong, kan?” Gesya memastikan. Alana menganggukan kepala. “Terus itu, yang ada di rumah hanya abang gue yang lagi telponan, nyokap gue minta tolong abang gue anter ke rumah sakit. Tapi nyatanya abang gue nolak karena ceweknya lagi sakit juga. Di situ kondisinya kita semua belum tahu siapa ceweknya abang gue. Abang gue pergi ninggalin nyokap gue di rumah, dan nyokap gue ke rumah sakit sama satpam.” Terang Gesya dengan hati yang penuh emosi. Alana mendengarkan baik-baik ucapan Gesya, Alana tidak mencerca apapun, dan tidak pula memberikan respon apapun. Yang pasti, Alana bukan orang yang asbun alias asal bunyi terhadap sebuah cerita.  Bisa saja Gesya membubuhi cerita yang tidak-tidak, dan hoax. Siapa tahu? *** Dan di sebuah apartemen yang didatangi Marsha dan Richard, Marsha bergelayut manja di lengan kanan Richard. Richard yang gemar dengan kemanjaan Marsha ini, terus-terusan mengecup kening Marsha sembari membelai rambut Marsha. “Pagi ini gak ke kantor, Sayang?” tanya Marsha yang sedang berjalan di koridor apartemen bersama Richard. “Paling bentar lagi, tapi gue mau sama lo dulu, karena kalau sehari gak ketemu lo, rasanya kayak dua setengah abad!” seru Richard dengan gombalannya. “Gombal banget deh lo … ada maunya ya?” Marsha menodong Richard dengan tatapan manja. Marsha pandai sekali memancing Richard. “Hmm, menurut lo?!” Richard senyam-senyum. “Ya mungkin saja,” seru Marsha yang sudah paham betul soal keinginan Richard kalau sudah dirinya bermanja di pelukan Richard. “Nah itu tahu, hehe,” Richard mentoel bibir Marsha, ada sebuah tanda-tanda yang tersembunyi. “Kalau begitu, coba bikinin gue puisi dulu!” “Hmm, bisa gak ya? Oh bisa deh … ehem … ehem …” Richard pun mulai menelan ludah, berdehem, dan membacakan sebua hpuisi cinta. Hi, Marsha. Kamu seperti mentari yang menyinari pagiku, setiap hari di pagi buta. Kamu memberiku pancaran cinta yang hangat, dan tidak ada yang bisa menggantikanmu. Kamu adalah orang yang pertama kali aku ingin dekap, cium, dan peluk sampai aku terlelap lagi. Hi Marsha. Aku menjadi orang yang paling bodoh di dunia ini, karena terus-terusan memikirkanmu. Aku bisa saja seharian tidak makan dan kuat membara, hanya karena berada di dekatmu. Mungkin ini sebuah halusinasi, tapi aku yakin cinta kita berdua akan terus merekah bak bunga di taman cinta. “Gimana???” tanya Richard pada Marsha yang di sampingnya itu sudah senyum-senyum. “Ah! Lo dapat dari mana itu puisi? Comot di i********:, ya!?” sahut Marsha yang tidak menyangka Richard bisa bikin puisi. “Kagak lah!! Ini gue sendiri yang bikin. Gue sendiri yang ngucapin karena ada benih-benih cinta yang keluar dari dalam otak gue,” ujar Richard. “Oh ya?” Marsha manggut-manggut. “Kok lancar banget ya kayak hapalan. Gue gak yakin kalau lo bikin sendiri.” “Ya elah Mar … percaya kali. Gue itu ya kalau udah sama lo, deketan sama lo, pasti bawaannya happy dan hidup tuh serasa mulus. Persis kayak bibir gue ini yang mulus ngomongin apa aja, terutama gombalin kamu,” lagi-lagi Richard mencolek bibir Marsha. “Ah kamu bisa aja!!!” Marsha menepuk-nepuk d**a Richard dan kedua matanya auto menatap mata Richard. Marsha melihat ke kiri dank e kanan, celingak celinguk memastikan sesuatu atau ada orang yang lewat. Dan ternyata, semuanya aman terkendali. “Lo mau ngerasain bibir gue sekarang?!” tanya Marsha. Richard hanya senyum mengangguk dan memejamkan kedua matanya. Marsha pun mendekati wajahnya ke Richard dan berseru, “Jangan buka matanya sampai gue selesai!” seru Marsha dan Richard menganggukan kepalanya lagi. “Satu … dua … tiga … empat … lima ….” “WOY! MARSHA! RICHARD?!” sebuah teriakan mengguncang telinga Richard dan Marsha. ju r e w v a v s ww
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN