Asya mengaduk-aduk orange juice nya seraya berpikir. Kemudian ia baru menjawab, “Iya lah. Ngapain gue bikin rumit, kalo beneran mau yaa harusnya gue terima aja dulu. Dia nembak gue udah berkali kali juga.” “Yaa gimana, Sya. Lo butuh Silfa juga buat sadar lo ternyata suka kan sama Rafael.” “Apa sih, Rel. Gue gak pernah bilang ya, gue suka ama tuh cowok.” Kirel hanya tertawa mendengar Asya mengelak. Meski Asya tidak pernah mengatakannya, memangnya ekspresi dan segala cerita Asya selama ini masih kurang jelas untuk menyimpulkan bahwa cewek ini menyukai Rafael? Namun, Kirel hanya mengangguk, menuruti ucapan Asya. Keduanya terus mengobrol, menceritakan segala kehidupan mereka yang selama ini berjalan. Saling bertukar kabar dan melepaskan kerinduan satu sama lain. Juga tak luput dari obrol

