4. Bersembunyi

2340 Kata
    -North Carolina, Amerika Serikat-          “Ke kiri… ke kiri… turunkan perlahan. Turunkan!”     Seruan petunjuk haluan pengangkutan kargo di kapal itu terdengar di mana-mana. Kapal kargo berukuran raksasa itu siap dimuati muatan. Puluhan peti kemas diangkut ke atas kapal. Begitu juga ratusan peti kayu berukuran raksasa.     Hingga seluruh barang itu sudah naik ke atas kapal dan seluruh awak kapal sudah siap di posisi mereka masing-masing, jangkar kapal pun dinaikkan. Kapal berlayar. Kapal raksasa itu adalah kapal cargo yang disewa oleh Cybertech untuk mengirimkan produk-produk Cybertech ke Irlandia. Karena barang-barang buatan Cybertech sangat mahal harganya, mereka mengutus dua puluh petugas keamanan, lima belas crew untuk merakit barang serta lima orang supervisor yang mengawasi pengiriman dan proses perakitan barang.     Seorang pria dengan janggut tebal dan berbadan tambun terlihat berjalan mengendap-endap ke salah satu barisan peti kemas di pelabuhan itu. Matanya awas ke segala arah hingga ia menemukan apa yang ia cari. Sebuah truk bak terbuka untuk memuat barang-barang. Ia membuka kenop pintu bak dan melihat dua orang sedang berada di dalam bak truk. Yang pria menahan tubuh sang wanita yang sedang tidak sadarkan diri.     Pria tambun itu langsung mengajak mereka keluar ke dalam kapal. Pria muda itu menggendong sang wanita di punggungnya sambil sebelah tangannya membawa infus yang telah terpasang di lengan wanita itu lalu berjalan cepat mengikuti arah yang ditunjukkan si pria tambun. Si pria tambun membantu membawa tas ransel mereka. Mereka berjalan dengan cepat ke arah kapal yang akan berlayar dan masuk dengan diam-diam hingga ke sebuah ruangan kecil di lambung kapal. Pria tambun itu membuka kunci gemboknya lalu membuka pintunya.     Ada seseorang yang melihat adegan itu dari balik tumpukan kontainer. Gerak-gerik kedua lelaki itu terlihat mencurigakan. Ia memicingkan matanya dan melihat sosok wanita yang ia kenal digendong oleh lelaki muda. Ia juga bisa melihat wanita yang digendong itu memiliki tanda lahir kehitaman pada lengannya. Sepertinya ia harus mengawasi orang-orang itu. Jika memang mereka mencurigakan, ia harus segera melapor ke kantor pusat. ***     “Kalian bisa tinggal di sini sampai kapal bersandar. Aku akan membawakan makanan untuk kalian setiap hari,” bisik pria berbadan tambun yang diketahui bernama Scott itu pada kedua orang yang disusupkannya ke dalam kapal.     Pria muda itu mengangguk lalu membawa tubuh sang wanita masuk ke dalam ruangan. Pria tambun itu meletakkan tas ransel mereka ke dalam ruangan. Aroma kayu lapuk serta bau jerami kering dan lembab menusuk indera penciumannya. Tapi tidak ada tempat lagi bagi mereka di sana. Mereka baru saja keluar dari situasi yang membahayakan nyawa mereka dan beruntunglah ada seseorang yang bersedia menampung dan menyelamatkan mereka.     Pria muda itu membaringkan sang wanita ke atas sebuah peti kayu yang bagian atasnya masih tertutup Jerami dan karung goni. Ia mencari sesuatu untuk meletakkan infus wanita itu. Ia menemukan sebuah tiang kayu di sudut ruangan lalu menariknya hingga ke sebelah tempat Angelica berbaring lalu memasang infus itu di sana. Ia menyalakan kembali saluran infus itu hingga cairan di dalamnya menetes. Ia menghembuskan nafasnya.     Setidaknya mereka selamat di sini. Ia percaya hanya Scott yang bisa ia percayai saat ini.  Ia yakin seluruh awak kapal kecuali Scott adalah orang kepercayaan Greg. Dan, jika dirinya dan Angelica tertangkap di dalam kapal itu maka nyawa mereka dalam bahaya.     Pria itu menarik telapak tangan Angelica yang lunglai lalu menggenggamnya. Dengan pandangan mata sayunya ia melihat wajah Angelica yang masih terpejam.     “Angelica, bertahanlah. Sebentar lagi kita akan ada di tempat yang aman.”     Ia mengeluarkan isi tas ransel yang dibawanya. Ada 6 botol infus yang masih utuh dan cukup untuk persediaan hingga dua hari lagi, dua buah paspor miliknya dan Angelica dengan identitas barunya sebagai suami istri dengan nama Lyndon Matthew dan Miranda Matthew, air mineral dan beberapa buah roti yang menjadi bekal mereka selama perjalanan serta uang yang cukup untuk kehidupan baru mereka di tempat tujuan.     TOK… TOK… TOK…     Pintu ruangan kecil itu diketuk seseorang. Jantung Caleb, si pria muda yang bersama dengan Angelica sekarang, berdetak tak karuan. Ia harus waspada pada apapun yang akan mendatanginya sekarang. Ia memasukkan semua barang itu ke dalam tas ranselnya. Dan dengan hati-hati ia mengeluarkan pistol dari balik punggungnya dan bersiap untuk membuka pintu. Ia tetap harus waspada.     Ia membuka pintu itu perlahan sambil tangannya menarik pelatuk pada pistolnya dan bersiap menembak. Jantungnya berhenti berdetak dan ia menahan nafasnya sendiri.     “GOSH! Kau mengagetkanku, Scott!” seru Caleb lega. Ternyata Scott yang datang. Di tangan pria itu sekarang ada dua buah seragam yang sama dengan miliknya.     “Kalian harus menggunakan pakaian ini jika tidak ingin tertangkap. Kedua seragam ini milik awak kapal yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Aku hanya berjaga-jaga agar tidak ada yang bisa mengenali kalian.”     Caleb mengambil seragam itu dari tangan Scott lalu segera melepaskan pakaian lamanya dan mengganti dengan yang baru. Mata Scott sekarang tertuju pada Angelica.     “Bagaimana dengannya? Apakah kau bisa mengganti pakaiannya?” tanya Scott penasaran. Bukankah rasanya canggung untuk menggantikan baju seorang wanita yang bukan istri atau kekasihnya? Ditambah lagi wanita itu tidak sadarkan diri.     Caleb berhenti sejenak lalu kembali dengan seragamnya. Ia mengancing satu per satu kancing kemejanya.     “Aku akan melakukannya dengan mata tertutup.” Scott terkekeh pelan sambil sedikit menyeringai.     “Bagaimana jika kau menyentuh bagian ‘itu’?” tanya Scott sedikit menggoda dengan tangannya menunjukkan gerakan di depan dadanya. Caleb hanya tersenyum miring.     “Tinggalkanlah kami. Aku akan membereskannya sendiri. Kembalilah ke posmu sebelum dicurigai siapapun.”     “Baiklah… baiklah… Aku akan kembali saat makanan sudah siap.” Scott keluar dari dalam ruangan itu dan bersikap seolah tidak apa-apa yang terjadi. Sayangnya dari sisi yang lain ada seorang anak buah kapal yang memperhatikan Scott baru saja keluar dari ruangan persediaan itu.     Di dalam ruangan gelap itu kini tinggal Caleb dan Angelica. Caleb meneguk ludahnya sebelum melakukan tugasnya untuk menggantikan pakaian Angelica.     “Angelica maafkan aku!” Ia menutup matanya lalu dengan cekatan ia membuka kancing baju Angelica dan menggantikan pakaian Angelica dengan cepat. Begitu semuanya selesai, Caleb bisa bernafas lega. Rupanya sedari tadi ia menahan nafasnya saat melakukan itu. Ia hanya tidak ingin membangunkan Angelica.     Ia duduk di sisi ‘ranjang’ sederhana buatannya untuk Angelica yang tengah berbaring. Ia menyandarkan belakang kepalanya pada dinding kapal dan memejamkan mata. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan menegangkan selama lebih dari 24 jam tanpa istirahat.     Tapi perjuangannya belum selesai. Ia harus tetap menjaga Angelica hingga keduanya sampai di tujuan dengan selamat. Sekarang yang terpenting adalah menunggu Angelica sadar terlebih dahulu.     Suara tetesan air terdengar ke seisi ruangan yang sunyi itu. Tinggal beberapa tetes lagi, infus terakhir yang terpasang di tubuh Angelica akan habis. Namun wanita itu tidak kunjung menunjukkan kesadarannya. Caleb mulai merasakan cemas. ***     TOK… TOK… TOK…     Pintu ruangan itu kembali diketuk seseorang dari luar. Kini ia sudah mengetahui tandanya. Jika pintu gudang diketuk tiga kali, itu tanda Scott yang datang membawakan makanan untuk mereka. Lelaki itu berdiri dan membuka pintunya sedikit. Sebuah tangan dengan tato jangkar di bagian bawah telapak tangan masuk dari celah-celah pintu sambil membawakan dua buah roti padanya.     Pria itu mengangguk lalu menerima roti itu dari tangan Scott. Setelah dirasa aman, pria itu memberikan lagi dua cangkir s**u hangat. Anak buah kapal itu melirik Angelica yang tengah berbaring.     “Bagaimana kondisinya?” tanya Scott.     “Menurut perhitungan seharusnya sebentar lagi ia akan bangun,” kata Caleb sambil melirik jam tangannya.     “Baguslah. Minumlah s**u ini lebih dulu untuk membuat pencernaanmu nyaman.”     Pria itu mengangguk. Namun saat Scott akan menutup pintu gudang, tangan Caleb mencegahnya.     “Apa kau membutuhkan sesuatu lagi?” tanya Scott dengan suara berat khasnya.     Pria itu mengangguk lalu mengambil secarik kertas dari bungkus roti dan menuliskan beberapa digit angka di sana dengan pena yang ia selalu bawa di dalam sakunya. Setelah selesai menuliskan angka itu, ia memberikan pada Scott.     “Tolong kabari dia dan katakan bahwa kami baik-baik saja,” kata pria itu dengan sangat serius. Scott tahu bahwa pesan ini sangat penting bagi kedua orang itu dan ia berjanji akan menjaga kedua orang itu dengan nyawanya. Ia mengangguk lalu keluar dari dalam gudang dan menutup kembali gudang gelap itu.     Caleb menghela nafas lalu membawa semua makanan itu ke atas sebuah peti kayu setinggi pinggangnya. Ia mengambil satu buah roti dan memakannya dengan mencelupkannya ke dalam s**u hangat sambil matanya terus mengawasi Angelica yang sedang tertidur.     Ia kembali duduk dan menyandarkan kepalanya pada tumpukan peti kayu sambil memejamkan mata. Hampir dua puluh empat jam ia terjaga kemarin dan kini badannya terasa sangat letih. Sesekali ia menegok wanita di atas ranjang itu lalu melirik ke arah cairan infus yang menunjukkan tetesan-tetesan terakhirnya.     Entah sudah berapa lama ia tertidur, cairan infus dalam botol itu akhirnya habis juga. Ia menekan tombol lampu pada jam tangannya dan melihat ia sudah tertidur sekitar enam jam. Dan kemungkinan tetesan infus itu sudah habis sejak empat jam yang lalu.     Ia melepaskan selang infus dan membiarkan wanita itu bangun dengan sendirinya. Sayangnya mata lentik itu belum juga terbuka. Ia sedikit merasa kuatir jika perhitungan rekannya meleset dan nyawa Angelica tidak akan terselamatkan. Ia mengatur nafasnya sambil merapalkan doa. Semoga nyawa Angelica dapat tertolong setelah insiden itu. ***     -Swiss-     “Baiklah, aku mengerti,” ucap Nico menutup teleponnya. Ia menghela nafasnya. Dispensasi waktu libur yang ia ajukan beberapa waktu yang lalu baru saja ditolak. Nico diwajibkan berangkat untuk menjalani masa orientasinya selama tiga hari terlebih dahulu di rumah sakit itu baru boleh untuk cuti. Alhasil, mau tidak mau ia pasti mengubah jadwal penerbangannya ke Amerika hingga tiga hari setelahnya.     Baru saja Nico akan kembali membereskan kamar mess yang selama ini ia tempati untuk pindah ke St Ives, tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.     “Nico, ada paket untukmu!” kata penjaga mess mahasiswa dengan membawa sebuah amplop coklat berukuran sedang ke dalam.     Alis mata Nico menyatu serta keningnya berkerut. Ia heran siapa yang mengirim paket untuknya di saat seperti ini. Ia meraba isi paket itu sejenak. Ia merasakan ada sebuah benda seukuran ibu jari orang dewasa di dalamnya yang terasa keras. Makin penasaran, ia memutuskan membuka isinya. Tiba-tiba lengannya terasa disenggol oleh sebuah benda besar hingga paket itu terlepas dari tangannya sebelum ia sempat melihat isinya.     “Maaf, aku tidak bisa melihatmu! Oh… tolong bantu aku, Nic. Aku tidak kuat lagi,” ucap Harrison yang tadi menyenggolnya dengan kardus seukuran kardus televisi itu. Terlihat sekali isinya begitu banyak hingga pria itu terlihat mengalami kesulitan.     Tanpa menghiraukan paket yang jatuh entah di mana, Nico dengan sigap membantu Harrison membawa kardusnya ke dalam truk yang sudah menunggu mereka. Setelah semua barang mereka selesai diangkut, keduanya masuk ke dalam truk karena mereka hampir ketinggalan pesawat ke Inggris.     Dan, Nico pun melupakan paket yang terlempar ke dalam kolong ranjang mess. ***     - Samudra Atlantik-     Sehari lagi telah berlalu namun Angelica belum menunjukkan tanda-tanda siuman. Caleb hanya bisa berdoa demi kesadaran Angelica kembali.     Tiba-tiba jemari Angelica bergerak diiringi bola mata Angelica yang juga ikut bergerak-gerak. Caleb  berangsut dari tempat duduknya dan langsung mengambil tempat di sisi ranjang.     “Hei… Hei… apa kau sudah sadar?” panggilnya terus sambil menepuk-nepuk ringan pipi wanita itu untuk menyadarkannya.     Angelica membuka matanya perlahan dan merasakan aroma kayu yang lapuk bercampur aroma s**u hangat dan wangi roti yang baru keluar dari oven menguar di indera penciumannya. Ia mengamati sekitarnya untuk mendapatkan kembali kesadarannya yang terbang ke awang-awang beberapa hari ini.     "Di mana aku?” tanyanya dengan suara lirih sekaligus serak.     Menyadari Angelica telah sadar, pria itu tidak menjawab pertanyaan Angelica. Ia hanya membuang nafasnya penuh dengan kelegaan lalu malah terlihat sibuk mengambilkan roti dan s**u hangat untuk wanita yang baru sadarkan itu.     Angelica merintih karena kepalanya terasa begitu berat sekarang khususnya di bagian atas telinganya. Ia menyentuh kepalanya yang berdenyut dan sejenak ia merasakan ada bagian di atas kepalanya yang pitak kira-kira sebesar ibu jari. Tapi rasa penasaran dengan keberadaannya lebih besar daripada menanyakan ada apa dengan dirinya. Ia perlu tahu posisinya saat ini karena semua yang dilihatnya sekarang terasa begitu asing.     Pria itu menyodorkan roti dan s**u hangatnya pada Angelica.     “Kau harus segera makan karena kita akan mengalami perjalanan yang sangat jauh sebentar lagi. Kau harus kuat,” ucap pria itu. Wajah pria itu terlihat sangat familiar di mata Angelica. Walau samar, Angelica merasa ia pernah melihat pria itu tapi entah mengapa semua ingatannya seperti hilang tertiup angin. KOSONG.     Sambil menerima pemberian pria itu, Angelica sedikit mengernyitkan dahinya memandangi pria di hadapannya.     “Si-siapa kau? Apa aku mengenalmu? Dan, siapa aku?” tanya Angelica dengan wajah bingungnya.     Ia sungguh tidak mengingat apapun bahkan segala sesuatu tentang dirinya pun tidak. Yang ia bisa lakukan hanya menggunakan insting-nya untuk meraba-raba apa dan siapa yang di hadapannya. Dan pria itu sepertinya bukan seseorang yang membahayakannya, justru ia merasa nyaman dengan kehadirannya. Sayangnya, ia tidak ingat siapa dan apa peran pria itu dalam hidupnya.     Tiba-tiba telinganya terasa berdengung dan ia menjatuhkan makanan dan s**u yang ia pegang ke lantai. Tangannya menutup kedua telinganya dan ia merintih kesakitan.     KROMPYANGG….     Caleb merasa panik. Ia panik jika persembunyiannya diketahui oleh anak buah kapal yang lain. Tanpa menunggu Angelica siap, lelaki itu menarik tangan Angelica untuk bersembunyi ke area yang lebih gelap, di balik sebuah peti kayu besar, begitu mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat.     Benar dugaan pria itu. Dua orang anak buah kapal dengan wajah preman tiba-tiba saja datang dan memeriksa ke dalam gudang. Dengan sigap lelaki itu membekap mulut Angelica agar tidak bersuara. Entah mengapa Angelica hanya bisa menurut walau ia tidak mengenal pria di sampingnya ini. Tapi firasatnya mengatakan pria ini bisa dipercaya.     Merasa tidak menemukan apapun yang janggal, kedua anak buah kapal itu pergi dari gudang. Bersamaan dengan pintu yang tertutup, pria itu membuka bekapan tangannya dari mulut Angelica.     “Ada apa dengan semuanya ini? A-apa yang terjadi padaku? Mengapa aku tidak bisa mengingat apapun?” tanya Angelica lirih dengan nada frustasinya.     “Aku akan jelaskan semuanya begitu kita sampai. Tolong bersabarlah dahulu.” *** A/N: Apa sih sebenarnya yang terjadi? Bukannya Angelica sudah disuntik mati? Bagaimana dia bisa hidup lagi? Apa sebenarnya isi paket untuk Nico? Siapa pengirimnya? Masih ada banyak teka-teki yang belum terjawab. Ikutin aja bab selanjutnya biar nggak penasaran. Tap love dan follow ya…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN