Jangan lupa tap love dan follow ya. Cerita ini bakal seru kalau kalian ikuti saat On Going. Trust me!
Beberapa jam setelah ledakan kapal di Samudra Atlantik
“Arahkan drone’nya untuk menyisir seluruh area!” perintah kapten Marshall, komandan tim penyelamat. Saat ini mereka berada di lokasi kapal yang meledak. Mereka melakukan evakuasi korban dengan menggunakan drone yang memantau dari udara serta penyisiran dengan boat.
Drone itu terbang mengelilingi lokasi kejadian hingga ke daratan terdekat. Teknologi ini adalah ciptaan Cybertech dan dipastikan alat yang digunakan memiliki tingkat akurasi dan kecanggihan tinggi. Drone itu sengaja dipesan oleh tim penyelamat di berbagai penjuru dunia untuk mempermudah proses evakuasi korban. Dan karena tingkat akurasinya cukup tinggi proses evakuasi yang biasanya membutuhkan waktu 48 hingga 72 jam kini hanya ditempuh dalam waktu kurang dari 24 jam.
Sepuluh buah drone dikerahkan untuk mencari lokasi keberadaan para korban ledakan kapal itu. Drone dengan empat kaki itu terbang dan dengan kamera kecil yang mampu berputar tiga ratus enam puluh derajat itu mampu menampilkan gambar permukaan laut secara keseluruhan. Bahkan drone itu dilengkapi dengan sensor yang mampu menangkap bayangan manusia bahkan hingga ke kedalaman 100 meter di bawah permukaan laut.
Sementara penyisiran dilakukan dari udara, regu penyelamat lain sudah bersiap dengan perahu karet atau boat’nya di lokasi. Mereka akan menerima pesan dari pusat kendali drone lalu melakukan evakuasi sesuai koordinat yang diberikan.
“Ada lima korban di barat laut, over.”
“Copy that.”
Hasil temuan drone itu dilaporkan pada tim penyelamat yang berada di lokasi untuk mempercepat proses evakuasi. Setelah menangkap gambar, drone di arahkan ke titik lain di sekitar lokasi. Tiba-tiba nampak sebuah potongan baju formal, seperti kain yang digunakan untuk jas dan di atasnya terdapat sebuah name tag emas bernama “Angelica Roberts”.
“Stop!” Marshall meminta operator drone menghentikan gerak alat canggih itu hingga menampilkan gambar potongan baju itu. Komandan tim penyelamat meminta agar gambar itu diperjelas.
“Angelica Roberts?” Ia menyebut nama yang tertera pada name tag tersebut. Pikirannya seolah mengingatkannya pada seseorang. Ia berusaha mengingat dan matanya terbelalak saat ia tahu siapa sosok yang dimaksud. Ia mengenal nama itu.
“Arahkan drone dan cari korban wanita di sana!”
“Siap!” serentak seluruh operator drone mencari korban berjenis kelamin wanita di area reruntuhan kapal. Tapi setelah menjalankan drone itu sekitar lima belas menit untuk menyisir setiap sudut, nyatanya drone tidak dapat menemukan sosok wanita yang dimaksud. Itu artinya korban itu sudah terbawa arus entah ke mana atau yang kedua sudah tenggelam ke dasar lautan hingga tak mampu lagi dijangkau oleh drone.
“Drone 3 dan 5 pperluas pencarian hingga ke pesisir pantai terdekat. Sisanya lanjutkan pencarian korban lain”
“Yes, Sir!”
Mata Marshall mengawasi seluruh layar monitor di hadapannya. Ia mengamati satu per satu layar monitor yang ada di hadapannya, terkhusus layar monitor drone 3 dan 5 yang mencari sosok Angelica.
Tak berapa lama tiba-tiba ia mendapatkan panggilan dari seseorang.
“Marshall Owen di sini.”
“Captain Owen, aku Gregory Roberts. Aku tahu Anda yang mendapatkan tugas untuk memimpin evakuasi kapal itu. Bisakah Anda menemukan putriku? Dia berada di dalam kapal itu,” tanya Greg dengan sedih dan cemas. Ia terlihat sangat mencemaskan putrinya yang ada di atas kapal itu. Nada bicaranya parau dan serak, matanya berair karena seolah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya dan apakah putrinya selamat dari ledakan kapal atau tidak.
Marshall menghela nafasnya.
“Hingga saat ini kami baru mendapatkan visual pakaiannya yang terkoyak tapi jasad atau tubuhnya masih belum terlihat. Kami masih akan melakukan pencarian lagi. Dalam dua puluh empat jam kami akan memberikan informasinya.”
“Kumohon temukan putriku segera. Aku hanya berharap ia baik-baik saja.”
“Kami akan lakukan yang terbaik, Sir!”
“Terima kasih. Terima kasih.”
***
-New York-
KLIK! Panggilan itu ditutup dan Greg tersenyum penuh kelicikan. Ia menghapus air mata buatan dari matanya lalu menghela nafas panjang. Ia hanya berharap masalahnya akan selesai sebentar lagi.
“Lewis, dapatkan informasi mengenai Angelica dari tim penyelamat. Dan jika memang gadis sialan itu masih hidup, utuslah seseorang untuk menghabisinya.”
Dalam hatinya Lewis terkejut dengan perintah itu. Greg sungguh-sungguh tidak akan mengampuni Angelica walau bagaimanapun dan meskipun Angelica adalah putrinya. Dan, pria itulah yang menyebabkan kecelakaan kapal Angelica.
Lewis tahu semuanya. Ia merekam semua yang Greg lakukan di dalam otaknya. Suatu saat ia akan mengungkapkan semuanya dan membuat Greg tertangkap. Tapi sekarang belum saatnya karena ia masih belum bisa mendapatkan bukti kejahatan Greg, lagipula nyawa putranya, Caleb masih dipertanyakan.
Flashback on
1 jam sebelum ledakan kapal
[Mereka berdua selamat. Nona muda sudah siuman.]
Lewis membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Walau usianya sudah menginjak lima puluh tahun, tapi pria itu masih terlihat sangat bugar dengan otot-otot lengan, d**a dan perut yang masih sempurna. Jelas saja ia adalah purnawirawan militer Angkatan Darat Amerika. Sorot matanya tajam dan wajahnya sangat kaku.
Sudut bibirnya terangkat dan ia dapat bernafas lega saat membaca pesan itu. Putranya dan Nona mudanya sudah berada dalam situasi yang aman. Ia memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku jasnya lalu membawa tasnya masuk ke dalam ruangannya. Ia yakin rencana menyelamatkan wanita itu akan berhasil sebentar lagi. Semoga tidak ada apapun yang akan terjadi setelah ini.
Saat di dalam ruangan, ia pun disambut dengan lirikan penuh ketidakpercayaan dari atasannya.
“Kau ke mana saja, Lewis?”
Lewis melangkah masuk lalu menutup pintunya.
“Maafkan aku, Sir. Aku sedang berkoordinasi dengan tim pengembangan produk untuk proyek kita tadi.”
Greg hanya mengangguk lalu ia pun memulai rapat bersama seluruh dewan direksi dengan Lewis di samping kanannya. Beberapa saat setelah rapat berlangsung, tiba-tiba tangan Greg memberi tanda agar Lewis mendekat. Lewis pun menurut dan ia membungkuk untuk menyamkan tingginya dengan bibir Greg.
“Kau sudah mengurus wanita itu?”
Lewis meneguk ludahnya bulat-bulat. Ia tahu siapa yang dimaksud oleh Greg. Ia mengangguk, tanpa bersuara, seolah sudah melakukan tugasnya dengan baik. Greg tersenyum puas dan memberikan tanda agar Lewis kembali pada posisinya.
Di sela-sela rapat, tiba-tiba seorang bodyguard menerima sebuah kabar di telinganya. Begitu mendapatkan kabar itu, ia langsung membisikkan sesuatu ke telinga Greg. Wajah Greg berubah sangat terkejut dengan berita yang baru saja ia dengar itu.
“Apa?”
Lewis dapat menangkap raut wajah Greg berubah menjadi bengis. Firasatnya mengatakan bahwa ini bukan sesuatu yang baik. Tapi ia harus berpura-pura untuk tidak mendengarkan obrolan kedua orang itu. Bagaimanapun ia harus menutupi segala hal yang ia tahu tentang kejadian ini.
Greg berdiri dari kursinya dan memandang kepada seluruh peserta rapat.
“Kita hentikan rapat sampai di sini,” ucap Greg lantang lalu meninggalkan ruangannya dengan langkah cepat.
Lewis, sang asisten setia Greg mengekor pria itu dari belakang. Mereka berjalan menuju ke dalam ruangan kerja Greg yang megah. Wajahnya berubah menjadi bengis saat ini dan Lewis yakin sebentar lagi Greg akan mengeluarkan rencana jahatnya lagi yang entah untuk apa kali ini. Ia hanya bisa berharap semoga itu bukan menyangkut nyawa putranya.
“Sambungkan ke kapal kita!” perintag Greg dan langsung dituruti oleh Cody Harper, sang bodyguard yang mengabari Greg mengenai temuannya itu. Jantung Lewis sudah tak karuan saat ini. Semoga rencananya menyelamatkan Angelica dan Caleb tidak terbaca oleh Greg.
Beberapa saat kemudian panggilan itu akhirnya tersambung. Cody memberikan tanda pada Greg bahwa sambungan itu sudah diangkat. Greg meminta Cody untuk menghubungkannya dengan pengeras suara.
“Halo, saya Abel, supervisor pengiriman di Sea Master. Baru-baru ini saya melihat seorang wanita di gudang persediaan kapal. Saya yakin itu adalah Miss Roberts.”
Mata Greg terbelalak. Ia terkejut dengan informasi itu. Tapi ia tidak mau buru-buru termakan ucapan itu. Di sisi lain, buliran keringat dingin menetes dari kepala Lewis. Ia berharap semoga crew kapal itu salah orang.
“Kau menemukan putriku? Bagaimana ciri-cirinya?” tanya Greg antusias.
“Dia… berambut panjang berwarna kecoklatan dan di pergelangan tangannya seperti ada tanda lahir berwarna hitam.”
Sepasang mata Greg tiba-tiba terbelalak. Itu benar Angelica. Hanya Angelica yang memiliki tanda lahir di pergelangan tangannya. Dan bagaimana wanita itu masih hidup? Ia jelas-jelas menyaksikan jasad Angelica dibawa keluar waktu itu. Rupanya ada yang berkhianat padanya.
Pikiran Greg melayang untuk menganalisa semua orang yang mungkin berkhianat padanya. Kini ia sudah bisa menebaknya. Orang itu, satu-satunya yang mungkin menjalankan semuanya. Ia tersenyum licik dan bersiap memberikan pelajaran bagi orang itu.
“Aku tahu. Terima kasih untuk informasimu. Aku akan memberikan imbalan yang setimpal untuk keluarga dan anak-anakmu,” jawab Greg singkat tapi dalam otaknya sudah terpikir hal-hal yang buruk. Ia tidak mempercayai siapapun dan tidak akan membiarkan semua orang yang tahu hal ini masih hidup.
Greg memutus sambungan jarak jauh itu.
“Kalian kemarilah!” Cody dan Lewis mendekat ke arah Greg. Jika sudah begini, Greg pasti memberikan perintah untuk membereskan masalah itu dan hati Lewis seketika merasa tak karuan. Ia mencemaskan nyawa putranya. Haruskah putranya juga menghadapi semua kesulitan ini? Hatinya cemas dan takut. Tapi sekali lagi ia harus berusaha tampil tenang agar tidak dicurigai oleh Greg.
“Siapkan drone 005 sekarang juga!”
“Tapi, Sir… drone itu masih belum diujicobakan. Kita tidak tahu seberapa…” tangan Greg terangkat ke udara dan seketika menghentikan ucapan Lewis. Hati Lewis menjadi sangat panik sekarang. Nyawa Angelica dan putranya yang ada di sana dalam bahaya.
“Katakan pada lab drone untuk melakukan uji coba drone 005. Targetnya adalah kapal Sea Master di Samudera Atlantik Utara dan katakan pada mereka, aku ingin kapal itu habis bahkan hingga tak bersisa. Kalau perlu, buat seluruh awak kapal itu tak bernyawa agar tidak ada saksi mata. Kirimkan koordinat penelepon. Setelah itu, tangkap operator drone yang bertugas dan serahkan pada pihak berwenang. Aku tidak mau tanganku ikut kotor.
Dan kau Lewis, pastikan semuanya berjalan dengan lancar. Tutup semua pintu akses informasi kita, buat data untuk membuktikan kesalahan pria itu dan pastikan tidak ada yang tahu hal ini.”
“SIAP!” seru kedua pria itu serentak, walau Lewis sama sekali tidak rela. Keduanya serentak meninggalkan ruangan. Tapi saat keduanya hendak melangkah keluar dari ruangan, Greg tiba-tiba memanggil Cody. Cody berhenti tapi Lewis melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan. Cody mendekat ke arah Greg.
“Bawa Bernard untuk melihat semuanya. Aku ingin orang itu menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri apa yang akan terjadi jika melakukan pembangkangan,” perintah Greg dan langsung dipahami oleh Cody.
***
Begitu kakinya melangkah keluar dari ruangan itu, hati Lewis sekarang terasa sangat hancur. Greg rupanya tahu keberadaan Angelica dan Caleb di kapal itu. Dan kapal itu akan hancur oleh karena perintah Greg.
Sambil melangkahkan kaki keluar dari ruangan, air mata Lewis menetes. Tangannya mengepal keras. Sebelum mencari data yang diminta oleh Greg, Ia menangisi nasib putranya. Hanya keajaiban Tuhan yang mampu menyelamatkan putranya dari rencana pemusnahan Greg.
Beruntunglah, logikanya sudah kembali sehingga ia tidak terpuruk dalam lautan emosionalnya. Dan ia mencoba mengkalkulasi waktu hingga drone itu diluncurkan. Masih ada sekitar 20 menit. Ia masih memiliki waktu untuk mengabari orang kepercayaannya di atas kapal itu untuk menyelamatkan Caleb dan Angelica.
Ia langsung menekan tombol ponselnya dan dering ponsel itu tidak diangkat. Ia terus mencoba lagi dan lagi hingga setelah lima kali menghubungi, ponsel itu tersambung.
“Halo… selamatkan kedua orang itu karena kapal akan dibom!”
Ia hanya bisa berdoa semoga Scott mengerti maksud ucapannya dan bisa menyelamatkan Angelica dan Caleb.
Flashback end
Lewis menutup matanya. Ia ingat semua yang terjadi dan ia tahu Greg di balik semuanya ini. Tapi Lewis harus tetap memainkan perannya sebagai orang kepercayaan Greg untuk mendapatkan informasi lebih banyak lagi tentang rencana jahat pria ambisus itu.
Hingga hari ini Lewis masih berharap Caleb dan Angelica masih hidup. Dan dari obrolan Greg dengan Captain Owen, masih ada kemungkinan bahwa Angelica masih hidup. Jika Angelica masih hidup itu berarti ada kemungkinan juga putranya masih hidup. Ia hanya perlu menunggu dan berdoa agar keduanya selamat.
Lewis melangkah masuk ke dalam salah satu ruangan di lorong rahasia Cybertech. Orang-orang menyebutkan ruang interogasi dan bagi sebagian orang ruangan itu tak ayal dianggap sebagai ruangan kematian. Sudah banyak korban yang meninggal karena berada di dalam ruangan itu. Entah apa yang terjadi, mereka keluar dalam bentuk jasad.
Lewis berada di depan ruangan itu dan seketika penjaga membuka pintu untuk Lewis.
Dapat Lewis lihat bahwa pria itu meringkuk di salah satu sudut ruangan. Derap langkah kaki Lewis membuatnya mendongak. Lewis berjongkok dan menatap Ahmed. Ia ikut prihatin jika pria muda itu harus menjadi kambing hitam dari seorang Gregory Roberts. Ia menepuk pundak Ahmed beberapa kali, berharap pria naif itu merasakan simpati darinya.
“Ahmed, aku tahu kau mungkin bingung dengan apa yang terjadi. Tapi aku ingin kau bekerja sama dengan kami. Kami ingin kau mengakui dirimu sebagai pelaku pengeboman kapal Sea Master yang baru saja terjadi.”
Mata Ahmed membola mendengar ucapan Lewis. Ia tidak pernah berpikri bahwa dirinya harus menjadi kambing hitam untuk sesuatu yang tidak dilakukannya.
“A-apa? Ini gila, Mr Steele! AKU TIDAK MAU!”
Lewis mendengus dan menatap Ahmed dalam-dalam
“Jika kau tidak mau mengakuinya maka jangan salahkan jika salah satu anggota keluargamu, entah istrimu atau anakmu atau bahkan orangtuamu akan ada dalam bahaya. Kau tahu pria - pria di luar sana kan? Ia tidak akan segan menjalankan perintah untuk menghabisi mereka. Tapi jika kau mau mengikutiku, aku pastikan nyawamu dan keluargamu akan selamat,” ucapan Lewis itu terlihat penuh dengan penekanan dan bernada ancaman.
Mata Ahmed terbelalak tak percaya. Mereka menggunakan ancaman pada orang-orang yang paling ia cintai.
Lewis menyentuh telapak tangan Ahmed. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Ahmed lalu berbisik.
“Ini saran dariku. Menurutlah untuk sekarang. Aku akan mencari cara membebaskanmu dari sana. Lebih baik untuk sementara waktu kau mengikuti perintah ini, agar seluruh keluargamu selamat. Nyawamu pun juga akan aman di sana. Percayalah padaku. Setelah semuanya ini berakhir, aku berjanji akan mengirimmu dan keluargamu ke tempat di mana tidak dapat ditemukan oleh siapapun.” Lewis membetulkan jasnya dan berdiri kembali di tempatnya. Menyisakan Ahmed dengan linangan air mata dan pandangan tak percayanya. Pilihan berat diperhadapkan padanya yang masih muda.
“Bagaimana Ahmed? Kau menerima tawaran ini?” tanya Lewis dengan nada arogan.
Walau semua ini mengganggu hati nuraninya, tapi Ahmed tidak punya pilihan lain. Ini demi menyelamatkan nyawanya dan nyawa keluarganya. Ahmed dengan terpaksa mengangguk.
“Good! Jadi ini yang harus kau lakukan…” Lewis mengungkapkan rencananya kepada Ahmed. Lewis menjelaskan bahwa Ahmed hanya perlu melakukan satu tugas. Mengakui di depan kepolisan bahwa dirinyalah pelaku peledakan kapal itu.
***
A/N: Makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi? Atau sudah menebak alur selanjutnya gimana? Yang pasti akan makin seru dan makin banyak teka-teki.