“Gak punya sayap tapi bisa bawa gue terbang. Itu lo!”
----
Jam pelajaran sekolah sudah berakhir satu jam yang lalu. Dan, tidak biasanya seorang Devon Algatra yang anti sekolahan itu, masih berkeliaran di lingkungan sekolah sambil celingak-celinguk ke sana ke mari seperti mencari seseorang.
“Heh, Siput. Kok lo bawa tas Miss Ara?” Devon menggeplak kepala Syifa yang kebetulan berjalan di depannya. Gadis itu tengah menunggu Bella yang masih ada urusan.
Tentu saja, hal itu membuat Syifa misuh-misuh sambil berkacak pinggang. u*****n demi u*****n terus dilontarkan oleh gadis mungil itu.
Sedangkan, Devon hanya tersenyum geli melihat reaksi Syifa yang terpancing keusilannya. “Mana Miss Ara?” tanyanya mengabaikan kemarahan Syifa yang semakin menjadi-jadi karena ia tertawakan.
“Lagi ke toilet. Ngapain?” Syifa bertanya sinis. Harap-harap, kakak sepupunya cepat kembali. Ia malas berurusan dengan alien seperti Devon.
“Siput!” Devon menoel dagu Syifa. “Lo minum s**u kek, biar tinggi. Badan kok kecil banget kayak batang korek api.”
Syifa memutar bola matanya. Ia mengabaikan omongan Devon. Namun, bukan Devon namanya kalau menyerah menggoda Syifa.
“Siput, kok lo akrab sama Miss Ara sih?” tanya Devon lagi.
“Kepo!” jawab Syifa singkat sambil menarik lengan Bella cepat saat gadis itu keluar dari toilet.
“Tunggu! Siput, gue ada urusan sama Miss Ara. Sibuk aja lo!” Kini, Devon yang menarik lengan Bella. Sehingga, Bella berada di antara Devon dan Syifa.
“Stop! Mau ngomong apa, Devon? Saya buru-buru!” Bella menghentikan aksi kedua muridnya itu.
“Miss, cantik deh. Baik lagi. Pokoknya, Miss paling oke deh,” rayu Devon entah apa motifnya.
Bella menaikan sebelah bibirnya. “Kamu panas, Devon?”
Devon menggeleng sambil mengedipkan sebelah matanya. Dan, telapak tangannya menggenggam tangan kanan Bella.
Sementara itu, Bella mencoba menetralkan detak jantungnya yang sudah hampir copot.
“Maafin saya ya, Miss.” Lagi-lagi, anak lelaki itu memasang senyum innocentnya. “Maaf, kalo saya bikin Miss kesel.” Kemudian, ia mencium punggung tangan Bella dan berlalu dari hadapan Bella yang masih tidak mengerti dengan perlakuan anak itu.
“Yuk, Fa balik!” Bella mengajak Syifa yang sudah berdiri di depan gerbang.
“Ngomong apaan, si Alien?” tanya Syifa kepo.
Bella hanya merespon pertanyaan Syifa dengan mengangkat bahunya.
****
“Bel, Bel. Lo udah liat Alan gak?” tanya Gita heboh.
Pagi-pagi sekali, sahabat Bella itu sudah terengah-engah sambil mengabarkan hal yang tidak penting bagi Bella. Yaitu, mengenai mantannya. Menurut Bella, semua tentang Alan sudah tidak penting lagi baginya.
Bella memutar bola matanya malas. “Apasih, Git? Pagi-pagi juga ribut aja!”
“Ih serius gue. Mukanya ancur. Di plesterin gitu,” jelas Gita.
Beberapa menit kemudian, Alan masuk dengan kondisi yang dijelaskan Gita. Wajahnya lebam dan banyak bekas luka yang sudah di plester. Lelaki itu sesekali meringis menahan perih dari sudut bibirnya yang terluka. Jika dilihat, luka itu sepertinya masih baru.
“Alan, are you okay?” Bella menghampiri lelaki itu dengan canggung.
“Jadi, bener kemarin kamu gak ngapa-ngapain sama murid tengil itu?” tanya Alan menggenggam tangan Bella.
Bella yang masih kurang mengerti maksud Alan, hanya menaikkan alisnya dan mematung karena tangannya masih digenggam Alan.
“Oke, Bel, i'll sorry! Maaf aku udah nuduh kamu yang nggak-nggak. Aku sayang kamu, Bel.”
“Simpan sayang kamu buat cewek itu. Dan bilang kamu kenapa?” Bella menyentuh sudut bibir Alan dan lelaki itu meringis. “Sakit ya?” Bella menatap iba.
Alan menatap Bella dalam dan sendu. “Udah nggak kok. Makasih udah khawatirin aku.”
“Lo belum jawab! Kenapa?”
Alan mulai menceritakan kejadian yang menimpanya.
****
“Halo, Bro!” Devon menghampiri Alan yang akan masuk ke dalam salah satu restauran cepat saji.
Awalnya, Alan kebingungan. Karena, Devon menutup kepala dan sebagian wajahnya dengan jaket.
“Ini gue! Kita selesaikan urusan yang tadi belum kelar!” Devon menarik kerah kemeja Alan dan membawanya ke arah parkiran.
“Sebenernya, tangan gue udah gatel pengin ngehajar lo dari tadi. Tapi, kalo di sekolah, urusannya bakal panjang. Jadi, gue mau beresin di luar sekolah. Tanpa terlibat dengan lingkungan sekolah!” Devon melayangkan pukulan tepat di ujung bibir Alan.
Karena tanpa persiapan, Alan sukses tersungkur dan sudut bibirnya langsung mengeluarkan darah segar.
“Kalo punya mulut dijaga, Bapak Alan yang terhormat! Ini perlu dikasih pelajaran!” Devon kembali melayangkan pukulannya pada sudut bibir Alan yang lain.
“Dan mulut lo ini gak pantes ngatain Miss Ara seleranya rendahan!” Devon memukul wajah Alan bertubi-tubi tanpa perlawanan sama sekali.
“Ini bukan tindak kurang ajar, karena lo jadi guru gue di sekolah, di luar kita bebas, Bro! Ya walaupun mulut lo tadi gak pantes disebut guru!” Devon meninggalkan Alan yang sudah terkapar.
****
Setelah mendengar penjelasan Alan, Bella berpikir sejenak. Pantas saja, kemarin sepulang sekolah Devon meminta maaf padanya. Jadi, ternyata ini masalahnya.
“Tapi kata-kata anak itu ada benarnya. Sikap aku kemarin itu gak mencerminkan sebagai seorang pengajar. Aku juga mikirin kata-kata kamu. Aku minta maaf ya, Bel.”
“It's okay! Sorry aku duluan.” Bella buru-buru keluar ruangan. Ia tak ingin berdekatan lebih lama dengan Alan dan terbawa perasaan lebih dalam lagi.
****
“Halo, Miss Ara. Selamat menjelang siang. Ini tugas saya dan bonusnya sekalian.” Devon menyerahkan lembar jawaban yang sudah diisinya dan sebatang cokelat.
“Nyogok saya? Karena kamu udah mukulin Alan, kan?”
Niatnya memarahi Devon saat bertemu anak itu akhirnya lenyap seketika karena tingkah ajaib anak lelaki itu.
“Maaf. Kan saya udah minta maaf sebelumnya.” Devon mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya sambil nyengir kuda.
“Saya periksa dulu,” Bella membaca tugas Devon dengan seksama. “Kamu pake google translate?”
Devon tertawa dan mengangguk kaku.
“Devon, kamu gak pernah pake google translate ya sebelumnya? Kamu terjemahin satu kata satu kata ya?” Bella menahan tawanya. “Oke, saya hargai tugas kamu. Tapi, kamu harus perbaiki sekarang juga. Hari ini seharusnya sudah tugas kedua. Tapi, berhubung kemarin ada insiden dan kamu ngerjain sendiri, jadi hasilnya begini.”
“Miss, gak marah?” Devon melihat wajah Bella yang masih terkekeh.
Bella jadi ikut tertawa melihat ekspresi Devon yang ajaib.
“Jadi, mulai dari mana nih, Miss?” Devon bersemangat dan membuka buku paketnya. Bella membuat anak itu semangat belajar.
Bella mulai menerangkan dan Devon memperhatikannya sambil mencatat beberapa materi.
“Waktu kamu tinggal lima belas menit lagi. Kamu sanggup?” Bella menantang Devon.
Devon mengangguk dan mulai menuliskan tugasnya dengan serius. Bella memperhatikan anak lelaki itu lagi. Rambutnya yang tebal dan dibiarkan berantakan hampir menutupi matanya. Namun, hal itu membuatnya terlihat lebih keren.
“Sepuluh menit, Miss.” Devon menyodorkan kertas tugasnya ke depan wajah Bella.
“Nilai kamu delapan puluh.” Bella mengacungkan jempolnya setelah membaca tugas Devon. “Good job.” Ia tak tahan dan mengacak rambut anak lelaki itu gemas.
Devon bersorak dan menatap wajah Bella yang spontan mengacak rambutnya.
“Eits, tapi tugas kamu masih enam yang kosong!” Bella memperingatkan.
“Lima, Miss,” sanggah Devon.
“Kan, nilai yang satunya di bawah KKM, Devon!” Bella mengacak rambut Devon lagi. “Oh gini, karena kamu bilang lima, jadi sampai hari sabtu semuanya harus sudah kelar.”
Devon melayangkan protes mendengar keputusan Bella yang dianggapnya terlalu berat. “Lho, gak bisa gitu dong, Miss.”
“Bisa dong! Kan kamu yang bilang sendiri. Udah sana masuk, tuh bel udah bunyi. Kalo kamu bisa kelarin minggu ini, saya traktir!” teriak Bella.
“Siap, Miss Siapin aja kita pergi malam minggu.” Devon mengedipkan sebelah matanya.
“Kalian udah jadian ya?” tanya Alan yang baru kembali dari kantin. Jadwal jam keenam ketujuhnya kosong dan kebetulan sama dengan Bella. Gadis itu kini sedang merangkum materi yang akan dipakainya untuk mengajar nanti.
Bella menoleh ke arah Alan tanpa mengucapkan apa-apa hanya memberi kode dengan mengangkat alisnya.
“Kamu sama anak tengil itu lah.” Alan menangkup wajah Bella dengan kedua tangannya.
“Namanya Devon!” Bella mendelik kesal.
“Bella, ayolah, Sayang. Masa, kamu gantiin posisi aku sama anak SMA?”
Semenjak putus, Alan gencar mengajak Bella balikan. Meski hasilnya tetap sama, Bella menolaknya mentah-mentah.
“Alan, kita itu udah gak ada hubungan apa-apa lagi. So, stop it! Gak enak kalo ada yang lihat!” Bella membentak Alan lebih keras.
“Bella, jawab atau –“ Alan menggantung kalimatnya.
“Atau apa?” Bella menantang dan mendongakan kepalanya berhadapan dengan wajah Alan, bahkan Bella bisa mencium wangi mint dari mulut Alan.
Lelaki itu tak menjawab, ia terus mendekatkan wajahnya pada wajah Bella, mengikis jarak di antara wajah keduanya.
Dan,
Cuppp...