"Jadi lo udah taken sama Bos lo itu?" Aku dan Salma sedang makan siang berdua di sela-sela jam makan siang kantor kami yang singkat. Kalau di hari biasa aku akan makan siang dengan Pak Farhan, tetapi untuk tiga hari ini kami sedang saling mendiamkan dan tidak saling sapa. Sejak kejadian itu, Pak Farhan tak lagi mengirimi pesan kepadaku seperti biasanya. Dia juga bersikap acuh ketika kami berpapasan di lift. Jadi aku mencoba mengikuti alur permainannya dengan bersikap masa bodoh juga sama sepertinya. "Iya, tapi gue mulai ragu sama dia," ucapku. "Kenapa? Dia nggak se-hot itu ya, sampe ngga bisa memuaskan lo." Aku menutup mata, menghembuskan napas sebal. Kalau tidak ingat Salma adalah sahabatku, sudah kudaratkan tasku yang beratnya melebihi beban hidupku ini ke wajahnya. Sabar, Nay, sabar

