“Bangun sayang.” Aku menggeliat pelan, merasa terganggu dengan kecupan-kecupan kecil yang diberikan Farhan pada seluruh wajahku. “Mas ….” Aku merengek padanya. “Bangun sayang, ayo.” Aku terpaksa membuka mata yang masih setengah tertutup karena mengantuk. Namun, ketika melihat Farhan mulai memajukan wajahnya ke arahku, sontak mataku langsung terbuka selebar-lebarnya. Otakku langsung mengirimkan sinyal waspada. Tanganku dengan gerakan cepat menutupi bibir, sementara kepalaku bergerak mundur. “Kamu mau ngapain, Mas?” tanyaku dengan tatapan horror. Saat ini aku belum melakukan ritual apa-apa, gila saja kalau dia mau menciumku. “Apa lagi kalau bukan morning kiss,” ucapnya santai. Aku masih menutupi bibirku dengan tangan kemudian menggelengkan kepala, menolak idenya mentah-mentah. “Aku

