Bagian 28 : Salary Expense

1376 Kata

"Lo kenapa deh, Nay. Pulang makan siang mukanya ditekuk gitu, ngga enak tau diliat." Feni mengomentari ekspresiku yang tidak enak diliat setelah pulang dari makan siang. "Ngga papa kok," jawabku dengan nada lesu. Jujur saja nih ya, moodku untuk kembali bekerja berada di titik terendah setelah percakapanku dengan Karenina. Aku emosi sekali padanya. Bisa-bisanya dia bilang akan berjuang untuk Farhan kepadaku yang notabene adalah pacar Farhan. Dia gila atau gimana sih? "Lo ngga bisa bohong dari kita Nay. Muka lo itu bisa menggambarkan segalanya. Udahlah cerita aja, ada apa sih?" Feni mendesakku untuk bercerita, tapi aku tetap menggeleng. Aku tidak bisa menceritakan masalah ini pada mereka. Kalau itu terjadi, sama saja aku membongkar soal hubunganku dengan Pak Farhan. "Duh, Nay, lo itu jo

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN