Aku mengendap-endap seperti maling untuk mencapai kursi di kubikelku. Sebisa mungkin aku tidak ingin bertemu atau berpapasan dulu dengan Pak Farhan. Pembahasan kami sebelum makan siang tadi benar-benar membuatku kepikiran dan canggung untuk bertemu.
“Lo kenapa deh, ngendap-ngendap kayak kucing habis nyolong ikan asin gitu.” Aris bertanya melihat tingkahku yang tak biasa.
“Emang kucing kalo habis maling ikan asin ngendap-ngendap gitu? Perasaan kucing gue ngga kayak gitu deh.” Feni menimpali pernyataan Aris.
“Diem lo, gue lagi ngga ngomong sama lo.”
Feni mencibir pelan kemudian ikut mengomentari tingkahku, “Lo lagi menghindar dari seseorang?” Bagaikan peramal dadakan yang turun dari langit, Feni menebak tepat sasaran, membuatku diam.
“Jadi bener? Emang siapa sih yang lagi lo hindarin sampe segitunya?”
“Nggak kok, kata siapa gue lagi menghindari seseorang. Tadi gue itu liat sekebelat bayangan yang kayak ngikutin gue gitu, jadi gue agak parno dikit.” Aku mengarang cerita yang langsung dipercayai oleh ketiga rekan kantorku.
“Demi apa lo, Nay? Duh jangan nakut-nakutin, dong! Gue penakut banget kalo berhubungan sama hantu gitu. Serem.” Feni jadi ikutan parno mendengar ceritaku.
“Perasaan lo aja kali, masa siang bolong begini ada hantu, ngga mungkin banget lah.” Mbak Nindi menyangkal ceritaku, tapi aku yakin dia juga sama parnonya seperti Feni.
“Jaman gini masih aja percaya yang gituan. Hantu itu ngga ada, ngga usah parno deh.” Aris ikut menimpali.
Aku berdeham pelan, sedikit merasa bersalah karena ceritaku tadi membuat rekan kerjaku jadi tidak nyaman bekerja. “Btw Bos kemana? Ada yang tau nggak?” tanyaku pura-pura mengalihkan topik. Padahal sebenarnya itu pertanyaan utama yang ingin aku tanyakan dari tadi.
“Tadi gue liat sih pergi sama Bu Mutia ke atas. Ngga tau mau ngapain. Rapat sama direksi kali,” jawab Aris.
Aku menghela napas lega. Setidaknya kali ini aku tidak bertemu dengan Pak Farhan.
“Eh, btw nanti malem kalian ada acara nggak?” Aris yang tadinya fokus menatap layar komputernya, memundurkan kursinya dan bertanya pada kami.
“Tumben banget lo tanya gitu. Ada apa nih?” Feni memicingkan matanya curiga pada Aris.
“Berhubung hari ini ulang tahun gue, jadi gue berniat traktir kalian makan sepulang kerja.”
Aku langsung bersemangat mendengar kata traktiran. “Widih, lumayan nih, makan malem gratis. Gasin lah, gue ikut.”
“Lo gimana Mbak? Bisa ikut ngga hari ini?” Aris bertanya pada Mbak Nindi.
“Boleh deh, jarang-jarang kan Aris mau traktir temennya. Lo juga ikut kan Fen?”
Feni mendongak, merasa terpanggil. “Ya pasti ikut lah Mbak, lumayan bisa save money. Eh, tapi kita makannya ngga di rumah padang lagi, kan? Ya kali ulang tahun ngerayainnya di rumah makan padang.”
Aris berdecak, “Iya, terserah lo semua mau makan di mana. Khusus hari ini gue bakal berbaik hati nurutin kemauan kalian.”
Kami berteriak kegirangan, “Asik. Pokoknya gue mau makan di restoran yang mahal.”
“Ada apa nih rame-rame?”
Kalau ini dunia magic, aku yakin Pak Farhan adalah jelmaan Harry Potter yang bisa berteleportasi dari satu tempat ke tempat lain hanya dalam satu kedipan. Aku benar-benar tak habis pikir kenapa dia suka sekali membuat senam jantung karyawannya. Dia bisa tiba-tiba sudah berada di belakang kami seperti cenayang lalu nimbrung dalam obrolan. Seperti sekarang ini.
“Oh ini, Pak. Hari ini Aris ulang tahun, jadi dia punya rencana traktir kita sepulang kantor. Bapak mau gabung?”
Oh no! Aku hampir mengumpati Feni yang malah mengajak Pak Farhan ikut bergabung. Niatku hari ini kan mau menghindarinya, malah jadi gagal karena ulahnya. Semoga saja Pak Farhan menolak. Dia kan seorang workaholic, pasti dia lebih memilih tinggal di kantor dan berkutat dengan pekerjaanya daripada ikut bergabung dengan kami.
“Memangnya boleh?” Pak Farhan menatap Aris.
“Boleh, Pak.” Aris menjawab cepat. “Nanti kalo bill-nya membludak, bisa dibantu bayar kan, Pak?”
Pak Farhan tertawa, “Tenang aja, urusan gampang itu.”
Aku melirik sebal ke arah Aris, lalu memprotes, “Lo ngga modal banget sih, Ris. Ditawarin gitu aja langsung ijo mata lo.”
Aris menjawab, “Lumayan, Nay. Bisa nyelamatin isi dompet gue. Lagian yang minta makan di restoran mahal kan kalian, ya udah terima aja, sih.”
Setelahnya aku benar-benar tak bersemangat kerja sampai waktu pulang tiba. Pikiranku masih melayang memikirkan Pak Farhan yang akan bergabung dengan kami nanti malam. Kenapa dia melakukan ini? Apa dia sengaja ikut karena ingin membahas pembicaraan kami tadi siang? Aku tak bisa membayangkan situasi canggung yang terjadi antara aku dan Pak Farhan nanti kalau dia ikut bergabung.
Feni dan Mbak Nindi semangat menarik tanganku ketika jam pulang kantor tiba. “Yuk, Nay!”
Aku berdiri lesu ketika tanganku ditarik keluar dari kubikel. “Kayaknya gue ngga jadi ikut deh.”
Kalimat yang meluncur dari bibirku seketika membuat ketiga rekanku menoleh menatapku.
“Kenapa? Bukannya lo yang paling semangat tadi?” Aris menelan kekecewaannya mendengar keputusanku. Sebenarnya aku ingin ikut bergabung, tapi semangatku langsung lenyap ketika Pak Farhan ikut bersama kami.
“Nggak pa-pa, tiba-tiba aja gue nggak enak badan, jadi mending gue istirahat aja di rumah. Maaf ya.”
“Yah, kok sakitnya mendadak gitu sih, kan jadi nggak enak kalo ngga ada elo, Nay.” Feni ikut kecewa dengan keputusanku.
“Iya, nih, Nay. Ngga seru banget kalo ngga ada lo, serasa ada yang kurang.”
“Gue juga pengin gabung guys, tapi maaf ya, hari ini gue bener-bener ngga bisa. Lain kali aja deh, gue ikut. Pas ulang tahunnya Feni atau Mbak Nindi.” Aku buru-buru membereskan mejaku lalu pamit meninggalkan ruangan. Aku harus secepatnya pulang supaya tidak berpapasan dengan Pak Farhan.
“Loh, kamu mau kemana? Bukannya habis ini mau makan-makan sama yang lain?”
Sial! Niatku untuk menghindari Pak Farhan harus gagal ketika aku berpapasan dengannya saat naik lift. Bodoh! Seharusnya aku tidak naik lift tadi. Lewat tangga darurat saja yang lebih aman.
“I-itu Pak, tiba-tiba saya ngga enak badan, jadi saya batal ikut.”
Dahi Pak Farhan berkerut lalu berucap, “Nggak enak badan atau kamu memang sengaja mau menghindari saya?”
Aku gelagapan mendengar tebakan Pak Farhan yang tepat sasaran. Duh, gue harus jawab apa ini?
“E-enggak kok, Pak, saya ngga menghindari Bapak. Saya benar-benar sedang tidak enak badan, jadi ngga bisa gabung.”
“Kalau gitu kamu saya anterin pulang.”
HEH? Kenapa jadi begini? Aku tidak mau terjebak dengan Bosku!
“Nggak usah, Pak! Saya bisa pulang sendiri.” Aku menjawab cepat.
“Kamu bilang sedang tidak enak badan tadi. Ya sudah saya antar pulang saja biar cepat. Tubuh kamu bisa tambah parah kalau dibawa kelamaan nunggu taksi.” Tanpa seizinku, Pak Farhan menyeret tanganku menuju parkiran mobil.
“Pak, saya beneran bisa pulang sendiri. Lagian bukannya Bapak seharusnya pergi menyusul yang lain ke restoran?” Aku kembali membujuknya agar dia berubah pikiran.
“Itu bisa diatur. Saya bisa menyusul mereka setelah mengantar kamu.”
Aku hanya pasrah ketika Pak Farhan menyuruhku masuk ke mobilnya. Yah, mau bagaimana lagi. Tak ada pilihan lain.
“Kamu sakit apa memang?” tanya Pak Farhan ketika mobilnya sudah melaju meninggalkan parkiran kantor.
“Cuma masuk angin aja kok, Pak.”
“Makanya jangan memakai pakaian yang terlalu terbuka kalau ke kantor.” Pak Farhan menasehatiku.
Aku menatap ke bawah, menilai penampilanku hari ini. Not bad, aku memakai blouse merah maroon dipadukan dengan rok selutut yang agak lebih panjang dari biasanya.
“Besok-besok pakai celana saja ke kantor, lebih simple dan ngga bikin masuk angin.”
Kayaknya rok yang kupakai tak sependek itu sampai dikaitkan dengan penyebab aku masuk angin. Ini tidak ada hubungannya sama sekali!
“Pak, masuk angin saya ngga ada hubungannya dengan saya yang pakai rok atau celana.”
“Tentu saja ada. Rok yang kamu pakai itu terlalu pendek, jadi AC di ruangan kamu dengan mudah masuk lewat bawah.”
Uhuk! Ini kenapa kata-kata Pak Farhan agak sedikit ambigu ya?
“Terserah Bapak saja lah!” Aku mengalah, memilih untuk diam dan berhenti berdebat dengan Bosku. Sisa tenagaku terlalu berharga digunakan untuk meladeni Pak Farhan yang tak mau kalah.
“Habis ini kamu langsung minum obat, istirahat yang cukup.” Pak Farhan menepuk kepalaku pelan ketika mobilnya sampai di halaman rumahku.
“Iya, saya tahu kok.”
“Jangan keluyuran, langsung istirahat.”
Aku memutar bola mata malas. Lama-lama kenapa aku merasa Pak Farhan seperti Mama keduaku saja, selalu memperingati ini dan itu lalu mengomel kepadaku.
“Bapak mau langsung pulang, kan?” Ini bukan maksud aku untuk mengusir, tapi aku benar-benar tidak berharap Pak Farhan mampir sekarang.
“Memangnya saya diizinkan kalau mau mampir?” Pak Farhan bertanya.
Aku menggelengkan kepala sambil cengengesan. “Jangan hari ini, ya Pak. Kata Bapak saya kan harus langsung istirahat, lagipula Bapak harus nyusul anak-anak yang lain ke restoran.”
Pak Farhan menggelengkan kepalanya, “Ya sudah sana masuk.”
Aku menuruti ucapannya lalu keluar dari mobil. Aku menghela napas lega ketika mobil Pak Farhan melaju meninggalkan halaman rumah.
“Itu tadi Farhan, Nay?” Mama bertanya ketika aku masuk ke dalam dan melewati ruang tamu.
Aku bergumam pelan.
“Kok, nggak kamu ajak mampir sih?”
“Farhan sibuk, Ma. Dia masih ada kerjaan di kantor,” ucapku membuat alasan.
Mama mendesah kecewa. “Yah, padahal kan Mama kangen sama dia. Udah lama ngga main ke sini. Gimana kalau akhir pekan kamu ajak dia makan malam di rumah, Nay? Sekalian pas Nana sama Gisel main ke sini.”
“Nggak bisa, Ma. Farhannya sibuk.”
“Sesibuk apa, sih, sampe ngga bisa ikut makan malam sebentar bareng kita. Masa akhir pekan dia harus kerja juga.”
Aku mencoba memberi pengertian pada Mama. “Dia itu Bos, wajar aja lah banyak kerjaan. Udah Mama ngga usah ngide yang aneh-aneh, deh. Naya mau istirahat, bye Mam.”
Aku pamit pada Mama lalu berjalan masuk ke kamarku.
***