Sudah larut malam ketika Farhan kembali ke apartemen. Aku yang malam ini tidak bisa tidur karena terpikir kejadian yang terjadi di rumah orang tuaku memutuskan menunggunya sambil meminum teh di ruang makan. Begitu mendengar pintu apartemen terbuka, aku bergegas menyambutnya dengan senyuman lebar. Dia terlihat terkejut melihatku yang masih terjaga tengah malam begini. “Loh, Nay, kamu belum tidur?” tanyanya. Aku berjalan mendekatinya, kemudian membantunya melepaskan jas dan membawakan tas kerjanya. “Belum ngantuk, Mas,” jawabku. Dia terlihat mengernyitkan dahi mendengar jawabanku. “Kamu ngga papa, kan?” Aku tersenyum lebar, berusaha meyakinkannya. “Aku baik-baik aja, kok. Emangnya apa yang perlu dikhawatirin.” Dia duduk di kursi makan sambil memperhatikanku yang tengah menyiapkan minu

