Hadiah Mewah

1465 Kata
“Silahkan di minum, Mas.” Ayunda meletakkan cangkir tehnya di atas meja tamu tepat di depan Reindra. “Terima kasih,” jawab Reindra seraya menyeruput teh hangat yang selalu saja membuat kerongkongannya terasa nikmat. Teh yang hangatnya selalu pas dan manisnya sangat sempurna di lidah Reindra. “Mas, sebelumnya aku mau minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk tidak sopan atau lancang. Tapi, belakangan ini mas terlalu sering ke sini. Terlebih mas datang ketika anak-anak tidak ada di rumah. Aku takut nanti tetangga salah paham. Aku juga takut nanti mbak Nela dan mbak Saras juga salah paham, Mas.” Ayunda menggosok ke dua telapak tangannya sebab ia begitu mengatur kata-katanya. “Justru bagus dong kalau tidak ada anak-anak kamu? Jadinya kita bisa mengobrol panjang lebar tanpa ada yang menganggu.” “Iya sih, tapi ini terlalu sering. Tidak baik kalau pertemuan ini terlalu sering terjadi, Mas. Aku ini janda lo, apa nanti kata orang-orang?” “Lo, apa salahnya? Kita’kan masih saudara?” “Sebenarnya kita ini bukan saudara lo, Mas. Yang saudaraan itu adalah mas Rudi dengan mbak Nela. Kita ini saling kenal, hanya karena hubungan keluarga mereka.” “Justru karena itu mas peduli sama kamu, Nda. Mas tidak ingin, kamu kesepian dan merasa sendiri. Bukan’kah kamu sendiri yang bilang, semenjak Rudi meninggal, tidak ada satu pun keluarga Rudi yang menemuimu dan menanyakan kabar Eril dan Nabila?” “Makanya aku tuh minta cariin kerjaan terus sama kamu, Mas. Lagi pula, Eril dan Nabila itu’kan memang tanggung jawab aku. Aku juga nggak mau ngemis ke mereka. Kalau mereka memang sayang, harusnya mereka sendiri yang datang atau setidaknya menghubungi kami.” “Itulah, Nda. Sampai sekarang masih belum ada lowongan di mana pun. Oiya, kemarin kamu kok tidak datang ke acara ulang tahun Galang? Pestanya sangat meriah lo sampai ngundang artis ibu kota. Mereka mengadakannya di hotel.” Ayunda tersentak mendengar pernyataan Reindra. Galang adalah anak ke tiga dari kakak Rudi yang bekerja di sebuah perusahaan internasional di Jakarta. Mereka tergolong keluarga yang sangat kaya raya. Tapi semenjak Rudi meninggal, tidak satu pun keluarga Rudi yang peduli dengan Ayunda dan anak-anaknya. “Ayunda, kenapa kamu diam saja?” Ayunda yang sebelumnya menunduk, kembali mengangkat kepala dan menatap wajah Reindra, “Maaf, Mas. Bagaimana mau datang kalau tidak diundang? Bahkan aku tahunya dari kamu, Mas.” Reindra terdiam. Ia menatap lekat sepasang manik cantik berwarna cokelat muda yang tampak bersinar dan mulai berkaca-kaca. Reindra menggeser duduknya hingga kini berada sangat dekat dengan Ayunda. Ia mengambil ke dua telapak tangan Ayunda, mengangkat ke dua tangan itu dan mengecupnya dengan lembut. Ayunda tersentak mendapat perlakuan yang tiba-tiba itu. Ia segera menarik tangannya dan mulai membuang muka. Rasa bibir Reindra melekat jelas di ke dua punggung tangan itu. “Ma—maaf, Nda. Mas tidak mampu menahan rasa ini. Mas kasihan sama kamu. Harusnya wanita seperti kamu ini diberikan support penuh, khususnya dari keluarga Rudi. Bukankah mereka tahu jika kamu tinggal sendiri di kota ini? Kamu yatim piatu sementara ke dua kakakmu tinggal di Surabaya. Perekonomian mereka juga tidak lebih baik dari kamu.” Ayunda berusaha tersenyum, walau hatinya sendiri mengiyakan semua perkataan Reindra. “Ini sudah jalan nasib aku, Mas. Oiya, semalam ada teman yang menghubungi aku. Katanya ada pabrik roti yang lagi butuh orang untuk karyawan packing barang. Aku tanya, apa nggak ada bagian admin? Katanya belum ada. Kalau aku memang mau, besok lusa disuruh ke pabrik sambil bawa KTP asli. Gajinya nggak gede sih, tapi lumayanlah untuk sekedar menganjal perut dari bulan ke bulan.” Ayunda tidak mampu menyembunyikan raut wajahnya yang menyedihkan. “Sarjana Ekonomi kayak kamu masa harus kerja di pabrik roti?” Reindra mengernyit. “Terus mau kerja apa lagi, Mas? Aku sudah usaha masukin lamaran ke sana kemari, tapi belum ada yang nyangkut. Kemungkinan kalau dalam satu atau dua bulan ini aku masih belum dapat kerjaan, aku mau jual saja mobil itu dan melunasi sisa cicilan dengan uang hasil menjual mobil. Aku juga mau pindahin anak-anak sekolah ke sekolah biasa saja. Soalnya aku nggak sanggup membayar semuanya.” “Kamu tidak perlu melakukan semua itu, Nda. Mas janji akan membantu kamu.” Reindra kembali mencoba menyambar tangan Ayunda, tapi wanita berkulit putih bersih itu segera menjauhkan tangannya. “Oiya, mas ada hadiah buat kamu.” “Hadiah? Maksudnya?” Ayunda mengernyit. “Sebentar!” Reindra mengambil sebuah kantong belanjaan yang ia letakan di atas lantai di samping kursi tamu yang ia duduki. Pria itu meletakkan kantong itu di atas meja lalu mengeluarkan tiga buah kotak yang sudah dibungkus kado. “Ini semua buat kamu, Nda.” Reindra mendorong pelan ke tiga kotak itu hingga berada tepat di depan Ayunda. “A—apa ini, Mas?” “Kamu buka saja.” Sedikit gemetar, Ayunda mengambil salah satu kotak. Ia membuka pita pengikat yang terletak di bagian tengah. Setelah pita itu terlepas, wanita itu pun membuka bungkus kertas kado itu dengan hati-hati. Sesekali, netranya melirik ke arah Reindra. Reindra tersenyum seraya menganggukkan kepala, meyakinkan Ayunda untuk tetap membuka bungkusa itu. Bungkusan pertama pun terbuka. Sebuah kotak bertuliskan merk ponsel ternama, terpampang di sana. Ponsel yang harganya setara dengan cicilan mobil, rumah dan uang sekolah anak-anak Ayunda selama dua bulan lebih. “A—apa ini, Mas?” Ayunda memegang kotak yang masih bersegal itu. Ia mengarahkan benda itu pada Reindra. “Itu buat kamu, sebagai hadiah.” Aytunda menggeleng, “Tidak, Mas. Ini terlalu berlebihan. Lagi pula untuk apa mas memberiku hadiah semahal ini?” “Tolong jangan menolak, Ayunda. Oiya, buka dua kotak lagi.” Reindra menunjuk ke dua buah kotak yang sama sekali belum dibuka oleh Ayunda. Ayunda meletakkan kotak bersegel itu di atas meja. Tangannya pun beralih ke kotak ke dua. Sedikit bergetar, Ayunda tetap membukanya secara perlahan. Sebuah kotak perhiasan berwana merah menyala berada di baliknya. “Apa ini, Mas?” Kembali Ayunda mengernyit. “Buka saja, Nda.” Ayunda membuka kotak perhiasan itu. satu set perhisan emas terpampang di depan matanya. Sangat cantik dan berkilauan. Kalung, gelang, cincin dan anting, semuanya lengkap di sana. Ada sertifikat juga yang terselip di tepi kota perhiasan. Ayunda bukannya senang, tapi malah memberikan ke dua benda itu lagi kepada Reindra, “Mas, maaf ... Ini sudah berlebihan, aku tidak bisa menerimanya.” Reindra merentang tangan pertanda menolak ke dua benda yang baru saja diberikan Ayunda kepadanya. “Tolong buka kotak ke tiga,” pinta Reindra. “Ta—tapi, Mas ....” “Buka saja!” Ayunda mengangguk. Wanita itu kembali meletakkan ke dua benda mewah itu di atas meja. Tangannya lalu mengambil kotak ke tiga, membuka pita pengikat dan perlahan merobek kertas kado yang menutupinya. Ternyata ada sebuah kotak lagi di dalamnya. Kotak berwarna merah hati dengan ukiran yang sangat cantik. Ayunda menoleh ke arah Reindra seraya mengernyit. Reindra membalas dengan senyuman dan anggukan. Dengan berbedar, Ayunda membuka kotak itu perlahan. Ada sebuah kotak kecil di dalamnya dan sebuah kartu ucapan. “Bukalah kartu itu dan bacalah isinya, Nda.” Ayunda hanya diam. Wanita itu pun meletakkan kotak itu di atas meja dan mengambil kartu ucapan. Dibukanya kartu ucapan itu dan betapa terkejutnya Ayunda membaca apa yang tertulis di sana. AYUNDA PARAMITHA, MAUKAH KAMU MENIKAH DENGANKU? AKU SUDAH LAMA MENGAGUMIMU DAN KINI AKU INGIN MENYATAKAN CINTA KEPADAMU. Begitulah yang tertulis pada kartu ucapan itu. Ayunda seketika bergetar setelah membaca apa yang tertulis di sana. Ia tiba-tiba kaku dan tidak mampu menggerakkan persendiannya. Reindra yang melihat sikap Ayunda hanya bisa tersenyum kecil. Pria itu mengambil kotak kecil yang tadinya berada di samping kartu ucapan. Pria itu membukanya dan ternyata di dalamnya sudah ada sebuah cincin berlian yang sangat indah. Reindra tanpa meminta persetujuan Ayunda, mengambil tangan kiri wanita itu dan melingkarkan cincin cantik itu di jari manis Ayunda. Dengan lembut, Reindra mengecup punggung tangan yang sudah terpasang cincin manis yang baru saja ia pasangkan. “Aku akan segera menikahimu setelah masa iddahmu berakhir. Kamu tidak perlu memikirkan pekerjaan atau apa pun. Aku akan menanggung semuanya. Cicilan mobil, cicilan rumah, uang sekolah Eril dan Nabila bahkan semua kebutuhanmu pun akan aku penuhi. Kamu mau’kan, Sayang?” Wajah Ayunda pucat pasi. Tubuhnya tiba-tiba kaku dan membeku bak patung. Jangankan mengucap sepatah kata, menarik tangannya dari tangan Reindra pun ia tidak mampu. Reindra kembali mengecup punggung tangan itu, lalu segera bangkit dari duduknya. Pria itu takut tidak mampu mengendalikan dirinya melihat wajah cantik dan kaku yang kini duduk di hadapannya. Ingin rasanya pria itu mencumbu Ayunda saat ini juga, tapi ia sadar jika Ayunda tidak pantas mendapatkan pelecehan semacam itu. Ayunda adalah wanita yang baik yang tidak pantas ia rendahkan seperti itu. “Mas pergi dulu. Oiya, diammu mas artikan sebagai tanda setuju. Setelah masa iddahmu selesai, kita akan menikah,” ucap Reindra seraya berlalu dari rumah itu. Ayunda masih mematung dan membiarkan Reindra membuka sendiri pagar rumah dan pergi begitu saja dari rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN