KRISIS 2008 VS 1998

1091 Kata
Jadi gini, bro, krisis moneter tahun 2008 itu sebenernya udah nongol sinyalnya dari tahun sebelumnya, nih. Bank Indonesia ngomong, pada 9 Agustus 2007, BNP Paribas Prancis ngakunya gak bisa cairin duit dari sekuritas yang terkait sama subprime mortgage di Amerika Serikat. Nah, kejadian itu jadi pemicu krisis yang akhirnya bikin likuiditas di berbagai negara makin parah. Makin gak enak gitu, deh, kondisinya. Terus apa hubungannya sama Indonesia? Jadi gini bro, kita runut ya; Jadi, gini ceritanya, bro. Subprime mortgage itu sebenernya pinjaman rumah buat orang yang jelek catatan kreditnya atau belum pernah ngutang, jadi tinggi risikonya, gitu. Di Amerika Serikat, tahun 2002 sampai 2005, penyaluran subprime mortgage melejit banget, dari US$ 200 miliar naik jadi US$ 500 miliar. Tapi, walaupun ini jadi pemicu utama krisis 2008, jumlahnya sebenernya kecil dibandingkan kerugian gede yang akhirnya melanda ekonomi. Nah, yang bikin masalah tuh, subprime mortgage dijadiin paket-paket dan diperdagangin global. Tragedi bener-bener muncak pas tanggal 15 September, Lehman Brothers nyatain diri bangkrut. Mereka kehilangan US$ 60 miliar gara-gara keterlibatan di pasar subprime mortgage. Akibatnya, seluruh dunia finansial kepanikan, Dow Jones ambruk 504,48 poin! Minyak juga turun di bawah US$ 100 per barel, sementara harga emas, yang dianggep aman, melonjak jadi US$ 787 per ons. Krisis ini nggak cuma sentral di Amerika, tapi ngejar lintas sektoral dan lintas negara. Pemegang hipotek tersebar di mana-mana. Ini krisis perekonomian terparah setelah Depresi Besar, loh. Pasar saham Amerika Serikat anjlok parah, nilai gabutnya kena 8 triliun selama 2007-2009. Pengangguran juga melonjak sampe 10 persen di Oktober 2009. Total bencana, deh! Eropa; Bro, pada bulan Oktober 2008, di Eropa juga gregetan abis, kayak di Amerika gitu. Pemerintah mereka ngeumumin paket penyelamatan gede banget, bro, senilai hampir US$700 miliar atau Rp10.368 triliun di Inggris, trus lebih dari US$2,5 triliun atau Rp37 ribu triliun di eurozone. Tahun berikutnya, Uni Eropa ngeluarin rencana perbaikan dengan langkah stimulus sekitar 1,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) mereka. Eh, tapi malah jadi kacau, bro, karena efek negatifnya plus paket penyelamatan yang ngebutuhin duit banyak, bikin negara-negara di eurozone makin kacau balau. Utang mereka emang udah nggak waras, terutama di negara kayak Yunani, Irlandia, Portugal, Italia, Spanyol, dan Siprus. Nah, buat dapet duit bantuan, pemerintah di negara-negara itu (kecuali Italia) disuruh nerapin kebijakan pengetatan yang bikin banyak orang nggak setuju, bro. Di Yunani, ketegangan naik banget, ada bentrok dan demo keras anti-pengetatan. Pengangguran generasi muda sampe 60%, bro, ngeri banget. Tapi meskipun hampir robohin Uni Eropa, Yunani akhirnya tetep bisa pegang politiknya dan bulan lalu jadi negara eurozone terakhir yang keluar dari bahaya. IMF juga nyebut kalo sektor perbankan di eurozone masih rapuh dan pertumbuhan di wilayah itu bakal melemah banget dalam beberapa tahun ke depan. Serius nih, masa depannya agak kelabu. Rusia; Rusia, yang kaya banget sumber daya alamnya, ngerasain masalah besar pas harga minyak tiba-tiba anjlok dari lebih US$100 per barel atau Rp1,4 juta jadi sekitar US$30 atau Rp444 ribu di akhir 2008. Ini gara-gara banyak yang khawatir dunia bakal kurang pesen minyak. Negara itu langsung ngeles, ekonominya ngejedot -7,9% di tahun 2009. Tapi untungnya, cepet banget bangkit lagi begitu harga minyak naik. Jadi, ekspor minyak dan gas itu bener-bener jadi pundi-pundi duit, sekitar 40% dari pemasukan anggaran federal Rusia. Trus, di tahun 2011-2012, pemerintah mereka borong duit buat atasi defisit, selain buat bayarin gaji pegawai pemerintah dan pensiun. Tapi masalah makin rame pas tahun 2015, ekonominya nyusut -2,5% gara-gara dikena sanksi dunia terkait aneksasi Krimea tahun 2014. Pemasukan Rusia turun terus selama empat tahun dari 2014. Meski begitu, di tahun 2016, ekonomi mereka agak stabil dikit lah, berkat harga minyak yang naik lagi. IMF bilang ekonomi Rusia ini lebih kuat daripada yang diperkirakan, menghadapi pas harga minyak turun dan kena sanksi. Tapi tetep aja, Kementerian Ekonomi Rusia harus pangkas target pertumbuhan mereka. Ini gara-gara rencana naikin pajak dan kebijakan moneter yang ketat dari bank sentral. Belum lagi khawatir soal penduduk yang tua-tua dan sistem pensiun Rusia yang perlu dipertahankan. Makin rumit nih ceritanya. China; Ekonomi Cina, yang tergantung banget sama ekspor, kena dampak keras banget ketika permintaan dunia turun. Makanya, pemerintah mereka ngumumin paket stimulus gila-gilaan senilai US$585 miliar atau Rp8.665 triliun, setara dengan 12% dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2008. Tujuannya sih buat nge-boost proyek infrastruktur dan genjot konsumsi swasta lewat perluasan moneter. Dari 2007 sampe 2014, Cina berhasil atasi perubahan ekonomi, loh. Meskipun tingkat pertumbuhannya turun drastis dari 14% jadi 7%. Tapi di sisi lain, masalahnya, utang Cina melonjak jadi lebih dari 250% dari PDB, bro. Beberapa ahli dan organisasi ngingetin kalo ini bisa jadi risiko negatif buat perekonomian global. Bank-bank Cina juga lebih gede dan untung banget dibanding bank-baratannya, lho. Menurut data dari The Banker, di 2008, cuma dua bank Cina yang masuk 10 besar, dan gak ada yang di posisi terakhir. Tapi cek ini, di tahun 2018, empat peringkat teratas malah didominasi sama bank-bank Cina. Jadi, pas krisis moneter 2008, Indonesia juga kena dampak gede, bro. Cekidot! 1. IHSG Merosot Tajam Dana asing cabut, deh, dan akibatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung jatuh bebas. Bahkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) harus berhentiin perdagangan pada 9 dan 10 Oktober 2008 buat kasih napas buat investor biar gak terlalu panik. Waktu krisis Lehman Brothers, IHSG turun sampe lebih dari 50 persen dari sebelumnya di akhir 2008. 2. Pusaran di Pasar Obligasi Pasar obligasi juga kena getirnya krisis. Performanya melemah dan puncaknya di bulan Oktober, dengan harga rata-rata turun sampe 27,4 persen. Surat utang Indonesia juga ngerosot banget, imbal hasilnya naik 10 persen jadi 17 persen. 3. Krisis Likuiditas Bank Perbankan jadi sasaran empuk, terutama soal likuiditas. Bank-bank BUMN masih beruntung karena pemerintah ngesupport mereka dengan nendang Rp15 triliun. Tapi, bank swasta menengah dan kecil kepepet, nih. Likuiditas terbatas, sulit dapet pinjaman di pasar uang antar bank. Sementara bank besar lebih milih ngejaga likuiditas. Biar makin parah, peminjaman dana nasabah dibatasi, dan pemerintah cuma ningkatin penjaminan LPS dari Rp100 juta jadi Rp2 miliar. Serba sulit, bro! Kalau dibandingin dengan krisis 1998, mungkin bisa dibilang gini; Krisis 1998 itu lebih ke Asia, kayak Indonesia, Thailand, Korea. Penyebabnya masalah ekonomi dan uang kertas yang ngelempem. Tapi, dampaknya nggak segede krisis 2008. Tapi, bagi masyarakat Indonesia krisis 1998 lebih berasa, kenapa? Jadi gini nih. Krisis 1998 lebih bikin heboh di Indo. Rupiah anjlok, bank susah, dan harganya barang melambung. Ada juga kerusuhan dan demo, politiknya chaos abis. Krisis 2008 lebih ke global, tapi ngaruh ke Indo juga. Cuma beda, nggak sampe kayak krisis 1998 yang bikin ribut-ribut. Pekerjaan juga pada lari-larian, tapi nggak separah dulu. Jadi intinya, krisis 1998 kerasa lebih berat di Indo, soalnya langsung ngeganggu kehidupan sehari-hari dan politiknya bikin geger.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN