SISI KEJAM RUBY

4446 Kata
"Elo juga sih, pake acara pulang malem." itu adalah omelan yang kesekian kali yang di keluarkan oleh Ralin. Sedangkan orang yang di omeli hanya mendengus beberapa kali. "Berisik lo! Nyetir aja kenapa sih." balas Ruby sedikit kesal karna Ralin yang tak henti mengomeli nya sejak sedaritadi. Ralin menghela nafas nya, dan mulai fokus menyetir, tidak mengeluarkan suara lagi. Begitupun dengan Ruby yang sibuk menatap keluar jendela. Hari ini dia memang berangkat dengan Ralin. Mobil nya tiba-tiba di sita oleh mama nya, lantaran pulang larut malam, dan bolos sekolah. Alhasil pagi ini dia harus berangkat bersama Ralin menuju sekolah. Bukan hal yang buruk bagi nya, tapi cukup membuat ruang gerak nya akan terbatas nanti. Mobil Jaz milik Ralin tepat berhenti di parkiran sekolah yang sudah ramai akan kendaran siswa siswi yang lain nya. Ruby tanpa banyak bicara langsung saja keluar, seraya menenteng tas nya. Di susul oleh Ralin yang juga melakukan hal yang sama. "Entar lo pulang nya sama gue lagi." Ralin membuka pembicaraan. "Gak usah. Gue bisa pulang sendiri. Lagian gue yakin hari ini jadwal gue padet di sekolah." jawab Ruby dengan suara dingin nya. Ralin menghela nafas nya. Dia sudah tau akan hal itu, pasal nya kemarin Pak Dadang mencari Ruby untuk mengerjakan tugas pratikum kimia, belum lagi Bu Emy juga menanyakan Ruby kepada nya karna saudara nya itu bolos saat pelaksanaan ulangan matematka. "Rubyy !!" teriakan itu terdengar ke penjuru parkiran. Mengundang pandang beberapa orang yang lewat disana. Namun hanya sebentar, mereka kembali berpaling saat di lihat siapa yang berdiri di salah satu area parkir itu. Ruby berdecak. "Berisik banget sih ni anak!" gumam nya pelan. Di sambut kekehan pelan dari Ralin. Pemilik teriakan itu sudah berada tepat di depan Ruby. Di susul oleh tiga orang lain nya. "Kok lo udah sekolah?" Pertanyaan Yuma lantas menciptakan kerutan di dahi Ralin. Namun berbeda dengan Ruby yang masih memasang wajah datar milik nya. "Harus banget pertanyaan lo gue jawab?" balas Ruby dingin. Yuma menampilkan cengiran andalan nya. "Pertanyaan orang b**o tuh. Ya iya lah Ruby sekolah, emang dia di d.o" kali ini Ranaya yang bersuara. "Ih, gue salah nanya doang kali." gerutu Yuma. Berbeda dengan Ranaya yang berdebat dengan Yuma. Nesya dan Stefi justru saling pandang satu sama lain. Hanya sebuah tatapan, tapi dari sorot mata itu lah mereka seakan menyampaikan isi pikiran dan ke khawatiran yang sama. Cukup lama mereka bersitatap, sebelum terpecahkan oleh suara lain yang tiba-tiba muncul. "Hai Lin!" sapa suara itu. Baik Nesya, Stefi, Ranaya, dan Yuma sedkit terlonjak kaget. Mereka secara bersamaan menoleh ke arah suara. Namun patut bernafas lega, karna pemilik suara bukan orang yang mereka takutkan akan muncul sepagi ini. Dan gawat nya di depan Ruby. Ralin tersenyum sebagai balasan dari sapaan Tata. Di samping gadis itu ada Genta yang tampak menatap ke arah Ruby yang bersikap seakan tidak ada orang lain, selain BlackHeart di sana. "Mending ya By. Lo gak usah masuk dulu sekarang." Stefi membuka suara, saat suasana itu di lingkupi keheningan dan ketegangan di pihak BlackHeart kecuali Ruby pasti nya. "Kenapa? Lo ngatur gue?" Suara dingin Rubt membuat Stefi menelan saliva nya susah payah. Dia merutuki diri nya yang malah berbicara seperti itu. "Bukan itu maksud gu---" "Maksud Stefi. Lo kan kemerin bolos, pasti sekarang bakal dapat sanksi." Nesya memotong kalimat Stefi seraya melirik teman nya itu yang kelabakan akan merespon apa. "Trus? Ini pertama kali gue ngelakuin kesalahan? Enggak kan." balas Ruby santai tanpa takut sedikit pun. Ke empat anggota BlackHeart kembali saling pandang satu sama lain. Sebenarnya bukan itu yang meraka takut kan jika Ruby sekolah hari ini. Pasal nya baik mereka atau pun Ruby, sudah biasa di hukum karna bolos sekolah. Kesan nya sudah kebal dengan segala hukuman. Tapi ada hal yang lebih mengerikan di banding hukuman dari kepala sekolah. Melainkan kehadiran sosok orang yang kemarin mereka lihat. Ralin menatap kegugupan dan ketegangan di dari empat teman Ruby itu. Jujur, dia sebanarnya juga merasakan hal yang sama. Apa yang ada di pikiran BlackHeart sekarang, juga ada di pikiran nya. Suasana yang mendadak diam, membuat Tata dan Genta yang ada disana saling pandang. Sebelum akhir nya sebuah suara memecah keheningan. "Ruby..." suara itu terdengar pelan dan gugup. Bukan hanya Ruby yang menoleh, tapi ke tujuh orang lain nya juga ikut menoleh. Tepat di depan Ruby, berdiri Shiren si cewek cupu berkacamata tebal, satu angkatan dengan mereka,tepat nya spesies kelas XII IPA 1, kelas Ralin. Ruby melipat tangan nya di d**a, melihat kegugupan dan gemetar nya gadis itu di sertai dengan kepala yang menunduk. "Ngapain sih ni si cupu." gumam Stefi menatap Shiren yang menunduk. "woi! Kalau di sini lo cuman mau nunduk, mending cabut! Sebelum gue empet ngelihat lo." hardik nya. Shiren semakin menautkan kedua telapang tangan nya, dan meremas jari jemari nya. "E...itu..Ruby...Buk...E...my, nyur...ruh kamu ke ruangan kepala sekolah." info nya dengan suara bergetar. Ruby melipat tangan nya di d**a. Semua mata kini terarah pada gadis itu. Entah apa yang akan di lakukan gadis itu. Ralin menahan nafas nya saat Ruby melangkah mendekat ke arah Shiren yang masih menunduk. "Lo tau kan lagi ngomomg sama siapa?" tanya Ruby dengan suara dingin dan tajam. Shiren mengangguk. "Tatap gue kalau lo lagi ngomong sama gue. Ngerti!" gadis itu kembali mengangguk dan melangkah pergi dengan keringat yang telah membasahi wajah dan tangan nya. Ruby melangkah kan kaki nya meninggalkan parkiran di ikuti dengan ke empat anggota genk BlackHeart yang lain nya. Sedangkan Ralin, Tata dan Genta menatap kepergian genk tersebut. Gue gak tau harus bagaimana lagi mengeluarkan lo dari kegelapan ini By. Tapi gue berharap dengan kembali nya Nichol akan mempermudah segala nya. Ralin membatin. ☔☔☔☔☔ Ternyata bukan hanya ada Ruby di ruangan kepala sekolah yang telah berdiri bukan hanya Pak Willi, tetapi juga ada Buk Emy disana. Yang kini sama-sama menatap ke arah Ruby yang duduk dengan wajah datar di kursi yang berhadapan dengan Pak Willi. Sudah 5 menit gadis itu berada disana, tanpa melakukan apa pun selain mendapatkan tatapan intens dari kedua guru itu. Tapi tatapan itu tidak membuat Ruby gencar atau takut, dia malah bersikap tenang. Bagi nya, masuk dan di sidang di ruang kepala sekolah itu sudah biasa, jadi tidak ada yang perlu di takutkan. Tidak lama terdengar pintu ruangan terbuka, untuk pertama kali nya pandangan Pak Willi dan Buk Emy berpaling dari Ruby. "Bapak sama Ibuk manggil saya?" Kedua guru itu mengangguk. "Duduk Genta!" suruh Pak Willi yang di anggukan Genta. Ruby tidak merubah posisi nya sama sekali. Tidak peduli kini telah duduk Genta di samping nya. "Kemarin saya mendapat laporan bahwa kalian berdua tudak masuk. Kemana kalian?" tanya Pak Willi dengan suara tegas dan penuh wibawa. Ruby tidak langsung menjawab. Sedagkan Genta melirik gadis itu sebentar, sebelum ajhir nya menjawab. "Maaf pak. Saya telat bangun." jawab nya. Tatapan sang kepala sekolah beralih pada Ruby. Meminta jawaban pada satu siswi nya itu. "Saya malas masuk." jawab gadis itu tanpa rasa takut. Genta seketika menoleh ke arah Ruby. Wajah gadis itu masih tenang, tanpa rasa takut. Terdengar Pak Willi yang menghela nafas bersamaan dengan Buk Emy yang menggeleng atas jawaban satu murid nya itu. Dari dulu, gadis itu memang tidak pernah berubah. "Ruby! Bapak tau kamu anak pemilik sekolah ini. Tapi bukan begini cara nya. Bersikap semena-mena." suara Pak Willi naik satu oktaf. Gadis itu tidak merespon. Kepala sekolah itu menarik nafas nya perlahan, dan memperbaiki posisi duduk nya lebih tegap, memfokus kan sorot mata nya pada anak pemilik sekolah itu. "Bapak gak ngerti sama kamu Ruby. Kamu tau kenapa sekolah ini masih mempertahankan kamu?" dia memberi jeda sebentar pada kalimat nya. "Bukan karna kamu anak pemilik sekolah ini. Tapi karna prestasi belajar kamu yang selalu membanggakan. Walau begitu banyak pelaggaran yang sudah kamu lakukan. Membully, bolos, dan rentetan pelanggaran lain nya." suara Pak Willi lebih terdengar serius. Dan lebih tenang dari sebelum nya, karna percuma bersikap keras pada satu murid nya itu. Genta melirik Ruby yang masih diam. Gadis itu tidak menunduk, tapi juga tidak menatap pada kepala sekolah. Tatapan nya terlihat tidak terarah. "hukuman dalam bentuk apa lagi yang harus bapak jatuh kan ke kamu?" Ruby untuk pertama kali nya mengalihkan pandangan nya kepada Pak Willi. "Saya gak pernah minta sekolah ini untuk mempertahankan saya." jawab nya dengan suara dingin. Pak Willi dan Buk Emy saling pandang satu sama lain. Ruby tanpa berkata apa-apa lagi bangkit dari duduk nya, berniat untuk meninggalkan ruangn tersebut. "Bersihkan aula sekolah!" perintah Pak Willi dengan suara tegas nya. "Kamu juga Genta!" mata nya beralih pada Genta yang sedaritadi ganya diam. Cowok itu mengangguk patuh. Sedangkan Ruby, tanpa merespon dalam bentuk apa pun, meninggalkan ruangan itu. ☔☔☔☔☔ Di aula yang luas itu, hanya ada dua anak manusia yang sama-sama sibuk dengan alat kebersihan yang ada di tangan mereka. Di selimuti keheningan. Sedari tadi tidak ada yang membuka suara. Sudah lebih 30 menit mereka membersihkan aula yang cukup kotor itu. Ruby menarik nafas nya perlahan, dan dapat merasakan keringat mengucur di dahi nya. Dengan sikap tenang yang di miliki nya, dia melempar pel-lan yang di pegang nya ke lantai. Sehingga menciptakan bunyi yang cukup keras, mengundang perhatian Genta yang tengah sibuk mengelap jendela. Genta turun dari kursi dan menatap Ruby yang mulai duduk di lantai aula dan bersandar pada pilar aula itu. Tampak mengatur nafas. "Nih!" Ruby menatap sebotol minuman yang di sodorkan oleh Genta. Dia belarih menatap Genta sebentar sebelum akhir nya menerima botol minuman itu. Genta mengelap keringat nya dengan tangan. Dan ikut duduk di salah satu sisi pilar, sehingga posisi nya dengan Ruby saling berdampingan. Dia meneguk air mineral nya sampai setengah botol. Sedagkan Ruby hanya meminum air nya sedikit. "Gue gak nyangka. Ternyata lo seberani itu sama kepala sekolah." untuk pertama kali nya Genta membuka suara. "Lo gak takut di skors atau di kenakan phukuman yang lebih berat?" tanya nya seraya melirik ke arah Ruby. "Gak ada kata takut di kamus hidup gue."respon gadis itu pelan dan singkat. Genta kembali mengalihkan pandangan nya ke arah lain. "Lo tau gak sih. Pertama kali gue nginjekin kaki disini. Hal petama yang di tangkap kuping gue itu, ya nama lo. Semua orang heboh ngomongin lo. Macem-macem, ada yang bilang lo itu Ratu bully, Cewek kutub yang dingin banget, queen bee pintar minus kejam. Jujur, gue penasaran sekaligus gak percaya sama desas desus itu. Tapi saat pertama kali gue ketemu elo di deket ruangan guru. Kesan pertama yang gue tangkep itu, ya lo emang cewek kutub banget." "Tapi gue yakin. Lo itu ibarat air yang di masukkin ke kulkas, lama-lama membeku, tapi bisa mencair juga." Genta kembali menoleh, menatap Ruby dari samping. "Dan lo hanya butuh sedikit kehangatan untuk mencairkan es yang ada di diri lo." suara cowok itu kini terdengar pelan. Ruby masih pada posisi nya, namun bukan berarti dia tidak tertegun dengan setiap kata yang keluar dari mulut Genta. Darah nya tiba-tiba berdesir mendengar penuturan itu. Setiap julukan yang di sebutkan Genta tadi sudah sering di dengar nya, dan julukan itu telah melekat dalam diri nya sejak sudah 1 minggu lama nya dia bersekolah di SMA Saga. Pandangan Ruby tampak menerawang dan lurus ke depan. "Pernah gak dalam hidup lo. Lo temuin sebuah alasan yang mengharuskan lo untuk tetap hidup dalam senyuman?" dia membuka suara nya. Genta tidak mengerti dengan perkataan Ruby. Namun tidak bertanya, sampai gadis itu kembali bersuara. "Saat lo lagi di atas. Trus tiba-tiba lo di hempaskan dan jatuh. Bukan di antara bintang-bintang, tapi di antara semak belukar yang penuh duri. Menusuk setiap jengkal kulit, menciptakan luka yang amat perih. Sampai buat lo ingin menangis. Tapi seakan gak bisa. Karna semua terlalu menyakitkan." Benhenti sejenak, sebelum kembali melanjutkan nya. "Saat lo memiliki banyak kepercayaan, tanpa di duga lo di kecewakan." Ruby untuk pertama kali nya menoleh pada Genta yang terdiam dengan posisi masih mentap gadis itu. Dia termangu menatap mata berair Ruby yang baru pertama kali di lihat nya. "Dan kepercayaan gue akan hidup sudah di renggut paksa. Tanpa memberi gue ruang untuk bisa percaya lagi, melumpuhkan dan mematikan hati yang pernah gue punya." kali ini setiap kata-kata uang keluar dari mulut Ruby penuh penekanan. "Hidup gak sekejam itu By." Ruby menyeringai. "Bukan hidup. Tapi takdir." Genta masih menatap lekat pada Ruby. "Kenapa lo menganggap takdir kejam?" Ruby menghela nafas nya perlahan, seraya memalingkan wajah nya ke arah lain. "Gue bukan orang yang percaya takdir. Melainkan orang yang mengutuk ada nya takdir." suara gadis itu semakin terdengar dingin di penderangan Genta. Genta tertegun dalam diam, bahkan saat gadis itu tak lagi duduk di samping nya, melainkan telah keluar meninggalkan nya di keheningan Aula. Membiarkan berbagai pertanyaan berputar di otak nya. ☔☔☔☔☔ Hari ini SMA Saga kembali di buat heboh seperti kemarin. Terutama pada kubu wanita. Hampir seluruh siswi berlarian dan berteriak histeris saat melihat cowok yang sama seperti kemarin melintasi koridor lantai satu. Mereka seperti para fans, yang berteriak histeris jika melihat idola mereka melintasi jalan. Tak sedikit dari mereka yang memuja-muja wajah tampan milik Nichol Saputra. Anak baru, namun sudah menciptakan pesona yang luar biasa di SMA Saga. Wajah nya tampan, cool, dan tubuh nya tinggi seperti atlet basket. "Mau dong jadi pacar Nichol." "Ah akhir nya, ada juga penyejuk di sekolah ini. Dengan kehadiran malaikat tampan seperti Nichol." "Udah punya pacar belum ya?" "Cocokan sama gue." Itu lah beberapa teriakan-teriakan hiteris siswi-siswi yang melihat Nichol. "Baru juga lo sehari di sekolah ini. Tapi udah bikin heboh satu sekolah tau gak." Sahut Ralin, pada cowok yang berdiri di samping nya. "Ya iya lah. Resiko cogan tu emang kayak gini." balas Nichol superpede. Ralin mencibir. "Sok kegantengan." "Emang ganteng Ralin." "Serah lo deh. Semerdeka nya lo aja." Ralin dan Nichol tengah asik mengobrol, dan sesekali tertawa bersama. Sampai mereka tidak sadar bahwa telah berdiri seseorang yang tengah menatap ke arah mereka dengan wajah datar. Perhatian Ralin dan Nichol teralihkan saat sebuah gesekan sepatu pada lapangan terdengar mendekat. Mereka menoleh secara bersamaan. Senyuman mereka sedikit pudar saat melihat siapa yang berdiri diam disana. "Ruby!" gumam Nichol seraya bangkit dari duduk nya. Senyuman yang sempat hilang, kembali terbit di wajah nya. Dengan langkah mantap dia berjalan ke arah Ruby. Tangan Nichol harus berhenti di udara saat Ruby mundur satu langkah, ketika dia akan merengkuh gadis itu. Dia menatap Ruby tidak mengerti. "By!" dia menatap wajah datar gadis itu seakan tidak percaya. Di tambah dengan sorot dingin yang di pancarkan mata Ruby. Berbeda dengan Nichol, Ralin justru menelan saliva nya. Dia tau, cepat atau lambat kedua insan ini akan bertemu juga. Gesekan sepatu yang tadi terdengar itu, berasal dari sepatu milik Genta. Cowok itu juga telah berdiri di belakang Ruby, dengan tatapan bingung melihat pemandangan yang ada disana. "Kenapa gue harus di pertemukan dengan orang-orang yang gak penting kayak gini." Nichol semakin di buat bingung dengan sikap Ruby, di tambah lagi dengan kata-kata itu. Apa maksud nya? Ketertegunan nya terpecah saat gadis itu akan berbalik pergi. "Lo kenapa? Gue Nichol By. Sahabat lo." sahut nya menahan pergelangan tangan Ruby. "Lepas!" ucap Ruby sarat akan perintah. "Lo kenapa? Gue Nichol Ruby." Nichol masih memegang pergelangan tangan itu, mengabaikan perintah tersebut. "Gue gak kenal sama yang nama nya Nichol." balas Ruby dingin dan sukses menohok hati Nichol. Pegangan nya melonggar, dan terlepas. Dia menatap nanar kepergian sahabat masa kecil nya itu. Genta yang tidak mengerti apa-apa. Memilih pergi dari lapangan itu, setelah menatap sekilas cowok yang tadi berbicara dengan Ruby. Cowok yang baru pertama kali di lihat nya di sekolah ini. Nichol masih mematung di tempat nya. Membiarkan hembusan angin menerpa rambut nya. Semua yang terjadi seakan masih menjadi tanda tanya besar bagi nya. Sosok yang tadi di depan nya, seakan asing. Bukan lagi sahabat nya yang dulu di kenal nya. "Sosok itu lah yang selama dua tahun ini gue hadapi. Seorang diri." suara Ralin hadir di samping nya. Membuat nya menoleh menatap gadis itu. Tatapan yang seakan meminta jawaban. Ralin menarik nafas nya seraya mengangguk. "Dia berubah sejak Dafa pergi, dan saat lo menghilang." Nichol kembali tertegun. Jawaban itu lebih dari cukup bagi nya. "Lo gak akan pernah bisa melihat sosok dia yang dulu. Karna nyata nya, dia benar-benar meninggalkan dunia nya yang dulu, dan hidup dalam dunia nya sekarang. Dunia tak tersentuh oleh siapa pun. Termasuk oleh gue sendiri." Lanjutan kata-kata itu membuat Nichol seakan di hantam ribuan batu besar. Membuat tenaga dan semangat nya seakan runtuh. Alasan nya kembali lagi ke Indonesia adalah Ruby. Namun semua nya seakan terbang di tiup angin, saat Ruby tak ingin lagi mengenal nya. Dia tau, dia melakukan kesalahan 2 tahun lalu, tapi kini dia ingin menyelesaikan nya. ☔☔☔☔☔ Genk BlackHeart minus Ranaya dan Ruby tengah berkumpul di meja kantin yang sudah menjadi tempat yang mereka booking, tempat yang tidak boleh di duduki oleh siapa pun. Membicarakan hal-hal yang tidak penting, dan sesekali tertawa pelan mendengar celotehan Yuma. Sekarang jam istirahat, jadi kantin sedikit ramai akan pengunjung, hampir seluruh meja yang ada disana berisi. Biasa nya kantin akan penuh jika tidak ada genk BlackHeart disana. Dan bagi anggota genk, hal itu tidak masalah,karna mereka juga tau bagaimana pengaruh mereka di SMA Saga terlebih sang leader. "Guys!" teriakan itu terdengar di iringi dengan orang yang berlari tergesa-gesa. Nesya, Stefi dan Yuma menatap heran ke arah Ranaya yang tampak berlari ke arah meja mereka. Bahkan bukan hanya mereka, tapi seluruh penghuni kantin menatap heran ke arah salah satu anggota genk itu. "Kenapa sih lo? Lari-lari segala di kantin." seru Stefi heran dengan kerutan di dahi nya. "Ini gawat!" seru Ranaya dengan suara panik dan nafas yang terengah. Ketiga anggota BlackHeart yang lain nya saling pandang. "Maksud lo?" "Ruby---dia udah ketemu langsung sama Nichol di lapangan basket." Ranaya melanjutkan kata-kata nya dengan nafas yang tesengal-sengal. Info yang di bawa Ranaya lantas membuat Stefi dan Yuma memelototkan mata mereka. Lagi-lagi Nesya hanya diam walau dia sama kaget nya. "Lo serius?" tanya Yuma seakan tidak percaya. "Ck, gue serius. Ngapain gue bohong. Gue tadi gak sengaja lewat lapangan basket trus ngelihat mereka. Dan lo semua harus tau, reaksi Ruby luar biasa dingin tau gak. Tapi gue tau sih kalau dia lagi nahan emosi." Stefi mendesah, begitu pun dengan Yuma. Sedangkan Ranaya mulai mengatur nafas nya dan meneguk segelas air yang berada di atas meja, entah milik siapa. "Ruby !" seruan Nesya membuat mereka menoleh ke arah pandang Nesya. Tanpa berkata apa-apa Nesya bangkit dari duduk nya dan berjalan cepat saat melihat Ruby berjalan melewati kantin, dengan tangan yang terkepal. Dia dapat melihat itu. Ranaya, Stefi dan Yuma tidak membuang waktu lagi. Mereka dengan setengah berlari menyusul Nesya. Sedangkan semua mata menatap mereka dengan heran, dan rasa ingin tahu yang besar. Namun tidak ada yang berani mengikuti atau hanya sekedar bertanya. Ketiga nya ikut berhenti saat Nesya juga berhenti di depan loker sekolah. Mereka ikut menatap ke depan seperti Nesya, tepat di salah satu loker berdiri Ruby dengan kondisi memegang pintu loker bertuliskan nama gadis itu yang terbuka. Mereka saling pandang, melihat sang leader yang menunduk seraya mencengkram erat pintu loker itu. Dan mereka dapat tahu, bahwa itu adalah bentuk emosional yang keluar dalam diri leader mereka itu. Nesya dan di susul ketiga teman nya yang lain melangkah mendekati Ruby. Dia menyentuh pelan pundak sahabat sekaligus leader nya itu. "Dari awal gue udah tau. Gak ada guna nya nyembunyiin ini sama lo. Karna dia ada di lingkungan sekolah ini, dan cepat ataupun lambat lo juga bakal ketemu sama dia." Suara tenang milik Nesya dapat di dengar nya dengan jelas. Nesya mengangkat kepala nya , dan menoleh pada ke empat teman nya yang berdiri di samping kiri nya. Tangan nya terlepas dari pintu loker itu. Menatap lurus pada Nesya yang barusan berbicara. Nesya ikut menatap mata Ruby yang datar. Ranaya, Stefi dan Yuma saling pandang. Melihat dua anggota genk yang sama-sama datar dan dingin tengah saling tatap dalam diam. "Gue tau kemarin lo bolos karna ketemu sama Jean. Peretemuan pertama setelah dua tahun." Nesya kembali bersuara. Ruby masih diam dan terus menatap Nesya. Menatap dingin manik mata teman nya itu yang sama-sama dingin. "Jangan kotorin tangan lo. Untuk menghabisi Jean. Kita pakai cara santai, kita ikuti alur yang selama ini dia buat. Karna gue yakin, kemunculan dia kembali pasti dengan rencana matang yang sudah dia siapkan." kata Nesya dengan nada serius. "Dan Nichol, gue gak tau kenapa dia kembali, bersamaan dengan muncul nya Jean." Brakk.. Bunyi benda jatuh itu membuat semua anggota genk BlackHeart menoleh ke arah datang nya suara. Berarti ada orang selain mereka berlima di ruangan loker itu, dan pasti nya telah mendengar segala yang mereka bicarakan. Benar saja, tidak jauh dari sana berdiri seorang gadis yang memegang beberapa buku tebal, tengah menatap gemetar ke arah mereka, dengan wajah yang penuh rasa takut. "Berani juga lo nampakkin wajah lo disini." seru Stefi di sertai dengan seringai kejam milik nya. Ranya dan Yuma mulai bersidekap d**a. Seringaian muncul di wajah Ruby. Seringai devil yang biasa di keluarkan leader genk itu, jika ingin membully orang. Emosi nya tengah tidak stabil, dia ingin mengamuk, dan ingin melampiaskan amarah nya. Dan malang nya, Siska telah mengantarkan nyawa nya kepada singa yang sebentar lagi akan mengamuk. "Lo salah masuk ruangan Siska." gumam Ranaya. Siska mulai bergetar ketakutan menatap satu persatu seringaian devil milik genk BlackHeart. Tujuan awal nya hanya lah untuk menaruh buku di loker, tetapi dia malah di pertemukan dengan genk bully dan kejam ini. Tubuh nya semakin bergetar takut saat leader dari genk itu berjalan mendekat ke arah nya. "Jangan pikir gue kemarin gak masuk, trus lo bisa bernafas lega." Ruby bersuara saat telah berdiri di depan Siska. "Gue gak akan lupa untuk melakukan sedikit hal pada lo, atas kejadian dua hari yang lalu." "By...gu..e gak sengaja." jawab Siska terbata-bata. Dengan pancaran mata penuh ketakutan. "Trus gue harus peduli? Lo udah melakukan dua kesalahan fatal. Pertama, lo salah karna udah milih gue sebagai orang yang menjadi tumpahan cairan kimia lo. Kedua, lo salah karna udah masuk ke sini." Ruby mendekatkan wajah nya pada tawanan nya hari ini. "Seperti nya seru. Jika gue bermain-main sebentar dengan lo. Sudah lama gue gak melakukan ini." seringai nya seraya menendang kaki Siska dengan kekuatan cukup kuat. Siska memekik, dan tersungkur di lantai. Buku yang di pegang nya berserakan di lantai. Ke empat anggota genk BlackHeart yang tersisa tersenyum sinis, tak kalah devil nya dari sang leader. Terlebih saat melihat Siska mulai beringsut keluar dari ruangan itu, di sebabkan kaki nya merasakan ngilu yang amat sakit. Mata nya sudah berair, antara menahan sakit di kaki nya dan menahan takut akan tatapan dingin dan kejam milik Ruby. "Ruby gue mohon gue gak sengaja." ampun Siska di iringi dengan rauangn nya. Dia terus beringsut, sedangkan Ruby terus berjalan pelan menyusul nya. Semua perhatian siswa dan siswi SMA Saga mulai berpindah pada adegan itu. Mereka mulai berkumpul membentuk lingkaran disana. Sebagian menatap kasihan pada Siska yang terus meraung dan memekik saat kaki Ruby mendarat di tangan gadis itu dan menginjak nya dengan gerakan memilin. Sebagian ada yang meringis, seakan ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Siska. "Am..pun Ruby." ringis gadis yang menjadi korban bully itu. Dengan air mata yang semakin mengalir deras, menahan sakit pada tangan yang kini dalam kuasa kaki Ruby. "Siska-siska. Lo itu minta ampun ke orang yang salah. Lo pikir Ruby bakal ngampunin lo, Gak bakal, sampai nangis darah juga dia gak akan ngelepasin lo." Seru Stefi dengan suara meledek nya di sertai dengan senyuman devil nya. Ruby mengangkat kaki nya yang sedari tadi menginjak tangan tawanan nya. Dia lalu berjongkok, dan dengan satu kali hentakan dia berhasil mencengkram kuat dagu Siska dan mengarahkan nya agar menatap ke arah nya. "Sakit hah? Sakitan mana sama cairan kimia itu? O atau lo mau nyoba cairan kimia itu di kulit lo hm?" Siska menggeleng dengan air mata yang terus mengalir. Wajah gadis itu sudah tidak berbentuk lagi, berantakan, dan anak rambut yang basah karna air mata. Tubuh nya pun semakin bergetar hebat. Tangan yang sempat di injak cukup lama tadi, mulai memerah dan terlihat memar. Dan kaki yang di tendang tadi, pasti sangat sakit dan ngilu. Seringaian Ruby kembali muncul, seringaian yang semakin memperlihatkan sisi kejam gadis itu. "Pipi lo kayak nya juga harus dapat balasan." desis nya. Tangan Ruby terangkat di udara. Semua penonton disana mulai menutup mata mereka satu persatu. Mereka tau bahwa sebetar lagi tamparan dahsyat akan mendarat di wajah Siska. Sebagian ada yang ingin menolong, tetapi mereka juga tidak berdaya. Suasana semakin tegang saat Ruby mulai melayang kan tangan nya. Namun belum sempat tangan itu tiba di pipi Siska, seseorang telah menahan pergelangan tangan queen bee itu. Semua mata kini tertuju pada sang pemilik tangan yang sangat berani menahan tangan Ruby itu. Termasuk empat anggota genk BlackHeart yang berdiri di sisi kiri Ruby. Ruby menolehkan wajah nya kepada orang yang berani-berani nya menghentikan aksi nya. Tatapan dingin nya brtemu dengan tatapan tajam dan geram milik seseorang. Dia bangkit dari posiai berjongkong nya, melepaskan cengkraman tangan nya pada dagu Siska. "Henti in perbuatan konyol lo!!" geram orang itu dengan mata yang melot marah. Orang itu adalah Genta. Ruby mematap datar mata Genta. Dia berusaha menghempaskan tangan cowok itu namun sia-sia, cekalan cowok itu lebih kuat. Tampak di belakang Genta berlari, Ralin, Tata dan Nichol. Menembus keramaian yang tercipta. Tatapan Ruby dan Ralin sempat bertemu, Ralin menggeleng kan kepala nya tidak percaya setelah menatap Siska yang menangis terduduk dengan keadaan yang kacau. Lalu dia menatap Ruby geram dengan mata yang berkilat marah. Sama hal nya seperti Genta. "Singkirin tangan lo dari gue sekarang!" tekan Ruby pada Genta dengan suara dingin nya. Genta menggeleng samar. Dengan amarah yang masih memuncak, dia menarik kuat tangan Ruby dan membawa gadis itu keluar dari kerumunan tersebut. Stefi, Ranaya, dan Yuma akan menyusul, namun di tahan oleh Nesya. "Ruby gak akan segampang itu tumbang." seru Nesya dan berbalik arah. Ketiga anggota BlackHeart yang lain nya, menyusul Nesya yang meninggalkan kerumunan. "Tolong bawa Siska ke uks Ta!." pinta Ralin dengan suara pelan nya. Tat mengangguk dan membantu Siska berdiri,dan memapah nya ke uks dengan kaki gadis itu yang sedikit pincang. Seiring dengan pergi nya Tata, dan kerumunan yang mulai bubar. Air mata Ralin tanpa sadar menetes, dengan tubuh yang mematung di tempat nya. Nichol menyaksikan bagaimana kondisi gadis yang menjadi korban Bullyan itu. Dan yang membuat nya tertegun, pelaku nya adalah sahabat yang di sayang nya sendiri. Ternyata queen bee kejam itu adalah sahabat nya sendiri. "Lo lihat! Itu yang gue hadapi setiap hari. Gue gak tau harus gimana lagi Nic." suara Ralin berubah serak karna air mata. "Entah sudah berapa banyak orang yang dia sakiti, hanya karna dia kecewa dengan takdir nya." lanjut Ralin kali ini lebih terisak. Nichol terdiam. Tulang nya seakan tak berdaya untuk sekedar berdiri tegak. Semua berubah begitu cepat, dimata nya. Kejadian dua tahun lalu itu, benar-benar membawa pengaruh besar untuk semua nya. Bukan hanya Ruby, tapi juga diri nya. ☔☔☔☔☔
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN