Sean masih menemani Shiela di rumah sakit sementara Handoko dan Tina kembali ke apartmen untuk beristirahat dan akan kembali sore nanti. Ketika Sean sedang asik dengan laptopnya menyelesaikan pekerjaan, tetiba terdengar erangan suara Shiela.
"Ehgggg...Sean...Seann...."panggil Shiela
"Aku disini sayang..."jawabnya sambil meletakan laptop dan berjalan mendekati ranjang Shiela.
"Aku haus." ucap Shiela hampir tak terdengar
Sean langsung ingat ucapan perawat untuk memanggil mereka jika Shiela sudah bangun. "Sebentar ya sayang, aku panggil perawat dulu." lalu menekan tombol merah diatas tempat tidur Shiela. Tak lama datanglah seorang perawat dengan membawa sebuah baskom kecil. Entah untuk apa, Sean tak peduli "She just woke up."
Perawat menganggukan kepala tanda mengerti dan memeriksa tabung berisi cairan yang sudah kosong. Dengan cekatan dia melepaskan jarum infus dari tangan Shiela kemudian menutup jejak tusukan dengan kasa kecil yang sebelumnya sudah diberikan alkohol lalu menempelkan plester agar tidak terlepas.
"I will call Doctor Matthew to check on Shiela." ujarnya "If Shiela feels nauseous, that's normal. Let Shiela throw up in this basin. and please call us." tambahnya. "Excuse me."
Belum sempat Sean menjawab, sang perawat sudah bergegas keluar kamar. Sean kembali mendekati ranjang Shiela dan menuang air hangat kedalam gelas dan medekatkannya pada bibir Shiela."Minum Shiel...pelan pelan ya.."
Shiela hanya bisa mengangguk dan menyesap air hangat itu. Baru sekitar tiga teguk, tiba tiba Shiela merasakan mual yang sangat luar biasa. Sean buru buru mengambil baskom yang dibawa oleh perawat dari bawah ranjang dan mendekatkannya kebawah dagu Shiela.
"Huekkk..huekkkk..." terdengar Shiela memaksa untuk mengeluarkan isi lambung nya . Sekitar lima menit lamanya...Shiela tersiksa dengan rasa mualnya itu. Sementara Sean langsung menekan tombol merah memanggil perawat, sesuai pesannya.
Dengan dibantu perawat, Shiela duduk bersandar beberapa bantal pada punggungnya. Mual yang datang kini sudah menghilang, dirinya sudah dapat bernapas dengan teratur kembali.
"Good afternoon." sapa Dokter Matthew. Diperiksa detak jauntung, mata, mulut dan punggung Shiela dengan teliti. "Well, obat baru saja masuk ke dalam aliran darah Shiela, dan obat itu akan mematikan sel sel jahat dan sel baik seperti yang pernah saya jelaskan dulu. Dalam beberapa hari ini, tubuh Shiela akan terasa lemas. Itu lumrah. Banyak minum, makan dan istrirahat.Jika besok Shiela sudah lebih baik, dapat beristirahat di apartmen agar lebih nyaman." lanjutnya.
"Matt." panggil Sean. "Rasa mual itu akan kembali lagi atau hanya tadi saja?" tanyanya penasaran. Sean kasihan melihat Shiela berjuang mengeluarkan seluruh isi lambungnya, padahal tidak ada yang keluar lagi dari tenggorokannya. Tentu saja, perutnya belum diisi sejak tadi pagi, seemantara sekarang sudah pukul 3 sore.
"Hm...depends. Yeah...tergantung dari kondisi badannya Sean. Namun berangsur angsur nanti akan mereda." jawabnya. "Shiela, kamu jangan khawatir jika merasa kehausan, mulut kering, panas di dalam tubuh kamu. Itu tandanya obat sedang bekerja. Dibantu dengan makan buah buahan, sayur segar. Untuk sementara hindari konsumsi daging kecuali ikan. " Panjang lebar Matthew memberikan penjelasan. Shiela hanya bisa menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Nanti mungkin mami akan lebih banyak bertanya dengan kamu yahhh Matt. Rasanya badanku tak bertenaga sekarang, lemas." jawabnya dengan suara perlahan.
Dokter Matthew tidak menganggu lagi dan minta ijin untuk keluar dan berjanji besok pagi akan mengunjunginya lagi.
"Sean..aku lelah sekali." lihir Shiela.
"Tidurlah sayang...jangan khawatir, ada aku disini menemanimu." ujar Sean dan mengecup kening Shiela. Tak membutuhkan waktu yang lama Shiela tertidur kembali. Kemudian Sean mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu sudut saja. Setelah dirasa Shiela sudah terlelap, dilanjutkan pekerjaannya sambil sesekali memeriksa keadaan Shiela. Hatinya tidak tenang, terlebih melihat betapa lemahnya tubuh Shiela setelah proses kemoterapi tadi.
Malam itu dilewati dengan tenang, semalaman Shiela tidur dengan nyenyak sampai entah pukul berapa tetiba Sean mendengar isak tangis dari arah ranjang Shiela. Dengan terhuyung dia menghampiri perempuan itu dan menepuk pipinya perlahan. "Shiel.Shiela.." panggilnya.
"Uhhggg..." mata Shiela terbuka. Diraih tangan Sean yang masih menempel dipipinya dan menangis terisak isak. Dipeluk tubuh Shiela sampai tangisnya mereda. "Mimpi buruk hmm?" tanya Sean.
Shiela menganggukkan kepalanya "Aku bermimpi...entah dimana. Aku lihat kamu berjalan menjauh dan tidak menoleh ketika kupanggil namamu. Hikss..hikss" isak tangis kembali terdengar. Sean membelai kepala Shiela. "It's just a dream honey..." bisik Sean menenangkan kekasihnya. Kemudian membaringkan Shiela kembali. "Tidurlah, aku akan menggenggam tanganmu. Tidak akan kutinggalkan wanita yang cantik ini" gurau Sean mencairkan susana.
Hingga pagi hari, Sean tertidur dengan menelungkupkan kepalanya pada tepi ranjang Shiela. Pegal terasa di seluruh tubuhnya, tetapi semua rasa itu hilang ketika medapatkan senyum manis yang terukir di wajah Shiela.
"Sudah lebih baik?" Shiela mengangguk tersipu malu.
"Maaf yah semalam telah membangunkan kamu"
Dengan telunjuknya Sean menyentuh hidung Shiela "It's ok," lalu menciium keningnya.
"Ayo!! Cium cium anak tante ya!" tetiba suara Tina terdengar dari arah pintu kamar sehingga Sean terkejut dan menjauhkan tubuhnya dari Shiela. Bak anak kecil yang tertangkap basah, wajahnya bersemu merah.
"Sorry Tan.."
"Asal tidak lebih yah....tunggu sampai kalian resmi menikah. Sabar" gurau Tina. Sebenarnya dia tidak mempermasalahkan hal itu, tetapi tidak ada salahnya memperingati pasangan muda yang tengah dimabuk asmara.
"Morning my sunshine." sapa Tina llau memeluk Shiela. "Bagaimana perasaan kamu pagi ini sayang?" tanyanya.
"Better Mam." jawab Shiela. Memang terlihat wajahnya tidak sepucat kemarin, dan tubuhnya lebih segar, mualnya juga sudah jauh berkurang. "Kemarin lemas banget mam, sekarang aku lapar." ujarnya sambil menunjuk pada kotak makanan yang dibawa Tina.
"Ohh..ini ...Mami bawakan kamu Shusi isi avocado dan cucumber. sudah mami potong kecil kecil, jadi mudah dimakan." jelas Tina.
"Mauuuu mauuuu." jerit Shiela perlahan sambil tepuk tangan.
"Eh..mam, papi mana? masih tidur ya?" tanya Shiela
"Ohh..papi ada urusan yang tidak bisa ditunda, tadi pagi jam enam udah berangkat ke airport." dilirik jam tangan di pergelangan tangannya, "Sudah take off sekarang. Tapi papi akan call sesampainya di Jakarta"
"Hm.....hmm...sebenarnya papi tidak perlu menemani Shiela terlalu lama Mam. Kan ada Mami dan Sean sudah cukup kok."
Shiela makan cukup lahap. Disisakan beberapa potong untuk Sean. "Sean...sini...aku suapin shusinya." panggil Shiela. Sean langsung gelengkan kepala "No..no...kamu habiskan saja. Aku mau ke coffee shop dibawah dulu yah. Ada mami yang menemani kamu. Ok?" tanya Sean. Dijawab dengan anggukan kepala Shiela karena mulutnya masih penuh dengan shusi buatan mami.
"Hallo Mam, aku sudah sampai di Jakarta. Bagaimana kondisi Shiela pagi ini?" ucap Handoko. Kesehatan Shiela menjadi prioritas di pikirannya sekarang.
"Hai Pap....Shiela better than yesterday. Here..you can directly talk to her." diberikan smart phonenya pada Shiela.
"Morning Pap."
"Morning Shiela, bagaimana kabarmu? masih mual? lemas?"
"Better Pap, masih ada sedikit. Menurut Matthew kan wajar, jadi Papi tidak perlu khawatir. Disini ada Mami dan Sean yang bisa menjaga Shiela kok. Papi fkcus dengan urusan kantor dulu saja. Tidak perlu buru buru kembali kesini. Nanti malah Papi yang sakit karena terlalu lelah."
"Well.....no problem. Sepanjang kamu sehat..Papi senang kok. Baiklah, papi sudah dijemput Pak Didi yah..nanti lanjut lagi.Take care sayang." ucap Handoko mengakhiri percakapan tersebut.
Setelah memeriksa kondisi Shiela pagi itu, Dokter Matthew memperbolehkan Shiela untuk pulang dan beristirahat di apartmen saja. Menurutnya suasana hati dan lingkungan turut mendukung kesembuhan pasien. Berkali kali dia berpesan kepada Tina untuk memberikan Shiela makanan yang bernutrisi, organik dan hindari daging yang berwarna merah. Lebih baik Shiela makan sayur dan buah yang banyak.
Lalu sebelum melangkah keluar kamar, Matthew memberikan isyarat kepada Sean untuk mengikutinya keluar kamar. Sean diam diam mengikuti Matthew, yang telah menunggunya di lorong.
"Sean, kemarin aku diinfokan oleh perawat bahwa sepertinya ada informasi yang salah di dalam formulir yang beberapa hari lalu diisi oleh Pak Handoko." ucapnya.
"Salah infomasi bagiamana?" tanya Sean tidak mengerti.
"Golongan darah Pak Handoko dan Tina tidak cocok dengan golongan darah Shiela. Pak Handoko dan Bu Tina sama sama bergolongan darah A sementara Shiela golongan darahnya B."Mungkin mereka salah tulis atau bagaimana, saya juga bingung." lanjutnya
"Baiklah, nanti akan kuberitahu Om Handoko." jawab Sean. Memang membingungkan menurutnya. Tidak mungkin Om Handoko salah menuliskan golongan darah mereka berdua.
"Ok then, saya akan buatkan surat agar Sheila dapat pulang siang ini. Maybe around one pm She can go home. Excuse me."
"Thank you Matt."
Sebelum kembali ke dalam kamar, Sean memeriksa beberapa pesan yang masuk di smart phonenya. Diantaranya ada pesan dari Mila. "Sean..kamu dimana? weekend ini kita ketemuan yah..aku kangen"
Sean mengetik beberapa kata namun dihapusnya...bingung sendiri mau jawab apa. "Aku tidak bisa, masih tugas kantor" kemudian beralih ke pesan dari Joni. "Sean...weakend ini gue sama Amy mau jenguk Shiela kesana yahh....jangan info Shiela, kita mau surprise in dia soalnya. And..lo siapin karpet merah yahhh!! tamu Super VVIP mau datang." tidak lupa Joni mengirim emoticon lucu. "Siap BOSS!." jawab Sean.
Lumayan lahhh weekend ini ada hiburan pikirnya...