twenty eight

1924 Kata

Jane duduk di atas kursi dengan kaki yang dia tekuk lalu dagunya dia sandarkan di atas lututnya. Sesekali merapatkan jubah tidurnya kala angin terasa menyapu tubuhnya. Terasa dingin sekali karena ini masih pagi buta dan dirinya sudah duduk di balkon kamarnya. Dia sama sekali tidak bisa tidur lalu memutuskan untuk duduk di balkon kamarnya, mengamati langit yang tadinya berwarna hitam lambat laun berubah warnanya menjadi kelabu juga ada bersit warna kuning di ujungnya. Masih teringat dengan jelas apa yang baru saja dia lewati beberapa jam lalu. Bahkan dia masih merasakan setiap sentuhan Satya di tubuhnya sebelum kemudian dia menampar laki-laki itu dengan keras sesaat sebelum kejadian dimana Panji berawal terulang kembali. Kewarasannya yang bisa diperkirakan hanya tersisa sebutir pasir saja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN