Hari gajian seharusnya menjadi hari yang paling melegakan di rumah dengan pagar cat putih itu.
Bagi Ze, tanggal dua puluh lima adalah simbol napas baru.
Itu adalah hari di mana ia bisa mencoret daftar tagihan listrik yang tertunggak, membayar iuran sampah, dan yang paling penting, menyisihkan uang untuk cicilan rumah yang selalu membayangi tidurnya.
Namun, dua hari telah berlalu sejak tanggal dua puluh lima, dan Arif belum juga meletakkan amplop cokelat atau menunjukkan notifikasi transfer di layar ponselnya.
Sore itu, Ze sengaja pulang lebih awal. Ia menemukan Arif sedang bersantai di teras samping, menyesap kopi hitamnya sambil membaca koran lama, sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan kegelisahan di d**a Ze.
Di dalam rumah, sayup-sayup terdengar suara Fira yang sedang membimbing Lili mengeja kata-kata.
"Mas," Ze duduk di kursi kayu di hadapan Arif. "Uang bulanan gimana? Pihak bank sudah kirim pesan singkat tadi siang soal cicilan."
Arif menurunkan korannya perlahan. Wajahnya tidak tegang, tidak pula merasa bersalah.
Ia tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya membuat Ze merasa aman, namun kali ini terasa seperti tabir yang tebal.
"Oh, soal itu. Maaf ya, Sayang, aku lupa bilang. Bulan ini gajiku dialihkan dulu buat bayar asuransi pendidikan Lili yang sempat tertunda. Kamu ingat kan, kita mau Lili punya tabungan masa depan yang pasti? Nah, mumpung ada promo upgrade manfaat, aku ambil itu dulu," jawab Arif dengan nada bicara yang sangat meyakinkan.
Ze mengerutkan dahi. "Asuransi pendidikan? Tapi Mas, bukannya itu sudah otomatis dipotong dari rekeningmu tiap bulan? Dan kenapa nggak bilang dulu sama aku? Kita kan sudah sepakat cicilan rumah itu prioritas nomor satu."
Arif meletakkan kopinya, lalu memegang tangan Ze. "Ze, Sayang ... dengerin aku. Aku ini kepala rumah tangga. Aku tahu mana yang darurat dan mana yang bisa ditunda. Cicilan rumah itu bisa kita bayar pakai gaji kamu dulu bulan ini, kan? Nanti bulan depan, pas bonus penjualanku cair, aku ganti semuanya dua kali lipat."
"Tapi gajiku sudah habis buat bayar Fira, Mas! Kamu sendiri yang minta Fira dibayar di muka!" suara Ze mulai bergetar.
"Ya itu dia gunanya kita kerja berdua, Ze. Buat saling menutupi. Kamu jangan terlalu perhitungan kenapa, sih? Apa kamu nggak percaya sama suamimu sendiri?"
Kalimat itu selalu menjadi tameng baja Arif. Itu adalah kalimat sakti yang membuat Ze merasa seperti istri yang durhaka jika terus bertanya.
“Mas, dulu bonusmu aja nggak kamu kasih aku, tiba-tiba beli kalung, lalu kamu janji bakal ganti uang aku tapi nggak juga, uang aku itu uang yang bisa kita gunakan untuk kebutuhan mendesak, dana darurat, tapi beberapa bulan ini, aku ngerasa aku sendiri yang berjuang untuk rumah ini.”
“Kamu kenapa sih, selama ini juga aku akan yang ngurus semuanya?”
“Kita berdua, Mas.”
“Ya kita berdua, tapi kan kamu tahu kita udah punya pengeluaran lain selain semua hal yang dulu-dulu.”
“Mas, aku nggak tahu deh, aku bingung,” ujar Ze lalu melangkah meninggalkan Arif.
Sementara itu, Fira mendengar pertengkaran itu dan menyunggingkan senyum, entah arti senyum itu apa. Tapi, ia seperti mengejek hidup keluarga ini.
Malamnya, rasa penasaran itu tidak bisa dipadamkan. Saat Arif mandi, Ze memberanikan diri melakukan sesuatu yang ia benci, menggeledah.
Ze memeriksa tas kerja Arif, memeriksa saku celananya, bahkan memeriksa riwayat panggilan di ponsel Arif yang kebetulan tidak dikunci.
Hasilnya? Nol.
Tidak ada struk penarikan uang yang aneh. Tidak ada pesan mencurigakan dari wanita lain.
Bahkan di riwayat browser ponselnya, Arif hanya mencari info seputar investasi pendidikan anak dan berita otomotif.
Segalanya terlihat begitu bersih. Begitu transparan.
Ze terduduk di lantai kamar mandi setelah mengembalikan ponsel Arif ke nakas. Ia merasa sangat kecil. Ia merasa jahat.
Di depannya ada seorang suami yang memikirkan masa depan anak mereka, dan di sini ia berdiri, menjadi istri paranoid yang mencari-cari kesalahan suaminya.
***
Keesokan harinya, Ze mencoba strategi lain. Ia mendatangi kantor Arif saat jam makan siang. Ia beralasan ingin mengantarkan bekal yang tertinggal, padahal tujuannya adalah bertanya pada bagian keuangan atau rekan kerja Arif.
"Eh, Mbak Ze! Cari Pak Arif ya? Beliau lagi keluar sama klien, Mbak," sapa Pak Bambang, salah satu rekan senior Arif.
"Oh, iya Pak. Pak Bambang, saya cuma mau tanya ... bulan ini bonus penjualan tim Mas Arif sudah cair belum ya? Soalnya kami mau pakai buat keperluan rumah," pancing Ze dengan senyum ramah.
Pak Bambang tertawa kecil. "Wah, Mbak Ze ini gimana. Pak Arif kan ketua tim terbaik kita. Bonusnya sudah cair barengan gaji tanggal dua puluh lima kemarin, Mbak. Malah timnya Pak Arif dapat tambahan intensif karena melampaui target."
Jantung Ze serasa berhenti.
"Sudah cair semua ya, Pak? Nggak ada yang ditunda?"
"Nggak ada, Mbak. Semuanya lancar jaya."
Ze keluar dari gedung kantor itu dengan kaki yang terasa seperti kapas. Penjelasan Arif tentang asuransi pendidikan dan bonus yang tertunda adalah bohong.
Kebohongan yang sangat rapi. Tapi ke mana perginya uang itu? Jika bonus dan gaji sudah cair, dan cicilan belum dibayar, ke mana perginya uang puluhan juta itu?
Sore itu, Ze kembali ke rumah dengan tekad untuk meledak. Ia ingin menuntut penjelasan.
Namun, saat ia membuka pintu rumah, ia disuguhi pemandangan yang meluluhkan hatinya lagi.
Arif sedang duduk di lantai bersama Lili. Mereka sedang merakit sebuah sepeda baru berwarna merah muda, sepeda yang sudah lama Lili idamkan.
"Mama! Lihat! Papa belikan Lili sepeda baru!" seru Lili sambil berlari memeluk kaki Ze.
Arif mendongak, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Tadi aku lewat toko sepeda, terus ingat Lili minggu depan ulang tahun. Mumpung ada sisa uang bonus sedikit, aku beli sekarang biar dia semangat sekolah."
Ze terpaku. Kemarahannya yang tadi setinggi gunung, mendadak runtuh menjadi debu.
Harga sepeda itu mungkin hanya dua juta rupiah. Masih ada selisih belasan juta yang tidak jelas rimbanya. Tapi melihat binar mata Lili, Ze tidak sanggup untuk berteriak.
"Bagus kan, Sayang? Biar Lili nggak sedih lagi gara-gara nilainya jelek," ucap Arif sambil berdiri dan merangkul Ze.
Di pojok ruangan, Bu Ratri sedang memperhatikan mereka sambil melipat tangan di d**a.
Beliau tidak bicara, tapi senyum tipis di wajahnya seolah berkata, anaknya adalah ayah yang hebat.
Fira juga ada di sana, tersenyum sopan sambil membereskan buku-buku Lili. "Mas Arif memang perhatian sekali sama Lili, Mbak Ze. Jarang ada ayah sesibuk itu yang masih sempat rakit sepeda sendiri."
Ze merasa terjepit. Semua orang di rumah ini melihat Arif sebagai pahlawan.
Jika ia meributkan soal sisa uang bonus yang hilang, ia akan terlihat seperti istri yang materialistis dan tidak bersyukur di depan mertua dan guru les anaknya.
Malam itu, Ze mencoba mencari bukti lagi. Ia mencari di bawah kasur, di balik lemari, bahkan di dalam tangki air toilet. Ia mencari buku tabungan rahasia atau catatan pengeluaran yang mungkin Arif sembunyikan.
Tapi ia tidak menemukan apa-apa.
Arif sangat hebat dalam menyembunyikan jejaknya. Tidak ada mutasi rekening yang mencurigakan di buku tabungan yang Ze tahu. Tidak ada kuitansi yang tercecer.
Arif seolah-olah menghapus keberadaan uang itu dari dunia ini.
Ze mulai meragukan kewarasannya sendiri, kemungkinan Pak Bambang tadi salah bicara atau tak tahu menahu tentang gaji atau apa lah yang mungkin membuat Ze salah paham.
Ketidakmampuan Ze menemukan bukti fisik membuat ia merasa bahwa pikirannya sendiri adalah musuh terbesarnya. Arif terlalu rapi.
Kebohongannya dibungkus dengan kado untuk anak, kasih sayang untuk istri, dan kepatuhan pada ibu.
Pagar cat putih itu masih berdiri kokoh, tapi Ze merasa ia sedang terjebak di dalam labirin yang tidak memiliki pintu keluar.
Setiap kali ia mencoba mencari kebenaran, ia justru menabrak tembok berupa kebaikan Arif yang manipulatif.
"Tidurlah, Sayang. Kamu terlalu banyak berpikir," bisik Arif saat mereka bersiap tidur, sambil mematikan lampu tidur.
Dalam kegelapan, Ze menatap langit-langit kamar. Ia merasa ada sesuatu yang besar sedang terjadi tepat di bawah hidungnya, sesuatu yang melibatkan Arif, Bu Ratri, dan mungkin uang puluhan juta yang menghilang itu.
Tapi tanpa bukti, ia hanyalah seorang istri yang sedang berhalusinasi tentang pengkhianatan.
Dan itulah kekuatan terbesar Arif, ia membuat kebohongannya terasa jauh lebih masuk akal daripada kebenaran yang Ze rasakan.