Suasana di meja makan sore itu terasa panas, meski AC di ruang tengah menyala dengan suhu terendah. Fira duduk dengan wajah ditekuk, tangannya sesekali mengelus perutnya yang tersembunyi di balik daster longgar. Di hadapannya, Ze sedang memotong buah melon dengan gerakan anggun, rambutnya yang harum oud sengaja ia biarkan tergerai menutupi sebagian wajahnya. Tak lama kemudian, terlihat Arif baru saja pulang kantor. Arif tampak segar, matanya terus melirik ke arah leher Ze. Sejak kejadian pagi itu, pikirannya tidak tenang. Bayangan Ze dengan daster sutra terus menghantuinya di kantor. "Wangi banget hari ini, Sayang. Masak apa kamu?" tanya Arif sambil duduk di kursi sebelah Ze, tangannya mencoba merangkul pinggang istrinya. Ze bergeser sedikit, seolah-olah sedang meraih piring saji,

