Realita adalah tamparan yang paling keras bagi seseorang yang terbiasa hidup dalam kenyamanan hasil jerih payah orang lain. Seperti Arif yang sepertinya sulit untuk membiasakan diri. Pagi itu, di sebuah gang sempit di daerah pinggiran, Arif terbangun dengan punggung yang terasa patah. Tak ada bed yang empuk dengan sprei sutra wangi sandalwood. Yang ada hanyalah kasur busa tipis yang bau apek, diletakkan langsung di atas lantai semen yang lembap. "Mas, Mas Arif, bangun," suara cempreng Fira memecah keheningan yang menyesakkan. Arif membuka mata dan langsung disambut oleh pemandangan plafon triplek yang berjamur. Ruangan itu hanya berukuran 3x4 meter, merangkap sebagai ruang tamu, ruang tidur, dan tempat menumpuk kardus-kardus pakaian mereka. "Apa sih, Fir? Masih pagi," gumam Arif ke

