bab 11. pengkhianatan dibalik pintu

1536 Kata
Malam setelah pertengkaran hebat soal penghentian les Fira, rumah di balik pagar cat putih itu tidak lagi sama. Ketegangan tidak hilang, ia hanya mengendap ke dasar lantai, siap meledak kapan saja jika dipicu. Arif tidak pulang sampai tengah malam, dan saat ia pulang, ia tidak menyapa Ze. Ia langsung tidur di sofa ruang tengah, sebuah pernyataan perang bisu yang menghancurkan hati Ze. Ze mulai bingung dan mulai bertanya-tanya sebenarnya mengapa saran untuk pemberhentian Fira membuat Arif kecewa berat? Pagi harinya, suasana sarapan terasa seperti prosesi pemakaman. Ze duduk di ujung meja, matanya sembap. Di hadapannya, Bu Ratri sedang mengupas apel dengan gerakan yang sangat tenang, seolah teriakan Arif semalam hanyalah gangguan nyamuk yang lewat. Lalu, Fira datang. Fira datang lebih pagi dari biasanya. Ia tidak langsung ke ruang belajar Lili, melainkan masuk ke dapur dengan langkah yang sedikit berat. Ze memperhatikannya. Ada yang berbeda dengan cara Fira berjalan, atau mungkin hanya perasaan Ze saja yang sedang kacau. "Pagi, Mbak Ze. Pagi, Ibu," sapa Fira lembut. Suaranya tetap sama, sopan dan merdu. "Pagi, Fira. Sini, duduk dulu. Ibu sudah buatkan bubur ayam spesial buat kamu. Kamu harus banyak makan yang bergizi," sahut Bu Ratri. Ze tertegun. Kalimat Bu Ratri terdengar terlalu ... protektif? Biasanya Bu Ratri hanya menawarkan teh atau biskuit sekadarnya pada tamu atau guru les. Tapi pagi ini, beliau bangkit berdiri dan mengambilkan mangkuk untuk Fira, seolah Fira adalah tamu agung. Atau mungkin, anggota keluarga yang berharga. "Terima kasih, Bu. Tapi saya agak sedikit mual pagi ini, mungkin karena belum sarapan dari rumah," ucap Fira sambil memegang lehernya. "Mual? Ya sudah, pelan-pelan saja makannya. Jangan dipaksa," balas Bu Ratri dengan nada yang sangat khawatir. Beliau melirik ke arah Arif yang baru saja masuk ke dapur. Arif tidak menatap Ze. Matanya langsung tertuju pada Fira. Ada kilatan kecemasan di mata suaminya yang tidak bisa disembunyikan. Hanya sekejap, tapi Ze menangkapnya. "Kenapa, Fir? Sakit?" tanya Arif. Nada suaranya bukan lagi suara majikan kepada guru les anaknya. Ada nada kepemilikan di sana, sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar perhatian atasan. "Enggak apa-apa, Mas ... eh, Pak Arif. Cuma pusing sedikit," jawab Fira cepat, seolah meralat panggilannya. Ze meremas sendoknya kuat-kuat. Mas? Apakah tadi Fira hampir memanggil suaminya dengan sebutan 'Mas'? Di rumah ini, hanya Ze yang memanggil Arif dengan sebutan itu. "Kalau nggak kuat, nggak usah mengajar dulu hari ini. Istirahat saja di kamar tamu," ucap Arif lagi. "Eh, Mas ... Mas nggak berlebihan?" Ze akhirnya bersuara, mencoba memecah lingkaran aneh di depannya. "Fira cuma pusing sedikit, kenapa harus sampai istirahat di kamar tamu kita? Kan dia bisa pulang kalau memang sakit." Arif menoleh ke arah Ze, tatapannya kembali dingin. "Dia sakit karena dia kerja keras buat Lili, Ze. Apa salahnya kita kasih dia tempat istirahat? Jangan jadi orang yang nggak punya rasa kemanusiaan." Ze bungkam. Ia merasa seperti dituduh sebagai monster hanya karena memberikan saran yang logis. Ze menatap Bu Ratri, berharap ibu mertuanya akan membela posisinya sebagai nyonya rumah. Namun, Bu Ratri justru sibuk mengelus punggung Fira. "Sudah, sudah. Fira, kamu makan ya. Nanti Ibu antar ke depan," ucap Bu Ratri. Sepanjang hari di kantor, Ze merasa jiwanya tertinggal di rumah. Ia tidak bisa berhenti memikirkan cara Bu Ratri memperlakukan Fira. Itu bukan perilaku majikan kepada karyawan. Itu adalah perilaku seorang ibu kepada ... anak menantu? Ataukah seseorang yang sangat penting? Ze mencoba mengingat-ingat kembali. Pernikahannya dengan Arif baru berjalan enam bulan. Mereka bertemu melalui perjodohan singkat yang diatur oleh teman kantor Arif. Segalanya terasa cepat, terasa sempurna. Arif adalah pria mapan yang butuh pendamping, dan Ze adalah wanita mandiri yang butuh perlindungan. Namun, sekarang Ze mulai menyadari sesuatu. Selama enam bulan ini, Arif sering kali pergi di akhir pekan dengan alasan urusan kantor. Arif sering kali memiliki pengeluaran yang tidak jelas. Dan yang paling aneh, Arif selalu bersikeras bahwa mereka harus tinggal di rumah ini, rumah yang jaraknya cukup dekat dengan kampus universitas ternama di kota itu. Ze membuka laptopnya, mencari nama universitas tersebut. Ia tahu Fira kuliah di sana. Iseng, ia mencari daftar mahasiswa berprestasi atau penerima beasiswa. Namanya tidak ada. Lalu ia teringat sebuah percakapan lama saat awal mereka menikah. “Mas, kenapa kita nggak beli rumah yang lebih dekat ke kantorku saja?" tanya Ze saat itu. "Jangan, Ze. Rumah yang sekarang itu investasi bagus. Dekat area kampus, harganya bakal naik terus. Lagipula, aku sudah terbiasa di sana," jawab Arif tegas. Terbiasa? Apakah Arif sudah sering ke area itu sebelum mereka menikah? Ze menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin menjadi gila karena kecurigaan. Tapi bayangan Fira yang memegang perutnya secara refleks saat duduk di meja makan tadi terus menghantuinya. Fira tampak sedikit lebih ... berisi? Pipinya lebih penuh, dan ada gurat kelelahan yang berbeda di matanya. Saat jam pulang kantor, Ze sengaja mampir ke toko buku. Ia butuh sesuatu untuk menenangkan pikirannya. Namun, matanya justru tertuju pada rak buku kesehatan ibu dan anak. Ia melihat sebuah buku tentang Nutrisi Kehamilan di Trimester Pertama. Tiba-tiba, ia teringat belanjaan dapur yang dibeli Bu Ratri kemarin. Ada banyak buah jeruk, s**u khusus tulang yang ternyata saat Ze cek adalah s**u dengan nutrisi tinggi, dan asam folat yang tergeletak di meja dekat tempat obat Bu Ratri. "Itu vitamin buat Ibu, Ze. Biar kaki Ibu nggak sering pegal," kata Bu Ratri saat Ze bertanya kemarin. Ze mencoba mencari tahu di internet melalui ponselnya. Apakah asam folat hanya untuk orang tua? Hasilnya keluar: Asam folat sangat penting dikonsumsi oleh ibu hamil untuk mencegah cacat tabung saraf pada janin. Napas Ze tercekat. Ia bersandar di rak buku, merasa lututnya lemas. Siapa yang hamil di rumah itu? Bu Ratri sudah tidak mungkin. Ze? Ia sangat tahu dirinya tidak hamil karena mereka jarang sekali berhubungan intim dalam dua bulan terakhir dengan alasan Arif terlalu lelah bekerja. Maka, pilihannya tinggal satu. Tapi bagaimana mungkin? Fira adalah guru les. Dia gadis baik-baik. Dia belum menikah. Ataukah, dia sudah menikah tanpa Ze ketahui? Malam itu, Ze pulang dengan hati yang bergemuruh. Ia masuk lewat pintu belakang, tidak ingin ada yang tahu ia sudah sampai. Suasana rumah sepi, hanya ada suara televisi dari kamar Bu Ratri. Ze berjalan melewati kamar tamu. Pintu kamar itu sedikit terbuka. Ia mengintip ke dalam. Di sana, Fira sedang berbaring di tempat tidur. Ia tidak sedang mengajar Lili. Ia sedang beristirahat. Dan yang membuat jantung Ze seolah berhenti berdetak adalah keberadaan Arif di sana. Arif sedang duduk di pinggir tempat tidur, membelakangi pintu. Ia sedang memegang tangan Fira. "Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi ujianmu selesai. Setelah itu kamu bisa fokus di rumah saja. Aku nggak mau kamu capek-capek lagi," bisik Arif. Suaranya begitu lembut, kelembutan yang sudah lama tidak Ze dengar. "Tapi Mas ... istrimu gimana? Aku makin nggak enak lihat dia kerja keras buat cicilan rumah ini, sementara aku," suara Fira mengecil, terdengar rasa bersalah yang samar. “Jangan pikirkan Ze. Dia sudah biasa mandiri. Ini tanggung jawabku. Aku yang bawa kamu ke sini, aku yang kuliahkan kamu sampai sejauh ini, jadi aku yang akan urus semuanya. Kamu fokus saja sama kesehatanmu dan ... anak kita," jawab Arif pelan sambil mengelus rambut Fira. “Mas, aku udah jadi simpananmu selama 2 tahun, aku juga capek.” “Kamu yang sabar, ya, aku akan berusaha untuk adil.” Ze menutup mulutnya dengan kedua tangan agar isakannya tidak terdengar. Dunia seolah runtuh menimpanya. Kalimat itu—anak kita—menghantamnya lebih keras dari badai mana pun. Ternyata, kecurigaannya selama ini bukan hanya benar, tapi jauh lebih mengerikan. Hubungan mereka bukan baru dimulai. Arif sudah menguliahkan Fira. Arif sudah menafkahi Fira jauh sebelum Ze masuk ke dalam hidup Arif. Enam bulan pernikahannya dengan Ze hanyalah sebuah topeng. Sebuah cara bagi Arif untuk mendapatkan istri yang bekerja agar bisa menopang gaya hidup dan rahasia gelapnya bersama wanita lain. Ze bukan nyonya rumah. Ze adalah mesin uang yang digunakan Arif untuk membiayai kehidupan selingkuhannya yang sedang hamil. Dan Bu Ratri? Ze sekarang mengerti kenapa mertuanya selalu diam. Beliau bukan saksi bisu. Beliau adalah komplotan. Beliau sudah tahu semuanya, mungkin sejak awal. Beliau memilih diam karena putranya memberikan apa yang diinginkan, seorang cucu dari wanita yang disukai putranya, sementara Ze hanyalah pelengkap finansial. Ze mundur perlahan, air mata membanjiri wajahnya. Ia ingin masuk ke kamar itu dan berteriak, tapi kakinya tidak sanggup bergerak. Ia merasa sangat hina. Ia merasa sangat bodoh. Setiap rupiah yang ia hasilkan dengan lembur di kantor, setiap tetes keringatnya untuk membayar cicilan rumah, ternyata digunakan Arif untuk memanjakan Fira. Kalung emas putih yang melingkar di lehernya sekarang terasa seperti rantai b***k. Ia keluar dari rumah itu tanpa suara, berdiri di bawah guyuran hujan di balik pagar cat putih yang selama ini ia banggakan. Pagar itu tidak lagi melindunginya. Pagar itu mengurung pengkhianatan paling keji yang pernah ia bayangkan. Dua tahun. Mereka sudah bersama selama dua tahun. Artinya, saat Arif melamar Ze, Arif sedang mencintai Fira. Saat Arif mengucapkan janji suci di depan penghulu, pikiran Arif ada pada wanita yang sekarang sedang mengandung anaknya di kamar tamu rumah mereka. Ze menatap langit malam yang gelap. Perjalanannya baru saja dimulai. Ia tidak akan langsung pergi. Ia ingin melihat sejauh mana mereka bisa bersandiwara. Ia ingin mengumpulkan setiap kepingan bukti pengkhianatan ini sebelum ia benar-benar menghancurkan panggung sandiwara mereka. Ini bukan lagi soal mempertahankan rumah tangga. Ini soal harga diri yang telah diinjak-injak sampai lumat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN