bab 13. memanjakan diri

1033 Kata
Aroma kopi di kantin kantor siang itu terasa hambar bagi Ze. Di hadapannya, Maya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara kasihan dan frustrasi. Ze baru saja menceritakan semuanya dengan suara yang nyaris hilang. Tentang kuitansi kuliah Fira, tentang catatan belanja Bu Ratri, dan tentang pengakuan polos Lili. "Jadi, kamu mau diam saja?" Maya bertanya, suaranya tertahan agar tidak terdengar meja sebelah. Ze menganggukkan kepala. "Ze, kamu sadar nggak sih? Suamimu itu menggunakan gajimu buat membiayai masa depan selingkuhannya yang sedang mengandung di rumahmu sendiri!" Ze menunduk, jarinya memainkan ujung jilbabnya yang sedikit kusam. Air matanya jatuh satu per satu ke atas meja plastik itu. "Aku belum siap, May. Aku belum siap hancur di depan Lili. Aku ... aku pilih pura-pura nggak tahu dulu. Aku mau lihat, sampai kapan mereka bisa membohongiku. Aku ingin mereka merasa aman dalam kebohongan mereka, sementara aku mengumpulkan kekuatan." Maya menggebrak meja pelan. "Ze! Lihat dirimu! Kapan terakhir kali kamu beli baju baru? Kamu banting tulang buat cicilan rumah dan mobil, tapi wajahmu kuyu. Sementara si Fira? Dia dandan cantik pakai uang suamimu! Bahagiakan dirimu dulu, Ze. Berhenti jadi mesin uang buat mereka. Ambil uangmu, habiskan buat dirimu sendiri!" Kalimat Maya seperti sebuah tamparan yang membangunkan Ze dari tidurnya yang panjang. “May,” lirih Ze. “Aku serius, Ze. Kamu harus membahagiakan dirimu sendiri mulai sekarang, cukup untuk mengindahkan uangmu untuk kebutuhan rumah, karena itu tugas Arif, bukan tugasmu!” Apa yang Maya katakan memang benar, perasaan itu hancur seketika, ia sudah lama tidak membeli barang-barang yang ia inginkan, jika ia menginginkan sesuatu, ia pasti akan memilih untuk menundanya. Sore itu, Ze tidak langsung pulang. Ia memacu mobilnya menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota. Dengan langkah yang awalnya ragu namun lama-lama menjadi mantap, Ze masuk ke gerai kosmetik ternama. "Saya mau lipstik merah paling berani yang kalian punya," ucap Ze pada pelayan toko. Ia tidak berhenti di sana. Ze membeli tiga potong dress kerja yang elegan, sepasang sepatu hak tinggi yang mahal, dan sebuah tas kulit berkualitas. Ze menggesek kartu debitnya tanpa ragu. Setiap bunyi beep dari mesin EDC terasa seperti sebuah pembalasan kecil. Ze sengaja tidak menyisihkan uang untuk cicilan rumah bulan ini. Biarlah Arif yang pusing mencarinya. Malam harinya, Ze sampai di rumah saat jam makan malam hampir selesai. Ze masuk dengan kedua tangan penuh tas belanjaan berlogo brand ternama. Suara gemerisik totebag yang bertubrukan itu langsung mengundang perhatian seisi rumah yang sedang berkumpul di ruang tengah. Arif sedang duduk di sofa, sementara Bu Ratri sedang memberikan buah potong kepada Fira. Pemandangan yang sangat domestik, sangat keluarga, namun Ze tahu itu semua palsu. "Baru pulang, Ze? Itu bawa apa saja?" tanya Arif, mengernyitkan dahi melihat tumpukan belanjaan Ze. Ze meletakkan semua tas belanjaannya di atas meja kopi, tepat di depan mereka. Ia tidak tampak marah, malah tersenyum manis, senyum yang ia latih di spion mobil tadi. "Habis dari mall, Mas. Mau self-reward sedikit, capek kerja terus. Aku beli lipstik baru, sepatu baru, sama beberapa baju kantor yang bagus," jawab Ze santai sambil mengeluarkan sebuah kotak parfum dan menyemprotkannya. Aroma mewah langsung memenuhi ruangan, menyingkirkan aroma minyak kayu putih yang biasanya melekat pada Bu Ratri. Bu Ratri bangkit, wajahnya langsung terlihat masam. Beliau mengintip isi tas-tas itu. "Astaga, Ze! Ini harganya mahal-mahal sekali! Kamu lupa ya, cicilan rumah kita bulan ini belum dibayar? Bank sudah kirim surat, kamu malah foya-foya begini?" Bu Ratri naik darah. Ze menatap ibu mertuanya dengan tatapan kosong yang tenang. "Uangku sendiri, Bu. Aku rasa aku berhak sesekali menyenangkan diri sendiri. Urusan cicilan rumah, kan ada Mas Arif. Dia kan ketua tim yang hebat, bonusnya pasti cukup untuk menutupi semuanya." Arif berdiri, wajahnya menunjukkan kemarahan yang mulai meluap. "Ze! Kamu tahu nggak posisi kita lagi sulit? Kenapa tiba-tiba jadi egois begini? Balikin semua ini besok, uangnya buat bayar bank!" "Balikin? Enggak mau, Mas. Aku sudah suka," sahut Ze tanpa nada tinggi. Ia justru menoleh ke arah Fira yang sedang menunduk, tampak tidak nyaman. “Ze, dengarkan aku,” kata Arif. "Gimana menurutmu, Fira? Bagus kan baju-bajuku?" Fira mendongak sedikit, wajahnya pucat. "B-bagus, Bu." "Iya kan? Fira yang masih kuliah pasti tahu kalau penampilan itu penting. Oh ya, Mas," ucap Ze kembali menatap Arif, "Bulan ini aku nggak bisa bantu cicilan rumah dulu ya. Tabunganku udah habis buat belanja ini semua. Kamu yang handle dulu ya, Sayang?" "Apa?! Ze, kamu gila ya? Kamu sengaja?" bentak Arif. Bu Ratri langsung menyambar, menjadi bensin yang membakar amarah Arif. "Lihat itu, Rif! Ibu bilang apa! Istrimu ini sudah mulai berontak. Dia lebih mementingkan lipstik daripada atap tempat tinggal anaknya! Dasar istri nggak tahu diri, nggak punya perasaan sama suami yang sudah banting tulang!" Ze hanya diam mendengarkan makian Bu Ratri. Ia tidak membela diri, tidak juga menangis. Ze hanya berdiri di sana dengan tas mahalnya, menatap mereka satu per satu dengan senyum tipis yang misterius. Ia melihat Arif yang kelabakan, Bu Ratri yang murka, dan Fira yang ketakutan. "Aku capek, mau mandi. Oh iya, Fira, besok-besok kalau aku belanja lagi, aku belikan sesuatu buat kamu ya. Kamu kan sudah rajin sekali mengajar Lili," ucap Ze dengan nada yang sangat tulus, padahal di dalamnya ada belati yang tajam. Ze meninggalkan mereka yang masih terpaku di ruang tengah. Ia masuk ke kamar dan mengunci pintu. Di dalam, ia menjatuhkan dirinya di lantai. Ia memeluk belanjaannya dan menangis tanpa suara. Sakitnya luar biasa. Ia harus pura-pura tidak tahu bahwa suaminya sedang membiayai wanita lain, sementara ia sendiri dicaci maki hanya karena membeli sepotong baju. Di luar, suara Bu Ratri masih terdengar menggelegar. "Dia itu harus diajari sopan santun, Rif! Kamu harus tegas! Jangan biarkan dia pegang uang sendiri kalau kelakuannya jadi liar begini!" Ze mengusap air matanya kasar. Ia mengambil lipstik merah barunya dan memoleskannya ke bibir di depan cermin. Ia tidak akan membiarkan mereka melihat matanya yang sembap. "Nikmati sandiwara ini, Mas," bisik Ze pada bayangannya. "Karena mulai besok, dompetku terkunci rapat untukmu." Malam itu, Ze tetap diam di kamar. Ia mendengar bisik-bisik Arif dan Bu Ratri di luar soal bagaimana cara menutupi cicilan bank yang sudah jatuh tempo karena uang Arif ternyata sudah terpakai untuk keperluan lain. Ze tersenyum di balik kegelapan. Inilah saatnya mereka merasakan apa yang ia rasakan selama ini, kecemasan finansial yang mencekik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN