bab 16. mendengar secara langsung

1026 Kata
Ze menyuruh supir taksi untuk buru-buru. Ia baru saja menyadari bahwa dokumen presentasi penting untuk rapat direksi sore nanti tertinggal di atas meja kerja di kamarnya. Pikirannya bercabang antara tenggat waktu kantor dan stiker kuning bank yang masih menempel angkuh di pagar rumahnya, menjadi tontonan gratis bagi siapa pun yang lewat. Ze ingin memberikan tanggung jawab itu pada Arif, namun Arif juga tidak bisa menyelesaikannya karena uangnya sudah digunakan ke hal lain. Ze terpaksa harus berpikir sendiri lagi seperti bulan-bulan sebelumnya, agar rumah ini tidak di ambil pihak bank karena ia masih butuh tujuan pulang, walau sebenarnya rumah itu sudah bukan rumah untuknya pulang. Saat taksi berbelok memasuki halaman, suasana rumah tampak sepi. Mobil Arif tidak ada di garasi, yang berarti suaminya seharusnya masih di kantor. Motor listrik Bu Ratri juga tidak ada, mertuanya itu tadi pagi sudah pamit dengan daster terbaiknya untuk pergi arisan di rumah salah satu temannya. Ze menghembuskan napas lega. Setidaknya ia tidak perlu berpapasan dengan sindiran tajam Bu Ratri atau wajah kusut Arif yang selalu berujung pada permintaan uang. Ze melangkah masuk. Suasana ruang tamu terasa dingin dan sunyi. Namun, saat kakinya menapaki lantai kayu menuju lorong kamar utama, sebuah suara asing menghentikan langkahnya. Deg. Langkah Ze membeku. Awalnya ia mengira itu suara televisi yang lupa dimatikan. Namun, suara itu terlalu dekat darinya saat ini. Dari balik pintu kamarnya sendiri, kamar yang ia bayar cicilannya dengan lembur hingga tengah malam, terdengar suara desahan halus yang disusul oleh tawa renyah seorang wanita. Suara yang sangat Ze kenali dan suara itu milik Fira, guru les putrinya. "Mas, pelan-pelan, nanti kalau Ibu pulang gimana?" bisik Fira di sela tawanya. "Ibu masih lama, Sayang. Arisannya bisa sampai sore.” “Terus istrimu itu?” “Ze? Dia nggak mungkin pulang jam segini. Dia kan b***k korporat yang gila kerja," suara Arif menyahut, terdengar begitu santai dan begitu intim. “Mas, ih.” “Jangan nolak aku, punyaku berdiri lagi nih,” seru Arif membuat Fira tertawa renyah. “Mas, kamu mau melakukannya lagi?” “Iya. Karena aku nggak tahan lagi, nih berdiri lagi.” “Tapi kan udah dua kali, Mas.” Fira merengek. “Sampai tiga kali terus selesai, gimana?” tanya Arif begitu nakalnya. “Ya udah. Tapi, pelan-pelan ya,” seru Fira. Ze membulatkan matanya. Jantungnya serasa dipukul palu godam. Selama ini ia hanya melihat bukti di atas kertas, kuitansi, catatan belanja, mutasi rekening dan obrolan malam itu tanpa Ze di sana, yang menjelaskan semuanya. Ze sudah tahu mereka berselingkuh. Ze sudah tahu Fira hamil. Tapi mendengar secara langsung suara suaminya memuja wanita lain di atas tempat tidur yang Ze beli sendiri, itu adalah jenis rasa sakit yang nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Air mata Ze luruh begitu saja, membasahi pipinya yang sudah ia poles dengan bedak mahal pagi tadi. Ze bersandar di tembok lorong, meremas dadanya yang terasa sesak. Ia ingin berteriak, ia ingin mendobrak pintu kamarnya dan menjambak rambut Fira, tapi kakinya terasa lumpuh. "Ahh, ouhh,” desah Fira. “Sayang, kamu cantik sekali,” bisik Arif. “Kan cepat keluarnya, karena baru aja melakukannya,” kekeh Fira. “Aku janji ini yang terakhir untuk hari ini,” ujar Arif membuat Fira bermanja-manja. ”Mas, aku mau nanya,” ujar Fira. “Iya, Sayang? Tanya aja.” “Gimana soal rumah ini? Stiker kuning itu bikin aku takut. Kalau beneran disita, kita tinggal di mana? Aku nggak mau anak kita lahir di kontrakan sempit," suara Fira terdengar manja dan penuh tuntutan. Arif tertawa kecil, suara yang biasanya memberikan ketenangan bagi Ze, kini terdengar seperti racun. "Sabar, Sayang. Aku nggak akan biarkan itu terjadi. Biar saja Ze yang pusing bayar tunggakannya sekarang. Setelah semuanya lunas dan sertifikatnya keluar, aku punya cara buat ambil alih sepenuhnya. Rumah ini bakal jadi milik kita. Aku janji, Fira. Apa pun yang terjadi, rumah dengan pagar putih ini akan jadi rumah kita nanti. Ze cuma numpang bayar saja sekarang." Ze memejamkan mata rapat-rapat. Giginya gemertak. Numpang bayar? Jadi itu rencana Arif? Menjadikan Ze sapi perah untuk melunasi aset, lalu menendangnya keluar demi wanita lain? “Mas, kamu kenapa sih sama Bu Ze? Padahal dia baik kok.” “Karena yang ku cintai saat ini dan sampai seterusnya hanya kamu. Jadi, aku rela melakukan semuanya demi kamu.” “Tapi, kamu nggak pernah kan tidur sama dia?” “Udah hampir 4 bulan aku udah nggak berhubungan dengan dia.” “Mas, awas ya kalau kamu pakai aku setelah pakai dia.” “Nggak akan, Sayang. Tenang aja. Jadi, untuk sekarang kita nggak usah bahas rumah ini dulu, rumah ini tetap akan jadi milik aku, tapi untuk sementara karena kamu masih kuliah, kita tetap seperti ini agar Ze bisa bayar cicilan rumah dan aku bisa bayar biaya kuliahmu dan kostmu.” Kebencian yang selama ini ia pendam meledak menjadi api yang dingin. Ze mengusap air matanya dengan kasar. Ze tidak akan membiarkan mereka merasa menang. Ia tidak akan membiarkan mereka melanjutkan kemesraan menjijikkan itu di bawah atapnya. Ze mundur beberapa langkah menuju ruang tamu. Ia mengambil napas dalam-dalam, menekan semua rasa sakitnya jauh ke dasar hati. Ia harus kembali menjadi pemain watak yang hebat. "IBUUUU! IBUUU! AKU PULANG BENTAR!" Ze berteriak sekencang-kencangnya dari ruang tamu. Suaranya menggema ke seluruh sudut rumah. Seketika, suara di dalam kamar itu senyap. Ze bisa membayangkan kepanikan di dalam sana. Suara grasak-grusuk pakaian yang ditarik terburu-buru, suara tempat tidur yang berderit karena orang yang melompat turun. Ze tetap berdiri di tengah ruang tamu, menatap ke arah lorong kamar dengan senyum pahit yang terukir di bibirnya yang merah. Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka perlahan. Arif keluar dengan kemeja yang kancingnya tidak rapi dan rambut yang sedikit berantakan. Wajahnya pucat pasi, matanya bergerak gelisah mencari sosok Ze. "Ze? Kamu kenapa pulang?” tanya Arif. Ze menoleh, memasang wajah kaget yang dibuat-buat namun penuh keramahan. "Eh, Mas Arif? Kok ada di rumah? Bukannya jam segini Mas lagi ada meeting di luar?" Arif menelan ludah, ia mencoba merapikan kerah bajunya. "I-iya ... tadi pusing sedikit, jadi izin istirahat sebentar di rumah. Kamu sendiri kenapa pulang?" "Dokumen presentasiku tertinggal di kamar, Mas. Penting banget buat sore ini," jawab Ze sambil melangkah mendekat ke arah Arif.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN