Aku mendengar bisik-bisik beberapa orang yang sedang bercermin dan cuci tangan di luar bilik toilet ini. Mereka mungkin tahu, kalau aku habis dilabrak Siska. Mereka tahu aku menangis, dan mereka tidak terdengar peduli. Mereka malah tertawa. Aku memang aneh. Aku tidak punya teman selain Sandra. Dan lelaki yang mau dekat denganku hanya Deeka. Aku benar-benar menyedihkan, kan?
Setelah merasa sepi, aku menyeka air mataku, dan membuka pintu toilet. Aku berjalan ke wastafel, lalu membasuh wajahku dengan air. Benar saja, wajahku terlihat semakin jelek sekarang. Mataku jadi bengkak dan wajahku menjadi lebih merah dari biasanya.
Ketika aku berjalan menuju kelas, Deeka terlihat sedang melihat majalah dinding yang berada di dekat kelas. Aku pura-pura mengabaikannya, dan terus berjalan. Tapi, dia ternyata memanggilku. s**l.
"Beruang!" Dia melambai-lambaikan tangannya, dan memintaku menghampirinya.
Aku menggeleng dan terus berjalan, tapi ia langsung berlari dan menarik tanganku. "Sini, lihat mading! Lo pasti tertarik."
Aku dan Deeka berdiri di depan mading, dan dia menunjuk salah satu pengumuman. "Lomba menulis cerpen. Yang menang, akan dapat uang dan cerpennya akan masuk majalah. Lumayan, kan?"
"Iya, tapi gue nggak tertarik."
"Kenapa? Lo bisa nulis, kan?"
"Bisa, tapi… gue nggak mau jadi penulis." Aku tidak mau meniru jejak ayahku.
"Gue suka sama penulis. Maksud gue, penulis itu keren." Deeka tersenyum kecil. "Tapi, ternyata lo nggak mau jadi penulis, ya? Oke."
Dia menyukai penulis? Apa jika aku menjadi penulis, aku akan punya kesempatan?
"Erm… menurut gue, nggak ada salahnya ikut lomba itu. Belum tentu gue yang menang, kan?" Aku sedikit menunduk, menghindari tatapan mata Deeka.
"Heh! Lo pasti menang." Deeka mengacak rambutku. "By the way, lo habis nangis?"
Bagaimana dia bisa tahu? "Nggak."
"Lo kenapa nangis? Kucing lo mati lagi?" Dia masih yakin kalau aku tadi menangis. Dia sangat sulit dibohongi.
"Bukan urusan lo." Aku menghela napas. "Lo nggak akan peduli juga."
"Hei, kalau gue nggak peduli, ngapain gue nanya?" Deeka menaikkan satu alisnya. "Tentu aja gue peduli, Nara."
"Makasih, kalau begitu." Aku tersenyum, perasaanku sedikit membaik karena ternyata ada satu orang yang peduli ketika aku menangis. “Makasih banget.”
“Apa gue harus bilang sama-sama?” Deeka mendengus geli. “Lo nggak perlu berterima kasih, Ra. Gue peduli, karena lo salah satu teman gue yang berharga. Gue nggak suka lihat teman gue sedih. Wajar, kan?”
Teman, ya?
“Bukannya kita musuh?” Aku tersenyum miring. “Kita lebih sering berantem, Dee.”
“Iya, sih. Tapi, sekarang kan udah jarang? Lo mulai kurang menyenangkan buat diganggu.” Deeka tiba-tiba merangkulku.
“Hah? Terus?”
Deeka menatapku selama sepuluh detik, tanpa berkata apa-apa. Sampai akhirnya dia meniup mataku. “Lo kayaknya lebih suka kalau gue ganggu, ya?”
Aku mengusap mataku yang habis dia tiup. “Nggak, tuh.”
“Sorry, sekarang gue nggak mau ganggu lo lagi.” Deeka menepuk kepalaku cukup kencang hingga aku meringis. “Sekarang … gue lebih suka ngejagain lo.”
Eh? Apa? Apa aku tidak salah dengar?
“Lo bilang apa tadi?” Aku mengernyit.
“Nggak ada siaran ulang. Ayo, kita harus balik ke kelas!” Dia langsung menyeretku, seperti menyeret hewan peliharaan. Dasar.
“Kenapa lo buru-buru banget, sih? Lepasin, nggak?!”
“Nggak mau.”
“Banyak yang ngeliatin!”
“Biarin aja, mereka punya mata. Masa harus gue colok satu-satu, sih? Jahat lo, Beruang.” Dia lagi-lagi tertawa. Dasar sinting.
“Ya nggak dicolok juga! Cukup lepasin gue, Dee. Ish.”
“Nggak akan.”
Aku tidak menyesal menuruti permintaanmu untuk ikut lomba itu, Deeka.
Terima kasih….