Aku mengaguminya diam-diam. Setiap detik yang berlalu, selalu kugunakan untuk mengaguminya. Entah saat dia sedang memperhatikan guru di kelas, tidur waktu jam istirahat, ataupun saat dia baru mengambil air wudhu untuk salat berjamaah di musala—aku selalu mengaguminya. Tapi, aku tidak bisa disebut sebagai pengagum rahasia.
Karena sebenarnya kami sudah sangat dekat dan sering mengobrol. Atau lebih tepatnya, dia selalu... menghinaku. Setiap saat.
Hubungan kami memang sedikit aneh. Aku pun bingung menyebutnya bagaimana. Yang jelas, dia sangat senang setiap berhasil membuatku kesal. Dan aku, sebenarnya hanya pura-pura kesal hanya untuk melihatnya tertawa.
"Beruang, pinjem pulpen, dong!"
Aku mendengus dan memberikan pulpen hitam yang sering kupakai. "Nih. Balikin tapi! Jangan dikantongin."
Dia tertawa, hingga matanya menyipit seperti bulan sabit. "Iya, iya. Gue pasti balikin. Tapi, kalau gue inget. Oke, Beruang?!”
Dia menyengir, lalu kembali ke mejanya. Aku diam-diam tersenyum karena senang bisa bicara dengannya. Rasanya menyebalkan, karena aku selalu berpura-pura ketus di depannya.
Mungkin aku aneh, karena tidak ingin dia mengetahui perasaanku. Padahal kami tidak bersahabat, tapi... aku takut kalau dia tidak bisa membalas perasaanku. Karena aku sadar diri.
Ya Tuhan, dia begitu sempurna. Matanya selalu terlihat berkilau saat bicara. Senyumnya yang manis membuat siapa pun ikut tersenyum. Dan suaranya itu, selalu terdengar merdu, walau ucapannya tidak pernah serius. Dia lucu, dan aku suka dia dengan segala sifat yang ada di dirinya itu.
Kami saling mengenal sejak kelas sepuluh, dan selalu dapat kelas yang sama hingga sekarang, di kelas dua belas. Entah kebetulan atau takdir, tapi aku cukup puas dengan hal itu.
Aku tidak mau memberitahu nama lelaki yang kukagumi setengah mati itu. Aku takut, kalian akan menyukainya. Iya, semudah itu semua orang menyukainya. Dia memiliki aura misterius yang membuat orang-orang di sekelilingnya merasa nyaman dan bahagia.
Apa? Kalian penasaran? Baiklah, aku akan memberitahu namanya. Tapi, janji! Jangan jatuh cinta padanya. Karena dia milikku. Lelaki lucu itu milikku. Dan namanya adalah... Deeka. Atau, aku sering memanggilnya Dee.
Aku lagi-lagi menoleh ke belakang dan memperhatikan Deeka yang sedang menyalin tugas temannya. Ia terlihat serius, walau teman-temannya terus mengganggu dan berisik.
Dia adalah Deeka, cowok pemalas yang kukagumi setengah mati. Percayalah, dia sebenarnya tidak sesempurna yang aku katakan. Tapi, di mataku, bagiku, dia sangat sempurna.
Jangan pernah berdebat denganku membahas betapa malasnya Deeka. Aku sungguh tidak suka membahas sifat jeleknya yang satu itu. Karena entah mengapa, walau ia malas dan sering tidak mengerjakan tugas, dia terlihat sangat lucu di mataku.
Apalagi setiap ia ketiduran di tengah jam pelajaran. Aku sering sekali menoleh ke belakang hanya untuk melihatnya. Wajahnya akan terlihat sepolos anak kecil yang tidak berdosa. Mulutnya kadang sedikit terbuka, lalu ia akan kaget sendiri dan terbangun tiba-tiba. Padahal, tidak ada yang membangunkannya. Aneh sekali. Tapi lucu.
“Ra, jangan lihat ke belakang terus. Kalau ketahuan Bu Keuis, leher lo bisa dipelintir.” Sandra berbisik di sebelahku, dengan nada sok ketakutan. Yap, perkenalkan, Sandra adalah teman sebangkuku sejak kelas sepuluh. Dia adalah teman pertamaku saat MOS, dan ternyata kami bisa bersahabat sampai detik ini. Aku tidak menyangka sama sekali.
“Jangan lebay, Bu Keuis nggak segalak itu. Lagipula, lo lupa? Gue ini murid kesayangannya.” Aku tidak bohong. Bu Keuis sangat baik padaku.
“Oh, iya. Gue lupa banget. Makasih udah diingatkan, ya!” Sandra menepuk punggungku, lalu kembali menyatat materi.
“Sandraaaa, menurut lo, Deeka suka cewek yang kayak gimana?” tanyaku tiba-tiba. Sudah kuduga, dia pasti langsung memandangku dengan aneh.
“Nara, kenapa lo nanya hal itu ke gue, sih? Memangnya, gue sedekat itu sama Deeka sampai tahu tipe ceweknya? Nggak, kan? Lo jauh lebih dekat sama tuh bocah sableng. Tiap hari … kalian suka main kejar-kejaran kayak di film India. Uwu, romantisnya.”
Aku menghela napas mendengar kata-kata Sandra yang panjang kali lebar, tapi ujung-ujungnya malah mengejekku. “Cukup bilang nggak tahu aja, San. Nggak usah pakai bawa-bawa film India, deh. Geli.”
“Iya, iya, maaf. Nggak tahu. Puas?” Sandra menyengir jail. “Tapi tunggu dulu, kenapa lo kepo sama tipe cewek Deeka?”
“Gue heran aja, kenapa dia masih jomblo. Padahal wajahnya lumayan oke, dan banyak juga cewek dari penjuru kelas naksir sama dia.” Aku lagi-lagi berusaha terlihat cuek. Aku belum berani mengaku ke Sandra kalau aku menyukai Deeka. Bisa habis aku diserang oleh pertanyaan Sandra yang pasti sebanyak cintanya pada Justin Bieber. Oke, mungkin lebih banyak dari yang aku bayangkan.
“Hmm, benarkah?” Sandra menaikkan satu alisnya. “Bukan karena benih-benih cinta, nih? Ayolah, orang buta kayaknya juga tahu kalau lo suka sama dia. Dan kayaknya, nih, dia juga suka sama lo, Ra.”
“Hah? Lo serius? Lo tahu dari mana?” Aku tiba-tiba merasa gemas. Tidak sadar jika pertanyaanku membuat Sandra ingin menyemburkan tawa puas. s**l, dia berhasil memancingku untuk mengaku.
“See? Lo bener suka sama dia, kan? Ngaku aja, kita ini kan sahabat.” Sandra menepuk-nepuk tanganku dengan akrab. “Kalau lo ngasih tahu gue, gue juga akan ngasih tahu siapa cowok yang gue suka. Anggap aja barter, biar adil. Gimana?”
“Siapa? Roni?” tebakku langsung.
“Kok lo tahu, sih? Ah, nggak seru!”
Aku lagi-lagi menghela napas, sebelum menjawab, “Lo sering ngeliatin dia sambil bilang ‘ah, gantengnya Roni gue’. Lo lupa?”
“Really?” Sandra mengerutkan alisnya, mencoba mengingat. “Terus lo nggak langsung nanya, walau denger gue bilang kayak gitu?”
“Nggak, karena gue tahu, lo ngomong gitu secara nggak sadar.” Nara terkekeh. “I just know you so well, babe.”
“Uwu, so sweet, babe.” Sandra malah tersenyum tidak jelas. “So? Lo bener suka sama Deeka, kan?”
“Kalau iya, memangnya kenapa?”
“Gue bisa bantuin lo, tapi lo juga harus bantuin gue buat deket sama Roni. Gimana?”
“Bukannya lo udah deket sama dia? Kalian sering chatting sampai tengah malem, kan?”
“Iya, tapi dia jawab chat gue lamaaaaa banget. Heran gue. Apa di juga chatting sama cewek lain? Kalau banyak, gimana?!”
“Roni nggak terlihat kayak playboy, kok. Lo harusnya jangan berburuk sangka gitu.”
“Tapi gue capek digantungin, Ra. Dia bahkan selalu menghindar akhir-akhir ini. Apa dia tahu kalau gue suka sama dia?”
Aku mengangkat bahu. “Nggak tahu, jangan tanya gue. Memangnya gue terlihat sedekat itu sama Roni, ya?”
Sandra pun tertawa, memukul punggungku cukup kencang. “Eh, itu kan kata-kata gue tadi! Jangan diikutin, dong!”
“NARA! SANDRA! Keluar kalian dari kelas saya!”
Mampus. Akhirnya, Bu Keuis ambil tindakan. Aku dan Sandra hanya bisa menunduk sambil meminta maaf. Tapi, kami tetap berakhir berdiri di luar kelas dan sambil menyalahkan diri masing-masing.
“Sorry, Ra. Gue tahu lo suka banget Kimia.”
“Nggak, gue nggak terlalu suka. Gue dapet nilai bagus di Kimia, itu hanya karena gue bekerja keras. Bukan karena suka.”
“Really?”
“Yes.”
[]
Aku menyesal, karena selalu menoleh ke belakang untuk melihatmu….