35: Surat terakhir

321 Kata

Nara, aku sudah merasa begitu sekarat beberapa hari ini. Kepalaku terasa semakin sakit setiap harinya. Untuk terapi saja, aku udah nggak bisa. Dokter terus menyuntikkan obat pereda rasa sakit. Tapi, obat itu nggak bertahan lama. Kepala aku rasanya mau pecah, Ra. Sakit banget. Aku bener-bener ingin cepat mati aja kalau kayak gini terus. Maaf, maaf, maaf. Aku udah nggak sanggup untuk hidup, Nara. Aku udah berusaha bertahan sebisa aku, demi kamu. Demi terus bersamamu. Tapi, kayaknya udah saatnya aku menyerah. Aku udah bilang ke dokter kalau aku siap untuk dioperasi. Dan aku sebenernya optimis, kalau operasi itu pasti gagal. Aku akan pergi, meninggalkan kamu, Roni, mama, papa, Bang Indra, Bang Andra, dan semua orang yang mengenalku. Aku takut mati, Ra. Akan seperti apa di sana, ya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN