bab 12 kita sudah jauh ya...

969 Kata
Hujan turun pelan malam itu, mengiringi kehangatan di ruang tamu keluarga Wijaya. Aroma teh melati mengisi udara, sementara Alya duduk bersandar di bahu Reyhan di sofa panjang berwarna krem. Televisi menyala, tapi tidak ada yang benar-benar menonton. Pikiran mereka dipenuhi perasaan yang terlalu besar untuk dijelaskan dengan kata-kata. "Alya…" panggil Reyhan pelan. "Hm?" gumam Alya tanpa membuka mata. Ia merasa damai di tempat itu, dengan Reyhan di sampingnya, dan tidak ada rasa takut atau cemas. "Aku ingin memperkenalkanmu ke dunia. Bukan hanya sebagai istriku, tapi sebagai wanita yang telah membuatku berubah. Boleh?" Alya membuka mata dan menoleh. "Maksudmu…?" "Aku akan buat video dokumenter. Tentang kamu. Tentang kisah kita," jelas Reyhan. "Tentang bagaimana kamu tetap menjadi dirimu sendiri di tengah semua tekanan. Tentang keberanianmu." Alya terdiam. "Aku bukan siapa-siapa, Rey… Aku hanya…" Reyhan menatapnya penuh keyakinan. "Justru itu yang membuatmu luar biasa." --- Beberapa hari kemudian, rumah keluarga Wijaya berubah menjadi studio dadakan. Tim Reyhan membawa perlengkapan kamera, lighting, dan mikrofon. Alya merasa sedikit canggung, tapi semangat Reyhan yang menular membuatnya berani menghadapi kamera. Bu Ratna duduk di sudut ruangan, memperhatikan dari kejauhan. Ia masih belum banyak bicara, tapi ekspresinya tak lagi setajam dulu. “Siap, action!” suara Reyhan terdengar dari balik kamera. Alya menatap ke arah lensa, menarik napas dalam. “Nama saya Alya. Saya hanya perempuan biasa dari keluarga sederhana. Hidup saya berubah drastis ketika saya tahu suami saya adalah Reyhan Wijaya—pewaris keluarga terkaya di negeri ini. Tapi cerita saya bukan tentang kekayaan. Ini tentang menjadi diri sendiri… di tengah dunia yang mencoba mengubahmu.” Suasana hening. Bahkan para kru terlihat menahan napas. Alya melanjutkan. “Saya pernah ingin menyerah. Merasa tidak pantas. Tapi saya bertahan, bukan karena saya kuat. Tapi karena saya tahu—jika saya mundur, saya akan kehilangan jati diri saya sendiri.” Setelah sesi itu selesai, semua orang bertepuk tangan. Bu Ratna berdiri perlahan dan mendekat. Alya terdiam, tubuhnya kaku. "Bu..." sapanya pelan. Tapi Bu Ratna hanya berkata singkat, "Boleh aku bicara berdua?" Alya mengikuti wanita itu ke taman belakang rumah. Hujan sudah reda, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. "Alya," mulai Bu Ratna, menatap taman yang tenang. "Aku sudah lama menjadi orang keras. Mungkin karena hidup tidak pernah memberi banyak ruang untuk kelembutan." Alya tidak menyela. "Ketika Reyhan bilang dia menikah diam-diam, aku marah. Aku pikir kamu hanya perempuan yang mengincar uang keluarga ini. Tapi ternyata aku salah. Sangat salah." Alya mengalihkan pandangan. Air matanya mengambang. "Kamu menyelamatkan anakku dari kesepian. Kamu membuatnya tersenyum lagi. Dan untuk itu… aku berhutang." Alya menatap mata mertuanya. “Saya juga banyak belajar, Bu. Dari ibu, dari keluarga ini. Tentang kekuatan. Tentang prinsip.” Mereka saling memandang—dua wanita dari dunia berbeda yang akhirnya menemukan titik temu. Bu Ratna tersenyum. “Mulai sekarang, anggap ini rumahmu.” Alya tak bisa menahan air mata. Tapi kali ini, bukan karena takut. Melainkan karena lega. --- Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Video dokumenter Alya menjadi viral setelah Reyhan mengunggahnya ke kanal YouTube perusahaannya. Judulnya sederhana: "Menjadi Alya." Dalam seminggu, tayangan itu ditonton lebih dari dua juta kali. Banyak komentar masuk. > “Alya inspirasi banget! Gak semua orang bisa kuat kayak dia.” “Cerita cinta modern yang menyentuh.” “Salut sama Reyhan dan Alya. Cinta mereka nyata.” Alya sendiri tidak pernah mengira hidupnya akan sejauh ini. Dulu ia hanya gadis penjaga toko fotokopi. Kini, ia diundang untuk berbicara di acara kampus, seminar kewirausahaan perempuan, bahkan talkshow di televisi nasional. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah—ia tetap Alya yang sama. Yang suka makan bakso gerobak, yang senang pakai sandal jepit, dan yang merasa cukup dengan satu genggaman tangan Reyhan di malam hari. --- Suatu malam, Reyhan mengajaknya berjalan di taman kota. Lampu-lampu jalan berkelap-kelip. Suasana romantis seperti adegan drama Korea favorit Alya. "Rey… kenapa kita di sini?" tanya Alya penasaran. Reyhan tersenyum. Ia berhenti di bawah pohon besar, lalu berlutut. Alya terbelalak. "Reyhan! Kita sudah menikah!" "Aku tahu," kata Reyhan sambil tertawa. "Tapi waktu itu kamu gak dapat momen ini, kan? Sekarang aku mau kasih… dengan cara yang layak." Dari sakunya, Reyhan mengeluarkan kotak kecil beludru merah. "Alya, maukah kamu terus menjadi istriku… bukan karena terpaksa, tapi karena cinta? Mulai sekarang, dan selamanya?" Alya tertawa sambil menangis. “Gila kamu ya… Tapi… ya. Aku mau.” Orang-orang di taman bertepuk tangan. Seorang anak kecil bahkan meniup terompet mainan, membuat semuanya makin meriah. --- Pulang ke rumah, Alya menemukan surat di meja kamar. Tulisan tangan Bu Ratna. > _Alya, Di dunia ini, tak semua perempuan bisa kuat tanpa menjadi keras. Tapi kamu bisa. Kamu mengajarkan aku bahwa menjadi lembut… bukan berarti lemah. Terima kasih karena telah mencintai anakku, dan keluarga ini. –Ibu_ Alya menangis lagi malam itu. Tapi ia tahu, air matanya bukan karena luka, tapi karena bahagia. --- Beberapa bulan berlalu. Alya dan Reyhan memutuskan membuka yayasan pendidikan untuk perempuan dari desa. Tujuannya sederhana—agar lebih banyak Alya lain di dunia ini. Yang tak hanya berani bermimpi, tapi juga melangkah. Di sebuah acara peresmian yayasan, Alya berdiri di atas panggung. Mengenakan batik sederhana, dengan raut wajah hangat. “Dulu saya merasa dunia tidak akan pernah adil pada perempuan seperti saya. Tapi sekarang saya tahu… keadilan bukan sesuatu yang kita tunggu. Tapi yang kita perjuangkan.” Dan sekali lagi, dunia bertepuk tangan untuknya. --- Di malam yang tenang, ketika semua orang tidur, Alya berdiri di balkon kamarnya. Reyhan memeluknya dari belakang. “Kita sudah jauh ya…” bisik Reyhan. Alya tersenyum. “Tapi aku ingin lebih jauh lagi. Bersamamu.” Bintang-bintang bersinar. Angin berhembus pelan. Dan di rumah itu—yang dulu terasa seperti istana asing—sekarang benar-benar menjadi tempat yang paling nyaman bagi Alya. Karena rumah… bukan soal dinding atau perabot mewah. Tapi tentang hati. Tentang tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri… dan dicintai tanpa syarat. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN